Recycled polyester atau
yang dikenal dengan singkatan rPET,
telah menjadi salah satu klaim sustainability paling populer di industri
fashion global. Namun di
balik narasi hijau yang menawan, tersimpan realita
yang jauh lebih kompleks. Saat dihadapkan
dengan label "Made from recycled
bottles," banyak orang juga mulai bertanya, “apakah ini benar-benar
ramah lingkungan, atau hanya strategi marketing yang cerdas?”
Lantas, apa itu recycled polyester? Apa saja manfaatnya? Dan
apakah material ini benar-benar layak disebut solusi atau sekadar tren greenwash yang sedang naik daun? Kita bahas
satu per satu.
Recycled polyester adalah serat
tekstil sintetis yang dibuat dengan mendaur ulang plastik bekas — paling umum
dari botol plastik PET (polyethylene terephthalate)
pasca-konsumsi. Botol-botol tersebut dikumpulkan, dibersihkan, dihancurkan
menjadi serpihan kecil, lalu dilelehkan dan dipintal ulang menjadi serat baru
yang dapat dijahit menjadi pakaian.
Contoh sederhananya, lima botol air mineral berukuran 600 ml
menghasilkan cukup serat untuk membuat satu kaus. Hasilnya, kain yang secara
penampilan dan performa identik dengan polyester konvensional yang tahan air,
cepat kering, anti-kusut namun diklaim memiliki jejak lingkungan yang lebih
ringan.
Di tengah dominasi serat
polyester yang menyentuh angka 54% pada tahun 2022, recycled polyester
menyumbang 12,5% dari total produksi polyester global, dengan volume produksi
sebesar 8,9 juta ton. Angka ini menjadikan rPET sebagai serat berkelanjutan yang paling banyak diproduksi di dunia. Jauh
melampaui gabungan kapas organik serta kapas daur ulang yang hanya sekitar 1,1
juta ton.
rPET memang hadir dengan manfaat yang nyata dan terukur. Bukan sekadar klaim di atas kertas, ia memiliki sejumlah keunggulan yang sudah dibuktikan lewat data produksi, riset energi, hingga komitmen brand-brand global.

Berikut ulasannya:
1.
Mengurangi
Ketergantungan pada Minyak Bumi
Polyester konvensional dibuat dari minyak mentah — artinya setiap helai
pakaian polyester baru berarti konsumsi bahan bakar fosil tambahan. Sekitar 49%
pakaian di dunia terbuat dari polyester, dan proyeksi menunjukkan jumlah ini
akan hampir dua kali lipat pada 2030. Dengan beralih ke rPET, industri dapat
memotong rantai ketergantungan tersebut secara signifikan.
2.
Efisiensi
Energi yang Nyata
Ini bukan sekadar klaim marketing. Memproduksi recycled polyester
membutuhkan 59% lebih sedikit energi dibandingkan polyester virgin. Bahkan,
menurut Common Objective, produksi recycled polyester menghasilkan 79% lebih
sedikit emisi karbon dibandingkan polyester konvensional.
3.
Memberi
Kehidupan Kedua bagi Plastik
Recycled polyester memberi kehidupan kedua bagi material yang tidak bisa
terurai secara alami, yang sebaliknya akan berakhir di tempat pembuangan akhir
atau lautan. Dalam konteks krisis plastik global, ini adalah kontribusi nyata
yang tidak bisa diabaikan.
4.
Komitmen
Brand-Brand Besar
Bukan
hanya brand kecil niche. Adidas berkomitmen menggunakan hanya recycled
polyester di seluruh produknya pada 2024. Patagonia, pelopor fashion
berkelanjutan, sudah menggunakan rPET sejak 1993. H&M Group berkolaborasi
dengan Syre untuk mengembangkan recycled polyester tekstil-ke-tekstil.
tidak ada solusi yang benar-benar sempurna, termasuk recycled polyester. Di balik narasi keberlanjutan yang dipoles rapi dalam kampanye iklan, tersimpan sejumlah fakta yang jarang disorot.

Di sinilah gambaran menjadi lebih rumit dan lebih jujur.
1.
Masalah
Mikroplastik yang Mengkhawatirkan
Ini adalah kontroversi terbesar seputar rPET. Setiap
siklus pencucian pakaian sintetis melepaskan partikel plastik kecil yang tidak
bisa ditangkap sepenuhnya oleh instalasi pengolahan air limbah. Studi
memperkirakan satu kali pencucian bisa melepaskan antara 700.000 hingga 1 juta
serat.
Yang lebih mengejutkan adalah temuan terbaru. Riset
laboratorium yang dipublikasikan Desember 2025 oleh Changing Markets Foundation
menemukan bahwa recycled polyester menghasilkan 55% lebih banyak partikel
mikroplastik saat dicuci dibandingkan polyester virgin, karena sifatnya yang
lebih rapuh. Selain itu, partikel yang dilepaskan juga 20% lebih kecil,
sehingga lebih mudah menyebar di lingkungan dan berpotensi menimbulkan lebih
banyak kerusakan.
