Punya area santai di luar ruangan memang terdengar mengasyikkan. Duduk di sofa teras, taman atau balkon yang empuk ditemani secangkir kopi dan makanan favorit sembari bercengkrama dengan keluarga bisa menjadi aktivitas menyenangkan. Tapi satu hal yang seringkali terabaikan adalah bagaimana memilih bahan upholstery (kain pelapis) untuk furniture-furniture tersebut.
Lantas, apa saja yang perlu
dipertimbangkan saat memilih upholstery untuk perlengkapan outdoor? Dan bahan apa yang paling direkomendasikan? Simak
ulasan berikut ini, yuk!
Memilih kain pelapis untuk sofa di area outdoor tentu tidak bisa disamakan dengan sofa indoor. Alasannya jelas, karena furnitur luar ruangan lebih sering terkena sinar matahari, hawa dingin, bahkan percikan air hujan. Sehingga ia lebih rentan berjamur karena lambab atau bahkan robek akibat perbuhaan cuaca ekstrem.

Nah, berikut beberapa hal yang
perlu diperhatikan saat memilih upholstery furnitur outdoor:
Ini adalah aspek paling krusial dalam milih kebutuhan kain fungsional di luar ruangan. Kain tersebut harus kokoh dan tahan di
segala kondisi cuaca. Dan kalau menimbang dari sudut pandang ini, material
sintetis selalu lebih unggul dibandingkan kain berbahan dasar serat alami.
Bahan sintetis tak mudah menyerap kelembaban. Sofa dan
furnitur pun akan tetap kering dan terhindar dari bau tidak sedap, jamur, serta
mikroorganisme lainnya.
Karena rentan terkena debu, kotoran, atau tumpahan makanan dan minuman, pilihlah kain yang mudah dibersihkan. Keberadaan fitur water repellent (penolak air) dan waterproof (anti-air) akan sangat membantu karena noda bisa dibersihkan hanya dengan lap basah. Fitur tersebut juga mencegah cairan tidak merembes ke dalam busa sofa yang bisa memicu tumbuhnya jamur serta bau tidak sedap.
Baca Juga: |
Paparan sinar matahari yang intens dan terus menerus dapat
membuat warna kain cepat kusam. Supaya furnitur tetap terlihat cantik, pilih
kain dengan color fastness yang baik atau memiliki ketahanan warna terhadap UV.
Warna-warna netral seperti abu-abu, beige, coklat muda
atau olive umumnya lebih aman karena perubahannya tidak akan terlalu ketara.
Tapi kalau ingin nuansa cerah dan lebih playful, pertimbangkan bahan pelapis yang
dilengkapi fitur UV-resitance agar warna tetap tahan lama.
Meski digunakan di luar ruangan, kenyamanan tetap
menjadi prioritas utama. Jangan hanya fokus pada daya tahan tetapi mengabaikan
tekstur kain.
Pilih bahan yang halus, tidak mudah panas saat terkena
matahari dan tetap nyaman meski diduduki dalam waktu lama. Modern ini, banyak kain
outdoor premium yang punya permukaan lembut menyerupai upholstery indoor.
Setelah memahami aspek-aspek
krusial untuk furnitur outdoor, barulah kamu bisa menentukan jenis material
yang paling sesuai kebutuhan. Sebab, tiap
bahan punya spesifikasi masing-masing, mulai dari ketahanan cuaca, tekstur
permukaan, hingga teknis perawatannya.
Sangat ideal untuk wilayah dengan curah hujan tinggi
karena memiliki sifat anti-jamur dan anti-lumut. Kain akrilik biasanya diwarnai
dengan metode solution dyeing (pewarnaan pada tingkat serat sebelum
ditenun), sehingga warnanya sangat awet dan tidak mudah pudar walau
terus-menerus terpapar matahari. Teksturnya lembut menyerupai wol, tidak
menyerap panas, dan sangat mudah dibersihkan dengan lap lembap.
Serat sintetis ini dikenal tangguh, cepat kering,
anti-jamur, serta memiliki ketahanan yang tinggi terhadap noda dan pudarnya
warna. Namun, tekstur olefin cenderung sedikit lebih kasar dibanding akrilik.
Material ini sangat cocok diaplikasikan pada kursi santai di tepi kolam renang,
tirai, atau gorden luar ruangan.
Ini adalah opsi paling populer dan ramah di kantong. Kain poliester terkenal kuat, tahan sobek, dan mudah dibersihkan dengan air sabun ringan. Kekurangannya, kain ini menggunakan metode batch-dye (dicelup setelah ditenun), sehingga warnanya lebih cepat pudar jika terus-menerus terkena matahari langsung. Disarankan untuk menggunakan kanopi atau patio di atas furnitur jika memilih bahan ini.
Baca Juga: |
Jika kamu membutuhkan upholstery dengan fitur tahan
air dan mudah dibersihkan, tak ada salahnya pertimbangkan bahan vinyl.
Material ini sangat ideal untuk penggunaan di area semi
outdoor seperti cafe outdoor, poolside atau rooftop karena sifat bahannya yang sangat
mudah dibersihkan. Namun, perlu diperhatikan juga kalau beberapa jenis vinyl terasa
lebih panas dan lengket saat diduduki. Material ini juga seringkali kurang
fleksibel sehingga rentan mengalami kerusakan
Itu dia panduan memilih kain serta
jenis bahan yang paling recommended untuk furnitur outdoor. Nah, kalau bicara
soal kain outdoor,bahankaincom menyediakan beberapa varian kain dengan
spesifikasi yang cukup mumpuni. Salah satunya yaitu bahan SR-10 yang terbuat
dari benang poliester yang kokoh dan tahan lama.
Bahan ini dirancang untuk
penggunaan aktif sehingga cocok digunakan pada area yang cukup sering terkena
paparan udara luar. Kain SR-10 juga memiliki lapisan water-repellent yang bisa
menahan percikan air serta fitur anti-UV guna mempertahankan warnanya agar
tidak mudah pudar. Selain pelapis furnitur, material tangguh ini juga sering
digunakan untuk pembuatan tas dan sepatu, lho.
Mau beli kainnya? Atau mau cari referensi
yang lain? Cek di kategori produk Bahan Sofa kami.
Bisa juga menghubungi customer
service Bahanankaincom lalu konsultasikan kebutuhan kain Anda dan dapatkan
penawaran terbaiknya. Semoga pengerahuan ini bisa membantu dan selamat
berbelanja, Sobat Bahankain!
Panduan Memilih Kain Upholstery Untuk Sofa dan Furniture Outdoor
Dulu Cuma Dipakai Bangsawan, Sekarang Jadi Fashion Mahal: Sejarah Mengejutkan Baju Tidur dan Loungewear
Benarkah Outfit Bisa Mempengaruhi Mood? Ini Jawabannya Menurut Psikologi
Cotton Combed vs Cotton Bamboo, Apa Sih Bedanya?
Bukan Sekadar Olahraga: Kenapa Outfit Gym Sekarang Jadi Simbol Status Sosial?
Transformasi Jam Tangan Saku, Dari Aksesori Klasik Menjadi Statement Piece Pop Art
Mengenal Bahan Kaos Cotton Carded dan Karakteristiknya
Oversized Fashion dan Obsesi Generasi Modern terhadap Comfort
Drop Waist Silhouette, Perpaduan Gaya Klasik dan Modern yang Kembali Populer
Dari Istana Kerajaan sampai Quiet Luxury: Sejarah Parfum sebagai Simbol Kelas Sosial