Pernah lepas sweater wol lalu
dengar bunyi "krek-krek" kecil sambil rambut jadi berdiri? Atau
tersetrum ringan saat menyentuh gagang pintu setelah seharian pakai jaket wol?
Fenomena ini bukan kebetulan, dan bukan juga tanda ada yang aneh dengan tubuh
kita.
Wol memang salah satu bahan yang
paling gampang memicu listrik statis, dan ada penjelasan ilmiah yang cukup
menarik di baliknya.
Setiap kali dua permukaan
bergesekan, ada perpindahan elektron yang terjadi di antara keduanya. Fenomena
ini disebut efek triboelektrik, dan setiap material punya
"kepribadian" berbeda dalam hal ini—ada yang cenderung melepas
elektron, ada yang cenderung menyerapnya.
Wol termasuk bahan yang paling
royal melepaskan elektron. Ketika serat wol bergesekan dengan bahan lain,
seperti plastik, sintetis, atau bahkan kulit kita sendiri, elektron dari
permukaan wol berpindah ke bahan pasangannya. Wol jadi kekurangan elektron dan
bermuatan positif, sementara bahan lawannya jadi kelebihan elektron dan
bermuatan negatif.
Ketimpangan muatan inilah yang kita rasakan sebagai listrik statis. Bisa berupa rambut yang tiba-tiba berdiri, percikan kecil saat menyentuh benda logam, atau pakaian yang menempel aneh di badan.
Listrik statis pada wol lebih sering muncul saat cuaca dingin atau di
ruangan yang kering, dibanding saat udara lembap. Air di udara berfungsi
sebagai penghantar yang membantu muatan listrik menyebar dan menetralkan diri
secara alami. Saat kelembapan tinggi, listrik statis jarang terasa mengganggu.
Begitu udara jadi kering, potensi terjadinya listrik statis pun meningkat.
Kalau dilihat di bawah mikroskop, permukaan serat wol
tidak halus seperti katun atau sutra. Ada lapisan sisik-sisik kecil yang
membuat teksturnya kasar. Struktur inilah yang membuat gesekan antar serat,
atau antara wol dengan bahan lain, jadi jauh lebih intens dibanding serat yang
permukaannya licin.
Dalam deret triboelektrik, material diurutkan
berdasarkan kecenderungannya melepas atau menyerap elektron. Wol berada di
ujung yang gampang melepas elektron, sementara bahan seperti akrilik dan
poliester berada di ujung yang cenderung menyerapnya. Karena itu, kombinasi
sweater wol dengan jaket berbahan sintetis jadi salah satu skenario paling
sering bikin nyetrum.
Ini yang sering luput diperhatikan. Wol sebenarnya termasuk
serat yang cukup baik menyerap kelembapan dari udara. Tapi di kondisi udara
kering, misalnya saat musim kemarau atau di ruangan ber-AC terus-menerus,
kelembapan di permukaan kain berkurang drastis. Padahal kelembapan berperan
penting membantu muatan listrik berlebih "mengalir pergi" alih-alih
menumpuk di permukaan serat. Saat kelembapan rendah, muatan jadi lebih mudah
terperangkap dan menumpuk, sehingga efek statisnya terasa lebih kuat.
Listrik statis pada wol bukan tanda kualitas bahan yang buruk. Ini murni
karakter alami dari struktur seratnya. Justru karakter itulah juga yang membuat
wol punya keunggulan lain, seperti kemampuan isolasi panas serta daya tahan yang
baik. Fitur yang menjadikannya sebagai material favorit untuk sweater, jaket,
hingga jas formal.
6 Tren Fashion yang Bikin Outfit Terlihat Mahal Tanpa Bikin Boncos
Garuda Indonesia X EIGER Sulap Rompi Pelampung Bekas Jadi Tas
Kenapa Brand Fashion Besar Kebanyakan Berasal dari Eropa?
Cara Menjaga Lem Sepatu Tetap Awet agar Sol Tidak Mudah Terlepas
Kenapa Lap Kacamata Selalu Dibuat dari Kain Microfiber? Ini Faktanya!
Sama-sama Dipakai Untuk Logo, Ini Bedanya Emblem Bordir dan Emblem Woven
Perbedaan Top Note, Middle Note, dan Base Note pada Parfum
Victoria’s Secret Angel Wings: Bukan Sekadar Sayap, Ini Rahasia di Balik Ikon Fashion Show!
Dari Seragam sampai Celana Tongkrongan, Ini Alasan American Drill Selalu Dipilih Sebagai Bahan Celana
Berapa Meter Kain Kafan yang Dibutuhkan untuk Satu Jenazah? Ini Perkiraannya!