Peralihan gaya berpakaian adalah suatu hal lumrah karena mengikuti alur teknologi yang terus berkembang. Tren berbusana pun terus mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Sebuah ‘tren’ yang muncul tentu disertai praktek oleh para penggemar.
Diantara banyaknya tren di dunia
mode, ada yang mencerminkan keunikan dan kreativitas manusia. Tapi ada juga
yang justru mendatangkan bahaya. Mirisnya, tak sedikit dari mereka berakhir di
jurang kematian karena mengikuti tren tersebut. Dan mayoritas adalah kaum
wanita yang sangat menyukai keindahan serta kesempurnaan.
Berikut beberapa diantaranya!
1.
Korset
Salah satu tren mode yang paling ikonik tapi berbahaya adalah korset. Pada tahun 1800an, pinggang kecil menjadi simbol kecantikan wanita. Itulah kenapa banyak perempuan tergila-gila dengan korset yang akan menekan pinggang sehingga menghasilkan ilusi bentuk tubuh ideal.

Zaman dulu bentuk korset sangat ketat, rangkanya pun
cukup berat. Dipastikan wanita yang memakainya akan kesulitan bernapas hingga
pingsan. Organ dalam mereka juga mengalami kerusakan karena tekanan korset.
Mulai dari gangguan syaraf, gangguan pencernaan, konstipasi sampai patahnya
tulang rusuk dan kematian.
Tahun 1874, muncul 97 daftar penyakit akibat pemakaian
korset. Kemudian pada 1903, Mary Halliday, ibu enam anak asal Amerika, tiba-tiba
kejang dan meninggal karena korset.
2.
Chopine
Sejarah high heels atau sepatu hak tinggi dimulai sekitar abad ke-16 di Italia. Sepatu dengan platform tinggi dikenal dengan sebutan ‘chopines’. Heels sepatu sangat tebal tapi diletakkan tepat di tengah-tengah sepatu.

Bahkan, tinggi hak atau solnya mencapai 50 cm membuat
pemakainya kesulitan berjalan dan mudah terjatuh. Di luar popularitasnya,
chopine sering menyebabkan kecelakaan yakni tersandung dan jatuh.
3.
Rok Crinoline
Tren crinoline muncul di era Victorian, tepatnya tahun 1856. Wanita pada zaman itu sangat suka memakai pakaian dalam yang disebut crinoline yaitu sejenis dalaman rok berbentuk kerucut. Kerangkanya terbuat dari anyaman besi dan dipasang di bawah gaun untuk memberikan efek bervolume.

Disatu sisi Crinoline memang membuat wanita tampak
anggun. Tetapi itu juga membuat mereka kesulitan berjalan dan merasa panas
karena baju yang berlapis-lapis. Risiko kematian pun tinggi, mengingat sifat
bahan dasar Crinoline yang sangat mudah terbakar.
Setidaknya 3.000 nyawa wanita melayang terbakar saat
memakainya. Bahaya potensial lainnya termasuk tersangkut oleh mesin atau
ditarik di bawah roda kereta yang bergerak cepat.
4.
Gaun basah dari kain muslin
Awal abad 19 muncul sebuah tren mengenakaan gaun muslin berbahan dasar kain katun yang sangat tipis di kalangan wanita. Ekstrimnya, mereka akan membasahi baju tersebut agar lekuk tubuh mereka lebih terlihat.

Gaun basah kuyup itu dipakai selama seharian penuh. Akibatnya,
ribuan wanita menderita pneumonia hingga meregang nyawa karena mengikuti tren
itu.
5.
Gaun hijau dari cat arsenik
Tahun 1800-an, gaun hijau yang diwarnai menggunakan cat berbahan arsenik menjadi incaran para fashionista. Bubuk berwarna hijau emerald itu dikenal dengan nama Paris Green dan kerap digunakan untuk mewarnai tirai atau gaun.

