Di era ketika wellness culture semakin mendominasi gaya hidup modern, ada satu
kontradiksi visual yang masih bertahan kuat di dunia fashion: obsesi terhadap imagery rokok.
Belakangan ini, orang semakin sadar
soal kesehatan. Pilates aesthetic, clean eating, skincare, hingga konsep longevity
menjadi bagian dari aspirasi hidup generasi modern. Bahkan budaya pesta dan
konsumsi alkohol pun mulai mengalami penurunan di beberapa kalangan muda. Namun
anehnya, di tengah perubahan itu, visual rokok masih terus muncul dalam
editorial fashion, kampanye brand, foto street style, sampai unggahan media
sosial para fashion insiders.
Bukan sebagai produk utama,
melainkan sebagai prop.
Sebatang rokok yang dipegang santai
di antara jari. Asap tipis yang mengaburkan frame. Gesture menyalakan korek
api. Semua detail kecil itu masih dianggap memiliki daya tarik visual
tertentu—sesuatu yang terasa sinematik, misterius, dan “cool”.
Padahal secara sosial, citra
merokok sudah jauh lebih negatif dibanding beberapa dekade lalu. Jadi kenapa
dunia fashion tampaknya belum benar-benar melepaskan estetika ini?
Rokok dan
Ilusi “Effortless Cool”
Sumber: www.freepik.com
Fashion selalu tertarik pada
orang-orang yang terlihat seperti tidak terlalu berusaha, tetapi tetap
memancarkan aura stylish yang kuat. Dalam dunia mode, kesan seperti itu sering
disebut sebagai effortless cool. Dan
secara visual, rokok bekerja sangat efektif untuk membangun ilusi tersebut.
Seseorang yang berdiri memakai kaus
putih polos dan jeans mungkin terlihat biasa saja. Tapi tambahkan rokok di
tangan, lalu ubah pencahayaan menjadi sedikit muram dan sinematik, tiba-tiba
keseluruhan atmosfernya berubah. Ada kesan nonchalant,
rebellious, bahkan sedikit emotionally detached.
Dunia fashion sudah lama jatuh
cinta pada tipe karakter seperti ini—orang-orang yang terlihat terlalu dingin
untuk mencoba terlalu keras. Dan rokok menjadi semacam visual shorthand untuk menyampaikan karakter tertentu tanpa perlu
penjelasan panjang.
Kenapa
Rokok Sangat Fotogenik?
Sumber: www.pinterest.com
Secara teknis, rokok memang punya
kualitas visual yang unik dalam fotografi.
Salah satu alasan paling sederhana
adalah karena rokok memberi “fungsi” pada tangan. Dalam fotografi portrait atau
editorial, tangan sering menjadi bagian yang awkward. Banyak model pemula tidak tahu harus melakukan apa dengan
gesture mereka. Rokok secara otomatis menciptakan gerakan kecil yang terlihat
natural: memegang, menyentuh bibir, memainkan abu rokok, atau menyalakan api.
Selain itu, asap menciptakan
movement dalam frame yang statis. Ia memberi tekstur tambahan, membangun
kedalaman visual, dan membuat foto terasa lebih hidup. Tapi daya tariknya bukan
cuma soal teknis fotografi. Rokok juga membawa beban simbolisme budaya yang
sangat besar.
Ketika melihat seseorang merokok
dalam editorial fashion, audiens sebenarnya tidak hanya melihat rokok. Mereka
melihat asosiasi yang sudah dibangun budaya populer selama puluhan tahun di
antaranya yaitu pemberontakan, kehidupan malam, bohemianism, seni, melankoli, sensualitas,
dan sedikit aura self-destruction. Karena
itulah visual ini terasa “penuh cerita” meski sebenarnya sangat sederhana.
Warisan Old Hollywood dan Fashion Photography
Sumber: animalia-life.club
Obsesi fashion terhadap smoking
aesthetic punya akar sejarah yang panjang.
Di era Old Hollywood, figur seperti Marlene Dietrich membantu membentuk
citra rokok sebagai simbol glamour dan sensualitas. Cara ia memegang rokok,
tatapan dingin, pencahayaan dramatis, hingga siluet asap yang memenuhi frame
menjadi blueprint visual yang terus diwariskan dalam fotografi fashion modern.
Lalu datang pengaruh French New Wave cinema yang membuat
rokok terasa semakin intelektual dan eksistensial. Karakter-karakter film
terlihat berjalan di kota, berbicara tentang hidup, jatuh cinta, atau merasa
kesepian sambil merokok. Aktivitas itu dibuat terasa puitis.
Di tahun 1990-an, estetika ini
berubah lagi lewat era heroin chic.
Figur seperti Kate Moss memperkuat hubungan antara fashion, rokok, dan citra
“beautiful exhaustion”. Mata lelah, rambut berantakan, tubuh kurus, dan suasana
after-party menjadi bagian dari visual culture fashion saat itu.
