Ketika Gaya
“Bapak-Bapak” Menjadi Fashion Statement
Selama bertahun-tahun, gaya
berpakaian para ayah sering dijadikan bahan lelucon dalam dunia fashion. Celana
jeans longgar, kaos sederhana, sepatu sneakers yang tidak terlalu modis, hingga
sweater rajut yang terlihat agak kuno sering dianggap sebagai simbol gaya yang
membosankan dan jauh dari tren.
Namun dalam beberapa tahun
terakhir, persepsi tersebut mulai berubah. Di media sosial, di jalanan kota
besar, hingga di panggung runway, muncul tren baru yang dikenal sebagai dadcore—sebuah gaya yang secara sadar
mengadopsi estetika berpakaian khas para ayah.
Alih-alih tampil glamor atau
terlalu modis, dadcore justru merayakan kesederhanaan. Pakaian yang tampak
praktis, sedikit usang, dan tidak terlalu dipikirkan kini justru dianggap
keren. Fenomena ini menunjukkan bagaimana dunia fashion sering bergerak secara
siklis: sesuatu yang dulu dianggap “tidak stylish” bisa kembali menjadi tren
ketika dilihat dari perspektif baru.
Estetika
Dadcore: Sederhana, Praktis, dan Sedikit Ketinggalan Zaman
Sumber: Pedro Pascal (GC Images / Getty Images)
Ciri utama dadcore adalah kesan
bahwa pakaian tersebut dipilih bukan untuk terlihat fashionable, melainkan untuk kenyamanan dan fungsi.
Beberapa elemen yang sering muncul
dalam gaya ini antara lain:
·
Jeans longgar atau celana dengan potongan santai
·
Kaos polos atau kaos grafis sederhana
·
Sweater rajut klasik
·
Jaket ringan yang praktis
·
Sneakers model lama atau yang dianggap “ugly sneakers”
Yang membuat gaya ini menarik
adalah justru kesan tidak terlalu
berusaha. Outfit dadcore biasanya terlihat seperti sesuatu yang dipakai
untuk aktivitas sehari-hari—pergi ke supermarket, berkebun, atau sekadar
berjalan santai di akhir pekan.
Dalam konteks fashion modern yang
sering dipenuhi styling berlebihan dan tampilan yang sangat terkurasi,
kesederhanaan ini terasa menyegarkan.
Reaksi
terhadap Fashion yang Terlalu Perfeksionis
Sumber: https://www.pinterest.com/
Popularitas dadcore tidak muncul
begitu saja. Banyak pengamat fashion melihatnya sebagai reaksi terhadap budaya
fashion digital yang semakin kompetitif.
Media sosial membuat orang merasa
harus selalu tampil sempurna: pakaian mahal, siluet yang mengikuti tren
terbaru, serta estetika yang terlihat “mahal”. Di tengah tekanan tersebut, sebagian
generasi muda mulai mencari alternatif yang terasa lebih santai dan autentik.
Dadcore menawarkan hal itu. Gaya
ini seolah mengatakan bahwa berpakaian tidak harus selalu terlihat mewah atau
trendi. Pakaian yang sederhana dan nyaman pun bisa menjadi bentuk ekspresi
diri.
Dalam banyak kasus, dadcore juga
dipandang sebagai kebalikan dari estetika seperti quiet luxury atau old money
aesthetic, yang sangat menekankan kesan elegan dan eksklusif.
Nostalgia
dan Imajinasi tentang Kehidupan yang Lebih Sederhana
Sumber: Harry Styles di Glastonbury festival
(Getty Images)
Faktor lain yang membuat dadcore
menarik adalah unsur nostalgia yang melekat di dalamnya. Figur ayah sering
diasosiasikan dengan kehidupan keluarga yang stabil, rutinitas sederhana, dan
momen santai seperti barbeque di halaman rumah atau perjalanan akhir pekan.
Ketika dunia terasa semakin cepat
dan tidak pasti, banyak orang justru merasa nyaman dengan estetika yang
mengingatkan pada masa yang lebih sederhana. Dadcore menghadirkan gambaran
kehidupan domestik yang tenang—sesuatu yang terasa kontras dengan dinamika
modern yang serba cepat.
Melalui pakaian, tren ini secara
tidak langsung mengekspresikan keinginan akan stabilitas dan kehangatan yang
sering diasosiasikan dengan kehidupan keluarga.
Ironi
Dadcore: Yang Memakainya Justru Generasi Muda
Sumber: https://thetab.com/
Menariknya, gaya ini tidak
dipopulerkan oleh para ayah itu sendiri. Sebaliknya, yang paling sering
terlihat mengenakan dadcore adalah generasi muda, terutama mereka yang berada
di usia belasan hingga dua puluhan.
Bagi mereka, dadcore menjadi cara
untuk tampil santai tanpa harus mengikuti standar fashion yang terlalu serius.
Ada semacam humor dan ironi dalam memilih pakaian yang secara tradisional
dianggap “tidak modis”.
Namun justru dari ironi itulah daya
tariknya muncul. Ketika seseorang terlihat tidak terlalu berusaha untuk tampil stylish, gaya tersebut bisa terasa lebih
autentik dan effortless.
Munculnya
Variasi Baru: “Divorced Dadcore”
Seiring berkembangnya tren ini,
muncul pula variasi estetika yang lebih spesifik. Salah satu yang mulai banyak
dibicarakan adalah divorced dadcore.
Gaya ini membangun narasi visual tentang seseorang yang sedang menjalani fase
hidup baru—tidak sempurna, tetapi tetap memiliki karakter.
Jika dadcore klasik menggambarkan
sosok ayah yang santai dan praktis, divorced
dadcore menghadirkan nuansa yang sedikit lebih dramatis. Estetikanya sering
diasosiasikan dengan pakaian yang tampak sedikit berantakan atau melankolis:
jaket suede lama, kaos band vintage,
atau celana yang potongannya agak longgar.
Ketika
“Biasa Saja” Justru Terlihat Keren
Dadcore menunjukkan bahwa fashion
tidak selalu tentang tampil mencolok atau mengikuti tren paling baru.
Kadang-kadang, justru gaya yang paling sederhana bisa terasa paling relevan.
Dengan meminjam estetika berpakaian
para ayah, generasi muda menemukan cara baru untuk mengekspresikan diri: lebih
santai, lebih autentik, dan tidak terlalu terikat pada standar fashion yang
kaku.
Pada akhirnya, popularitas dadcore
mengingatkan kita bahwa dalam dunia fashion, apa yang dianggap “tidak stylish”
hari ini bisa saja menjadi tren besar di masa depan.
Kisah Inspiratif Bhavitha Mandava, Dari Penumpang Kereta Jadi Brand Ambassador Chanel
Dadcore, Nostalgia Fashion, dan Mengapa Generasi Muda Berpakaian Seperti Bapak-Bapak
Goodyear Welted, Rajanya Konstruksi Sepatu Kulit Premium yang Awet dan 'Bandel'
8 Jenis Hanger dan Fungsinya Yang Perlu Kamu Tahu!
Ketika Costume Designer Menjadi Influencer Baru di Dunia Fashion
Trousers vs Pants, Apa Sih Bedanya?
Selalu Hadirkan Kebersamaan, Ini 5 Fakta Menarik Tentang Baju Sarimbit
Male Gaze vs Female Gaze dalam Fashion. Siapa yang Sebenarnya “Dilihat” oleh Gaya Berpakaian?
Gak Perlu Ribet Mix-and-Match! Tren Gamis Pria Untuk Tampil Rapi & Maskulin Secara Instan
Neo-Minimalism, Tentang Fashion yang Menenangkan