2.
Bukan
Daur Ulang Tekstil-ke-Tekstil
Ada miskonsepsi besar di sini. Hampir semua recycled
polyester yang diproduksi berasal dari botol plastik, bukan dari pengolahan
ulang tekstil polyester. Ini penting karena artinya pakaian rPET lama Anda
hampir dipastikan tidak akan didaur ulang menjadi pakaian baru.
Dalam praktiknya, hal ini menciptakan saluran satu arah
dari botol ke tempat sampah. Botol yang seharusnya bisa didaur ulang
berkali-kali di industri kemasan malah dialihkan ke tekstil yang pada akhirnya
akan berakhir sebagai limbah.
3.
Jumlah
yang Didaur Ulang Masih Sangat Kecil
Meskipun produksinya masif, hanya 1% polyester yang
didaur ulang menjadi tekstil baru — sebagian besar sisanya berakhir dibakar, di
tempat pembuangan akhir, atau di-downcycle, meskipun membutuhkan ratusan tahun
untuk terurai.
4.
Greenwashing
dan "Koleksi Hijau" yang Menyesatkan
Ilusi ini semakin dalam dengan munculnya "Sustainable
collections" atau "green labels" yang dipasarkan besar-besaran
oleh brand fast fashion. Seringkali, hanya persentase kecil dari total output
mereka yang mengandung rPET, sementara mayoritas tetap menggunakan polyester
virgin. Transparansi selektif ini memungkinkan brand untuk memberi sinyal
tanggung jawab tanpa benar-benar mengubah model overproduksi mereka.
Recycled polyester adalah langkah nyata untuk mengurangi emisi karbon, menghemat energi, dan mengalihkan plastik dari lautan. Namun ia bukan solusi tunggal, juga bukan tanpa masalah. Seperti yang dirangkum oleh para peneliti:
Jika kamu ingin membuat pilihan
yang lebih bertanggung jawab saat berbelanja produk berlabel rPET, perhatikan
hal-hal berikut:
1.
Cari
sertifikasi resmi — Global
Recycled Standard (GRS) dan Recycled
Claim Standard (RCS) adalah dua standar terpercaya untuk memverifikasi
klaim recycled content.
2.
Pertanyakan
persentasenya — berapa persen produk tersebut benar-benar rPET? 10% rPET
≠ "sustainable collection."
3.
Gunakan
laundry bag khusus untuk pakaian sintetis saat mencuci, untuk menangkap
mikroplastik sebelum masuk ke saluran air.
4.
Prioritaskan
daya tahan — pakaian yang tahan lama selalu lebih berkelanjutan dari
pakaian "hijau" yang cepat rusak.
5.
Pilih
brand yang transparan tentang rantai pasokan dan dampak lingkungan
keseluruhan mereka, bukan hanya material yang digunakan.
Recycled polyester menyimpan
manfaat lingkungan yang nyata dan terukur. Namun, ia juga bukan solusi ajaib
yang bisa menyelamatkan industri fashion dari krisis ekologinya sendiri. Di
tengah pertumbuhan volume produksi yang tak terbendung dan masalah mikroplastik
yang kian serius, klaim "sustainable" perlu diuji lebih kritis oleh
konsumen dan diimplementasikan lebih substansial oleh brand.
Yang jelas: memilih rPET lebih
baik daripada polyester virgin. Tapi memilih lebih sedikit dan lebih bijak, tetap
menjadi langkah terpenting dari semuanya.
Recycled Polyester, Solusi Sustainability atau Sekadar Tren?
Sejarah dan Perjalanan Brand Cotton Ink, Dari Bisnis Rumahan Jadi Ikon Fashion Lokal
Jangan Sampai Ketipu Trik Brand! Ini Bedanya Retail vs Flagship yang Wajib Kamu Tahu Biar Nggak Malu Pas Belanja
Industri Pakaian Olahraga Dunia Mulai Tinggalkan PFAS, Apa Dampaknya?
Kerah Kaos Kesayanganmu Melar? Ini 4 Cara Praktis Mengembalikan Bentuknya
Grading Pola, Cara Konveksi Membuat Ukuran S hingga XXL dari Satu Pattern
5 Cara Memadukan Dress Merah agar Tampil Elegan di Berbagai Kesempatan
Louis Vuitton Menswear Spring/Summer 2027: Ketika Kemewahan, Kreativitas, dan Keberlanjutan Bertemu di Satu Panggung
High Rise vs Low Rise, Mana Potongan Celana yang Paling Cocok Untukmu?
Hal-Hal Kecil pada Pakaian yang Ternyata Punya Sejarah Panjang