Bahas fashion itu bukan hanya soal
tren dan penampilan. Di balik runway
dan koleksi desainer, ada berbagai isu etika yang terus diperdebatkan, salah
satunya penggunaan material yang berasal dari hewan.
Selama puluhan tahun, PETA (People for the Ethical Treatment of
Animals) menjadi salah satu organisasi yang paling vokal mengangkat isu
tersebut. Melalui demonstrasi, kampanye provokatif hingga aksi di fashion show, mereka berusaha mengubah
cara industri dan konsumen memandang material seperti fur (bulu binatang), leather (kulit),
dan wool.
Menariknya, kampanye tersebut tidak
hanya memicu perdebatan, tetapi juga ikut mengubah posisi material tertentu
dalam industri fashion.
Dari Fur,
Material Mewah yang Mulai Ditinggalkan
Sumber: www.cbsnews.com
Salah satu kampanye PETA yang paling terkenal adalah “I’d Rather Go Naked Than Wear Fur”, yang diluncurkan pada tahun 1990-an dengan menampilkan selebritas dan model untuk menyampaikan pesan anti-fur. Strateginya cukup unik: PETA menggunakan bahasa visual fashion—selebritas, tubuh, dan daya tarik visual—untuk mengkritik industri fashion itu sendiri.
Selama bertahun-tahun, kampanye anti-fur semakin memengaruhi persepsi
publik. Fur yang sebelumnya identik
dengan kemewahan dan status mulai dikaitkan dengan isu kesejahteraan hewan. Perubahan
tersebut akhirnya masuk ke kebijakan industri. CFDA (Council of Fashion Designers of America) mengumumkan bahwa
mulai New York Fashion Week September 2026, fur
dari hewan yang dibunuh khusus untuk diambil bulunya tidak diperbolehkan dalam
koleksi yang masuk Official NYFW Schedule.
Sekarang,
Wool Ikut Dipersoalkan
Sumber: fashionista.com
Setelah fur, perhatian PETA kini semakin banyak diarahkan pada wool. Sekilas, wool memang berbeda. Domba tidak perlu dibunuh untuk mendapatkan
bulunya dan pencukuran bahkan merupakan bagian dari perawatan domba yang dibesarkan
untuk menghasilkan wool.
Sumber: vethelpdirect.com
Namun, PETA menyoroti bagaimana
hewan diperlakukan dalam proses produksinya. Salah satu isu yang sering dibahas
adalah mulesing, yaitu prosedur
pengangkatan kulit di sekitar bagian belakang domba untuk mengurangi risiko
serangan lalat tertentu. PETA juga melakukan berbagai investigasi terhadap
industri wool dan menyoroti dugaan
kekerasan terhadap hewan. Karena itu, bagi kelompok seperti PETA, persoalannya
bukan hanya apakah hewan tersebut dibunuh, tetapi juga bagaimana hewan
diperlakukan untuk menghasilkan material fashion.
Apakah
Bahan Alami Selalu Lebih Sustainable?
Sumber: themerinopolo.com.au
Di sinilah persoalannya menjadi
lebih kompleks. Wool yang selama ini
dikenal sebagai material alami, hangat, tahan lama dan dapat diperbarui. Namun,
bukan berarti seluruh produksi wool
otomatis bebas masalah. Justru sebaliknya, mengganti wool dengan material sintetis seperti polyester juga memiliki konsekuensi. Polyester berasal dari bahan bakar fosil dan memiliki persoalan
lingkungan tersendiri.
Jadi, menganggap semua bahan alami
pasti sustainable atau semua bahan
sintetis pasti buruk juga terlalu sederhana. Penilaian seharusnya
mempertimbangkan keseluruhan siklus hidup material, mulai dari sumber bahan
baku, proses produksi, penggunaan energi dan air, daya tahan hingga bagaimana
produk tersebut berakhir setelah tidak digunakan.
Ketika
Aktivisme Mulai Mempengaruhi Industri
Perdebatan mengenai material
fashion bahkan bisa berujung pada konsekuensi yang lebih besar.
Sumber: fashionista.com
Pada September 2026, aksi PETA di
pertunjukan COS saat New York Fashion Week menjadi sorotan setelah terjadi
insiden antara demonstran dan Steven Kolb, yang saat itu menjabat sebagai CEO
CFDA. Yang berujung dengan Kolb kemudian mengundurkan diri dari posisinya.
Peristiwa ini menunjukkan bahwa
aktivisme fashion kini tidak hanya berlangsung di luar venue. Isu kesejahteraan hewan, material dan etika produksi dapat
memengaruhi reputasi brand hingga kebijakan organisasi fashion. Dan pada
akhirnya, perubahan terbesar dari kampanye seperti ini bukan hanya soal apakah
sebuah material masih digunakan atau tidak. Aktivisme juga dapat mengubah cara
masyarakat memandang material tersebut.
Sumber: briefly.co.za
Fur adalah salah satu contohnya. Dulu menjadi simbol kemewahan,
kini penggunaannya semakin kontroversial. Wool
pun mulai menghadapi perdebatan serupa, meskipun persoalannya jauh lebih
kompleks. Karena itu, ketika membicarakan fashion berkelanjutan, mungkin
pertanyaan yang lebih tepat bukan sekadar “material mana yang paling ramah
lingkungan?”, tetapi “bagaimana material tersebut diproduksi dan digunakan
secara lebih bertanggung jawab?”
Kalau kamu tertarik dengan
pembahasan yang semacam ini, atau ingin mengenal dunia tekstil dan fashion
lebih jauh, jelajahi artikel-artikel BahanKain.com
lainnya yang juga menghadirkan berbagai informasi seputar pengetahuan
tekstil, sejarah fashion, perkembangan industri, berita, hingga tren terkini.
Jadi, kalian bukan cuma bisa mencari bahan kain, kamu juga bisa belajar dan memahami
cerita dan perkembangan di baliknya.
Baca juga: NYFW Resmi Larang Bulu Hewan Mulai 2026, Dunia Fashion Masuki Era Fur-Free
Dari Fur ke Wool: Ketika Aktivisme Mengubah Fashion
Batik Berlayar Meriahkan Perayaan Hari Batik Nasional 2026 di Surabaya
Undone Fashion: Saat Gaya “Berantakan” Justru Jadi Tren para Selebritas di MTV VMAs 2026
Apa Itu Girdle? Kenali Fungsi dan Perbedaannya dengan Korset
9 Cara Merawat Pashmina Viscose yang Benar
Maximalist vs Avant-Garde: Kenapa Fashion yang “Gila” Sering Bikin Bingung?
Kenapa Motif Loreng Disebut Camo? Ini Asal-usulnya!
Atelier vs Butik, Apa Sih Bedanya?
5 Tren Menswear dari Milan Fashion Week SS27: Saat Gaya Pria Makin Berani
Kenapa Serat Kain Satin Mudah Tertarik? Ini Penyebab Snag dan Cara Mencegahnya