Jujur saja, adakah
diantara kamu yang nggak bisa skip menyetrika apapun jenis bajunya? Rasanya
kurang lengkap kalau cucian yang sudah kering belum tersentuh setrika? Ini satu
kebiasaan yang perlu dikoreksi lagi, ya. Karena faktanya, beberapa bahan
pakaian justru bisa rusak gara-gara panas dari setrika.
Bukannya jadi
rapi, pakaian malah bisa berubah bentuk, tekstur, bahkan ada jenis serat yang
meleleh. Itulah pentingnya mengetahui jenis bahan lebih baik tidak atau bahkan
pantang disetrika. Simak ulasan berikut ini, yuk!
Alasan utama
kenapa ada bahan pakaian yang tidak boleh disetrika adalah karena setiap kain
punya karakter sendiri. Ada yang kuat dan tahan panas, ada juga yang sangat
sensitif. Panas setrika yang terlalu tinggi bisa merusak ikatan serat kain,
menyebabkan penyusutan, atau menghilangkan tekstur alaminya.
Bahan sintetis,
misalnya, umumnya berasal dari turunan plastik. Saat terkena panas berlebih,
seratnya bisa mengeras atau meleleh. Sementara bahan alami seperti wol dan
kasmir memiliki struktur serat yang mudah berubah jika terkena panas langsung.
Belum lagi kain
dengan tekstur istimewa seperti velvet atau renda. Pada bahan seperti ini, tekanan setrika saja sudah cukup untuk
meninggalkan bekas permanen, meskipun suhunya tidak terlalu tinggi.
Jadi, menyetrika tidak selalu menjadi solusi terbaik untuk membuat pakaian
terlihat rapi.
Tidak semua
pakaian butuh sentuhan setrika agar terlihat rapi. Justru pada beberapa jenis
bahan, panas dan tekanan setrika bisa menjadi musuh utama. Alih-alih tampak
licin dan siap dipakai, kain bisa rusak secara perlahan.
Nah, biar kamu nggak
salah langkah, yuk kenali jenis bahan pakaian yang sebaiknya dijauhkan dari
setrika.
1.
Wol
Banyak orang mengira wol adalah bahan
yang kuat karena terlihat tebal. Padahal, wol termasuk bahan yang cukup
sensitif terhadap panas langsung. Jika disetrika dengan suhu tinggi, wol bisa
mengalami proses felting, di mana serat-seratnya saling mengunci dan
membuat kain menyusut serta mengeras.
Selain itu, panas setrika bisa
menghilangkan elastisitas alami wol. Akibatnya, pakaian tidak lagi jatuh dengan
bentuk yang semestinya. Inilah alasan mengapa jas atau mantel wol jarang,
bahkan hampir tidak pernah, disetrika langsung.
Untuk wol, uap adalah sahabat
terbaik. Bahkan, sering kali cukup dengan menggantung pakaian wol di ruangan
yang agak lembap, lipatan akan mengendur dengan sendirinya.
2.
Cashmere
Cashmere adalah salah satu bahan yang
sering bikin jatuh cinta sejak sentuhan pertama. Lembut, ringan, dan terasa
mewah. Tapi justru karena kelembutannya, cashmere sangat sensitif terhadap
panas.
Menyetrika cashmere bisa membuat
seratnya menjadi pipih dan kehilangan efek fluffy yang menjadi ciri khasnya.
Sekali teksturnya rusak, hampir tidak mungkin mengembalikannya seperti semula.
Panas setrika juga bisa membuat permukaan kain tampak mengilap dan terasa kaku.
Cara paling aman merawat pakaian
cashmere adalah dengan menggantungnya rapi setelah dicuci atau merapikannya
menggunakan uap ringan dari garment steamer. Uap membantu mengendurkan serat
tanpa merusaknya.
3.
Velvet
Velvet selalu berhasil memberi kesan
elegan dan mewah. Namun di balik tampilannya yang cantik, bahan ini termasuk
salah satu yang paling “rewel” soal perawatan.
Tekstur berbulu pada velvet sangat
mudah rusak jika terkena tekanan setrika. Sekali bulu-bulu halusnya tertekan
dan rata, bekasnya bisa permanen. Baik velvet berbahan katun maupun sintetis,
keduanya sama-sama tidak cocok disetrika secara langsung.
Kalau pakaian velvet terlihat kusut,
sebaiknya jangan panik dan langsung mengambil setrika. Gunakan garment steamer
dari jarak aman atau gantung pakaian di kamar mandi saat mandi air panas. Uap
akan membantu meluruskan lipatan tanpa merusak teksturnya.
4.
Sutra
Sutra memang terkenal dengan kilau dan
kelembutannya yang anggun. Tapi bahan ini juga dikenal sangat rapuh. Panas
setrika bisa membuat sutra menguning, meninggalkan bekas terbakar, atau
menimbulkan noda air yang sulit dihilangkan.
Kalaupun harus disetrika, sutra wajib
disetrika dalam posisi terbalik, dengan suhu paling rendah, dan menggunakan
kain pelapis. Meski begitu, risikonya tetap ada.
Pilihan yang lebih aman tetap
menggunakan uap. Dengan uap, lipatan bisa berkurang tanpa membuat serat sutra
“stres” akibat panas langsung.
5.
Bahan kulit
Baik kulit asli maupun kulit sintetis
sama-sama tidak boleh disetrika. Panas setrika dapat membuat kulit
menjadi kering, retak, dan berubah bentuk. Untuk kulit sintetis, risikonya
bahkan lebih ekstrem karena bahan ini bisa meleleh dan menempel pada alas setrika.
Jika pakaian berbahan kulit terlihat
kusut, solusi terbaik justru sangat sederhana: gantung dan biarkan gravitasi
bekerja. Dalam beberapa kasus, kelembapan udara ringan sudah cukup membantu
melunakkan lipatan.
Perlu diingat, penggunaan uap pada bahan
kulit dan suede juga tidak selalu aman. Kelembapan berlebih bisa meninggalkan
noda atau merusak permukaan bahan.
Pada akhirnya,
pakaian yang awet dan tetap nyaman dipakai bukan hanya soal seberapa sering
dicuci atau disetrika, tapi seberapa baik kita memahami bahannya. Setiap kain
punya cerita, karakter, dan kebutuhan perawatan yang berbeda. Apa yang aman
untuk satu bahan, belum tentu aman untuk bahan lainnya.
Supermodel: Dari Ikon Abadi sampai Era Nepo Baby — Kenapa Definisinya Kini Berubah?
5 Jenis Bahan Pakaian yang Pantang Disetrika
Cara Merawat Dompet Kulit Sintetis Agar Tidak Mudah Cracking
Sepatu Mary Jane dan Pesonanya yang Tak Pernah Usang
Tips Memilih Handuk Wajah Untuk Kulit yang Sehat
Cerdik! Ini 7 Strategi Rahasia Aerostreet Dalam Membangun Brandnya
Outfit Check ala Gen Z, Gaya Fashion Stylish yang Lebih Berkelanjutan
Jam Tangan Kesayanganmu Berembun? Coba Atasi Dengan Cara Ini!
Teknik Sunprint (Cyanotype), Cara Mencetak Motif Daun di Kain dengan Sinar Matahari
Mengenal Dunia Debutante: Lebih dari Sekadar Pesta, Ini Adalah Kiblat Fashion "Old Money"