Kalau melihat motif loreng
berwarna hijau, cokelat, hitam, atau krem, kebanyakan orang mungkin langsung
teringat pada seragam tentara. Polanya memang lekat dengan dunia militer.
Namun, ketika motif yang sama muncul pada jaket, celana cargo, sneakers, tas hingga
koleksi fashion, namanya berubah menjadi camo.
Lantas, kenapa kain motif loreng
disebut camo? Dan apakah keduanya benar-benar sama? Berikut penjelasannya.
Berikut penjelasannya!
Istilah 'Camo' berasal dari kata camouflage yang berarti penyamaran. Dalam
konteks militer, pola ini digunakan untuk membantu seseorang atau benda menyatu
dengan lingkungan sehingga lebih sulit dikenali. Karena tujuan tersebut, warna
yang digunakan biasanya mengambil inspirasi dari lingkungan sekitar, seperti
hijau, cokelat, abu-abu, dan hitam.
Meski begitu, camouflage tidak memiliki satu bentuk yang baku.
Polanya bisa berupa bercak berukuran besar, bentuk menyerupai daun, kotak-kotak
kecil seperti piksel, hingga perpaduan warna tertentu yang dibuat untuk
menyesuaikan lingkungan.
Jadi, ketika istilah camo digunakan dalam pakaian, yang dimaksud adalah corak yang terinspirasi dari desain camouflage, bukan nama jenis kain tertentu.
Hubungannya bermula dari penggunaan pola camouflage pada pakaian
dan perlengkapan militer. Seragam dengan desain tersebut dibuat agar tidak
terlalu mencolok ketika dikenakan di lingkungan tertentu. Warna hijau dan
cokelat, misalnya, lebih mudah berpadu dengan pepohonan, tanah, serta semak-semak.
Tampilan seperti inilah yang kemudian melekat kuat dalam ingatan masyarakat. Ketika coraknya digunakan pada pakaian sipil, orang pun lebih mudah mengenalinya sebagai pola loreng. Padahal, tidak semua camouflage berbentuk loreng. Begitu pula sebaliknya, tidak setiap pola loreng merupakan camouflage.
Kombinasi hijau tua, cokelat, hitam, dan krem memang menjadi salah satu
tampilan yang paling mudah dikenali. Namun, warna bukan satu-satunya penentu.
Desain camouflage dapat dibuat dengan karakter yang berbeda sesuai
lingkungan penggunaannya. Ada pola bernuansa hijau untuk kawasan hutan, warna
pasir untuk gurun, hingga desain digital yang tersusun dari bentuk-bentuk
kecil.
Ketika diadaptasi ke pakaian, penggunaannya menjadi jauh lebih bebas. Warna dapat diubah mengikuti tren dan konsep desain tanpa harus mempertahankan tampilan seperti seragam militer. Karena itu, pakaian camo tidak harus berwarna hijau dan cokelat.
Perubahan paling menarik terjadi ketika corak penyamaran mulai digunakan
di luar kebutuhan militer. Pada seragam, pola tersebut memiliki tujuan praktis:
membuat pemakainya lebih sulit dikenali. Sementara dalam pakaian sehari-hari,
fungsi itu hampir tidak lagi menjadi pertimbangan.
Yang dipertahankan justru karakter visualnya. Pola yang cukup ramai dan
mudah dikenali membuatnya mampu memberikan aksen kuat pada pakaian. Tidak
mengherankan jika corak ini kemudian muncul pada kaus, jaket, celana cargo,
topi, sepatu, hingga berbagai aksesori.
Dengan begitu, sesuatu yang awalnya dirancang agar pemakainya tidak mudah terlihat justru berubah menjadi cara untuk menonjolkan penampilan.
Karakter tersebut membuatnya cukup mudah ditemukan dalam gaya kasual dan streetwear.
Celana cargo dengan corak ini, misalnya, dapat dipadukan dengan kaus
polos dan sneakers. Jaket bermotif serupa juga bisa menjadi titik perhatian
ketika dikenakan bersama pakaian berwarna netral.
Tak perlu menambahkan banyak elemen karena polanya sendiri sudah cukup
kuat.
Itulah sebabnya penggunaannya dalam pakaian modern lebih berkaitan dengan
identitas gaya daripada fungsi penyamaran. Satu potong saja sudah dapat
mengubah tampilan yang sederhana menjadi lebih berkarakter.
Jadi, ketika kamu menemukan
pakaian dengan corak hijau, cokelat, hitam, atau warna lain yang terinspirasi
dari seragam kamuflase tentara camo sebenarnya merujuk pada asal dan konsep polanya.
Sementara “loreng” lebih menggambarkan bagaimana corak tersebut terlihat secara
kasatmata.
Maximalist vs Avant-Garde: Kenapa Fashion yang “Gila” Sering Bikin Bingung?
Kenapa Motif Loreng Disebut Camo? Ini Asal-usulnya!
Atelier vs Butik, Apa Sih Bedanya?
5 Tren Menswear dari Milan Fashion Week SS27: Saat Gaya Pria Makin Berani
Kenapa Serat Kain Satin Mudah Tertarik? Ini Penyebab Snag dan Cara Mencegahnya
Mengenal Kain Bouclé, Rahasia Tekstur Mewah di Balik Jaket Chanel
Arah Serat Kain (Grainline): Pengertian, Jenis, dan Fungsinya
Beauty Milan Fashion Week SS27: Saat Glamour Jadi Lebih Berantakan
Sambut Hari Batik Nasional, Kampung Giriloyo Siap Perkenalkan 14 Motif Batik Tulis Baru
Mewah Tanpa Logo Besar, Ini Rahasia di Balik Gaya Elegan Massimo Dutti