Fashion kini bukan hanya soal mengikuti
tren atau memilih pakaian yang serasi. Tetapi juga menjadi cara untuk
mengekspresikan imajinasi, kepribadian, hingga dunia fantasi yang mereka sukai.
Dan dari sinilah muncul berbagai estetika unik, termasuk whimsy dan whimsygoth
fashion yang belakangan ini juga mulai dilirik para Gen Z.
Meski sama-sama mengusung nuansa
fantasi, namun karakter keduanya cukup bertolak belakang, lho. Lantas, bagaimana
karakter whimsy dan whimsygoth
fashion? Simak ulasan berikut ini, yuk!
Whimsy fashion adalah gaya berpakaian yang mengutamakan kreativitas, keunikan, dan kesan imajinatif. Istilah whimsy sendiri merujuk pada sesuatu yang jenaka, tidak biasa, atau lahir dari imajinasi. Konsep tersebut diterjemahkan lewat pemilihan warna, motif, siluet, dan aksesori yang tidak terikat pada aturan berpakaian konvensional.

Sumber: https://fizzymag.com/
Estetika whimsy memberi ruang
eksperimen yang dramatis seperti di film Penelope
dan Alice in Wonderland. Pita
berukuran besar, rok mengembang, kaus kaki bermotif, hingga perpaduan warna
kontras menjadi bagian dari cerminan karakter pemakainya.
Berikut beberapa ciri paling khas dari estetika fashion
whimsy:
Warna pastel, merah cerah, kuning, hingga kombinasi
warna yang kontras dapat digunakan untuk menciptakan tampilan yang menarik.
Motif bunga, polkadot, ilustrasi, dan gambar fantasi juga sering menjadi
pilihan.
Busana dengan aksen ruffle, lengan puff, rok
mengembang, serta detail pita memberikan kesan manis sekaligus eksentrik.
Namun, whimsy tidak terbatas pada busana-busana feminin karena gaya ini juga
bisa diterapkan melalui potongan pakaian yang lebih kasual atau maskulin.
Gabungkan motif berbeda, padu padan pakaian vintage dan
item modern, atau aksesori yang kontras bisa menampilkan karakter personal.
Tas dengan bentuk tidak biasa, jepit rambut dekoratif, kaus
kaki bermotif, dan perhiasan artistik dapat memperkuat kesan imajinatif.
Menariknya, whimsy fashion
tidak punya formula warna atau siluet yang mutlak. Gaya ini bisa bersinggungan
dengan estetika cottagecore, retro, fairycore, maupun gaya eklektik. Bukan sekedar
warna cerah atau detail lucu, tetapi bagaimana keseluruhan item berpadu dan
memberi kesan imajinatif.
Beda dari estetika whimsy yang
terkesan ceria, whimsigoth fashion menghadirkan dunia fantasi dengan suasana
yang gelap dan misterius. Gaya ini memadukan estetika whimsical dan gothic,
bersama sentuhan romantis, vintage, serta bohemian.
Whimsigoth menggambarkan estetika busana di film-film fantasi gelap (misal: Practial Magic, The Craft) yang cukup dekat dengan estetika budaya populer di era 1990-an. Bayangkan visual gaun beludru warna ungu tua, rok mengembang, atasan berlengan lonceng, serta liontin berbentuk bulan atau bintang. Satu rangkaian penampilan yang dramatis tanpa kesan yang terlalu kaku.
Selain itu, berikut beberapa
karakteristik utama whimsygoth fashion:
Hitam, burgundy, ungu tua, hijau zamrud, dan biru
malam jadi pilar utama untuk membangun suasana misterius. Padukan dengan warna
netral atau aksesoris yang lebih terang sebagai aksen.
Tekstur unik pada beludru, renda, chiffon, mesh, dan
kain rajut memberi dimensi visual sekaligus memperkuat kesan vintage. Perbedaan
tekstur turut menciptakan tampilan berlapis yang jadi daya tarik gaya ini.
Gaun panjang, rok maxi, cardigan longgar, shawl, serta
atasan berlengan lonceng menampilkan visual yang romantis dan sedikit
teatrikal.
Corak astronomis serta unsur alam seperti bulan,
bintang, matahari, simbol astrologi, serta motif bunga digunakan untuk mempertegas
nuansa mistis. Elemen-elemen ini sering dipadukan dengan aksesori vintage.
Estetika whimsygoth juga lekat dengan aksesori-aksesori bermotif
celestial, iontin perak, cincin artistik, serta kalung ornamen. Mereka hadir
sebagai sentuhan akhir untuk mempertegas penampilan.
Intinya, perbedaan
antara whimsy dan wimsygoth fashion terletak pada cenderung
menonjolkan kesan playful, eksentrik, dan penuh warna. Sedangkan whimsygoth
memadukan imajinasi tersebut dengan nuansa gothic yang gelap, romantis, dan
misterius.
Meski bergitu, batas antara
keduanya tidak terlalu kaku. Detail pita, motif bunga, atau rok panjang bisa
hadir dalam estetika whimsy maupun whimsigoth. Hanya warna dan cara mengolahnya
saja yang berbeda. Pita merah muda dengan rok bermotif cerah, misalnya, bisa
menampilkan karakter nyentrik ala whimsy. Sementara, pita hitam yang dipakai bersama
gaun beludru dan perhiasan bulan lebih dekat dengan estetika whimsygoth.
Sudah tahu kan bedanya? Jadi,
mana yang menurutmu paling sesuai dan paling mungkin untuk kamu coba? Apapau
pilihannya, pastikan kamu merasa nyaman dan tetap menjadi dirimu sendiri, ya.
Selamat mencoba, Sobat Bahankain!
Berapa Meter Kain Kafan yang Dibutuhkan untuk Satu Jenazah? Ini Perkiraannya!
Fantasy Bra: Ketika Bra Berubah Jadi Perhiasan Bernilai Rp800 Miliar
Whimsy dan Whimsygoth Fashion, Estetika Nyentrik yang Terinspirasi Dunia Fantasi
Kenapa Niche Bisnis Fashion Komunitas Lebih Menguntungkan? Ini Jawabannya!
LYCRA Kembangkan Spandeks Berbahan Nabati dan Teknologi Daur Ulang
Kok Ada Kain yang Adem di Kulit, tapi Bikin Gerah Saat Dipakai?
Transaksi Selesai Bukan Berarti Urusan Berakhir! Ini Pentingnya After Sales
Macam-macam Teknik Degumming dalam Pengolahan Sutra
Semakin Besar, Semakin Mewah? Rahasia Lengan Baju dalam Sejarah Fashion
Mengenal Pewarna Reaktif: Pengertian, Cara Kerja, dan Karakteristiknya