Semua imagery ini akhirnya tertanam begitu dalam dalam budaya fashion
sampai terasa “normal”, bahkan ketika konteks sosial di luar fashion mulai
berubah.
Fashion dan
Ketertarikannya terhadap Sedikit “Kerusakan”
Sumber: www.pinterest.com
Kalau diperhatikan, fashion memang
punya sejarah panjang dalam meromantisasi hal-hal yang terlihat sedikit tidak
sempurna. Hal ini bisa dilihat dari bagaimana dunia mode sering tertarik pada
detail-detail seperti makeup yang sedikit luntur, rambut berantakan, mata
lelah, outfit kusut yang disengaja, suasana after-party, atau ekspresi wajah
yang terlihat emotionally unavailable.
Ada ketertarikan tertentu pada
estetika yang tampak seperti seseorang sedang menjalani hidup yang terlalu
intens untuk terlihat terlalu rapi. Dan image rokok cocok sempurna dalam narasi
itu. Ia memberi kesan bahwa seseorang sedang mengalami sesuatu—entah stres,
kreativitas, patah hati, kebosanan, atau kehidupan malam yang kacau. Bahkan
ketika itu hanya pose editorial yang sepenuhnya dikurasi.
Paradoks
Era Wellness: Kenapa Rokok Masih Bertahan?
Sumber: www.trulyclassy.com
Ironisnya, belakangan ini,
kesehatan justru menjadi simbol status baru. Orang ingin terlihat bugar, well-rested, dan punya gaya hidup
seimbang. Namun secara visual, fashion masih terus kembali pada imagery yang
identik dengan self-destruction
kecil.
Mungkin karena fashion sebenarnya
tidak sedang mempertahankan rokok sebagai kebiasaan, melainkan mempertahankan
“cerita” yang dibawa rokok itu sendiri. Diperkuit oleh citra kuat rokok yang
menawarkan sesuatu yang sulit digantikan, yakni gesture, ritual, jeda, intimacy, emotional distance, dan aura misterius yang sangat sinematik.
Sebuah foto seseorang duduk sendiri
di balkon sambil memegang rokok terasa memiliki narasi emosional yang berbeda
dibanding foto yang sama tanpa rokok. Ada kesan melankolis dan reflektif yang
langsung terbaca tanpa perlu dijelaskan. Dan dalam dunia fashion, storytelling
visual seperti itu sangat berharga.
Rokok
sebagai Prop, Bukan Produk
Dalam banyak konteks fashion
modern, rokok sebenarnya lebih berfungsi seperti aksesori visual dibanding
objek utama. Fungsinya mirip seperti sunglasses
hitam yang menciptakan aura inaccessible, sarung tangan kulit panjang, rokok yang
menciptakan aura mysterious, atau korek api vintage—semuanya membantu membangun
karakter.
Fashion selalu tertarik pada
karakter yang terasa sedikit sulit dibaca. Karakter yang tampak menyimpan
sesuatu. Dan visual rokok dapat membantu membangun jarak emosional itu hanya
lewat satu gesture kecil. Mungkin karena itu lah imagery ini terus bertahan,
bahkan ketika di dunia nyata semakin menjauh dari budaya merokok.
Kesimpulan
Pada akhirnya, dunia fashion
mungkin tidak benar-benar jatuh cinta pada rokok itu sendiri. Melainkain, yang
dicintai adalah simbolisme yang telah melekat padanya selama puluhan tahun:
pemberontakan, sensualitas, kebebasan, melankoli, dan sedikit ketidaksempurnaan
yang terasa manusiawi.
Dalam era yang semakin bersih,
sehat, dan terkurasi, smoking aesthetic menghadirkan sesuatu yang terasa
berbeda—lebih raw, lebih emosional, dan sedikit kacau. Dan mungkin justru
karena itulah dunia fashion masih sulit melepaskannya.
Menarik! Ini Fakta Dibalik Huruf T pada Kata T-Shirt
Review Brand Sch. (Ouval Research), Legenda Distro Bandung yang Masih Eksis Hingga Saat Ini
Fashion People dan Obsesi terhadap Rokok sebagai Visual Prop: Kenapa Smoking Aesthetic Masih Terlihat “Cool”?
TWS Udah Nggak Jaman, Wired Earphone Kini Jadi Aksesori Fashion yang Hits!
Bukan Sekadar Fashion, Ini Fungsi Penting Sunglasses untuk Kesehatan Mata
Malam Dingin, Inovasi Lilin Batik Untuk Belajar Membatik Lebih Aman
Eksplorasi Material dalam "We The Women", Koleksi Spring 2026 alice + olivia
Mengenal Jenis Bahan Pelapis Jok Motor dan Tips Memilihnya
Bukan Sekadar Dress Code, Ini Makna Seragam Hitam Putih Saat Training
“Face Card Fashion”: Kenapa Orang Attractive Bisa Membuat Outfit Biasa Terlihat Mahal?