Namun, ada harga yang harus dibayar karena penggunaan
zat kimia ini. Sebab, paparan arsenik pada kulit menimbulkan kudis, diare,
sakit kepala dan meningkatkan risiko kanker.
6.
Kerah tinggi yang kaku
Diciptakan pada abad ke-19, muncul satu tren kerah kaku yang bisa dilepas pasang yang membuat pria tidak perlu mengganti kemeja setiap hari. Namun, fesyen ini juga membawa petaka karena menghambat pasokan darah ke arteri karotid.

Kaum lelaki menggunakannya sebagai perhiasan saat mendatangi
kelab, minum beberapa gelas port dan mulai tercekik saat kepalanya bergerak ke
depan. Berita duka dari tren ini terjadi tahun 1888 di New York ketika John
Cruetzi ditemukan meninggal di taman. Kuat dugaaan pria tersebut minum alkohol
lalu duduk di bangku, dan tertidur. Kepala tertunduk sehingga kerah kaku yang
dipakainya menghambat aliran darah.
7.
Sepatu Lotus
Dinasti Song hingga tahun 1912 kaum wanita China terobsesi dengan bentuk kaki kecil dan sepatu lotus yang panjangnya hanya 4 inci. Alasan itulah yang mendorong mereka memulai tradisi foot binding atau bedong kaki. Padahal kebiasaan ini sangat menyakitkan. Tak sedikit nyawa melayang karena infeksi maupun patah tulang.

Dalam tradisi foot binding, wanita menggunakan kain atau
perban untuk membalut kaki setiap hari selama 2 tahun. Kebiasaan tersebut mereka
lakukan di antara usia 4 dan 9 tahun.
8.
Tudor Ruff
Tudor ruff merupakan aksesoris leher favorit Ratu Elizabeth 1 dan menjadi benda paling ikonik saat itu. Benda ini tak memiliki fungsi apapun selain membuat leher tidak nyaman serta berpotensi membahayakan karena jumlah pin yang disunakan untuk mempertahankan bentuknya.

Walaupun ikonik, aksesori tersebut sangat menyiksa
karena mencekik pemakainya. Kerah menyesakkan itu dibuat dari beberapa lapis
hiasan berbahan kain renda dan linen. Desainnya jadi lebih menarik dengan aksen
hias berlian dan emas.
9.
Rok sempit
Di awal abad 20, ada tren yang membuat para perempuan menggunakan rok sempit. Bukan rok pendek. Memaksa para perempuan untuk melangkah kecil dan perlahan, ternyata rok ini membawa beberapa petaka. Beberapa perempuan mengalami kecelakaan, yang mana mereka terjatuh dan meninggal dunia.

Style yang dipopulerkan oleh designer Paul Poiret, adalah
jenis rok panjang yang menyempit di bagian mata kaki dan kadang ada ikatan di
bawah lutut. Memakai rok ini sangat menghalangi gerakan pada wanita dan bisa
berakibat cedera. Sesuai namanya (hobble = pincang), rok ini membuat pemakainya
terpincang-pincang dengan langkah-langkah kecil saat berjalan. Hal itu
disebabkan karena bagian bawah rok dibuat sesempit mungkin.
Mengenal Boning, Rangka Tersembunyi yang Bikin Korset Tetap Kokoh
Menelusuri Jejak Sepatu Tabi, Dari Tradisi Jepang Hingga Pemilihan Material Terbaiknya
Tren 'Sepatu Tanpa Sol': Inovasi High Fashion Masa Kini atau Sekadar Rage Bait?
Kenapa Wool Bisa Memunculkan Efek Listrik Statis? Ini Penjelasannya!
Baju Runway Kelihatan "Aneh" dan Gak Masuk Akal? Ternyata Ini Alasan Rahasianya!
Fenomena Comeback Coach, Bagaimana "Brand Mall" Berevolusi Jadi King of Accessible Luxury
New Zealand Fashion Week 2026, Ketika Identitas Lokal Bertemu dengan Fashion Kontemporer
Kenapa Setiap Olahraga Punya Baju Berbeda? Ternyata Ada Hubungannya dengan Kelas Sosial
5 Kesalahan Layering yang Bikin Outfit Terlihat Berantakan
Kenapa Kain Ripstop Jadi Andalan Produk Outdoor Gear? Ini Alasannya!