Siapa di sini yang mengira kalau
sarung itu cuma properti wajib bapak-bapak pos ronda atau pakaian khas santri
di Indonesia? Kalau kamu salah satunya, siap-siap buat melongo. Faktanya,
selembar kain tanpa kancing dan ritsleting ini adalah salah satu masterpiece dalam sejarah fashion dunia
yang fleksibilitasnya enggak ada tanding.
Dari Asia Tenggara, Asia Selatan,
Timur Tengah, sampai kepulauan Pasifik, kain sejenis sarung ini eksis dengan
nama dan identitasnya masing-masing. Tapi yang bikin penasaran, kenapa cara
pakainya bisa beda-beda banget ya? Ada yang digulung rapi, diikat jadi simpul besar
di depan, bahkan ada yang dipadukan dengan kemeja resmi plus dasi layaknya jas
formal.
Yuk, kita bedah rahasia kompleks di
balik selembar kain sarung ini!
Tuntutan
Alam dan Geografis: Ketika Iklim Menentukan Gulungan
Faktor pertama yang paling masuk akal adalah iklim. Sarung sangat populer di negara-negara beriklim tropis atau subtropis yang cenderung panas dan lembap. Logikanya sederhana: kain longgar memberikan sirkulasi udara yang jauh lebih baik daripada celana ketat biasa.
Sumber: www.utsavpedia.com
Namun, bagaimana cara mereka
mengikatnya sangat bergantung pada aktivitas fisik di lingkungan tersebut. Di
India Selatan atau Bangladesh, kita sering melihat para pekerja lapangan
memakai Lungi (sarung khas mereka)
dengan cara melipat ujung bawahnya ke atas lalu diselipkan di pinggang.
Hasilnya, sarung jadi sependek celana pendek. Teknik ini murni lahir dari
kepraktisan agar mereka bisa bergerak bebas di sawah atau pasar yang becek
tanpa takut kainnya kotor atau membatasi ruang gerak.
Konstruksi
Kain yang Berbeda Sejak Lahir
Banyak orang mengira semua sarung berbentuk silinder atau tabung yang dijahit kedua ujungnya seperti di Indonesia. Padahal, konstruksi dasar kain sarung di dunia terbagi menjadi dua kubu besar:
Kubu Sarung Tabung: Populer di Indonesia, Malaysia, dan Brunei. Karena
bentuknya melingkar, teknik mengencangkannya wajib menggunakan metode lipat
sisi kanan-kiri ke tengah, lalu digulung ketat ke bawah di bagian pinggang.
Kubu Lembaran Terbuka (Flat Sheet): Populer
di India (Lungi/Dhoti) dan Yaman (Maa'was). Karena berupa lembaran kain
persegi panjang biasa, cara pakainya tidak bisa digulung begitu saja. Mereka
harus memutar kain, membuat lipatan-lipatan (plisir), lalu mengikat
ujung-ujungnya menjadi simpul mati yang kuat di bagian depan tubuh.
Baca juga: Menguak Sejarah Sarung Dan 5 Jenis Sarung Tradisional Indonesia
Konstruksi Sosial dan Gender: Siapa Bilang Sarung Cuma Buat Cowok?
Di beberapa kebudayaan, cara
melipat kain sarung menjadi indikator gender sekaligus status sosial seseorang.
Mari kita tengok negara tetangga kita, Myanmar, dengan kain sarung
tradisionalnya bernama Longyi.
Sumber: sonasia-holiday.com
Di Myanmar, Longyi adalah pakaian sehari-hari untuk semua gender, tapi cara
pakainya dibedakan secara kontras:
·
Para pria memakai Pasu
(Longyi pria) dengan cara menarik kedua sisi kain ke tengah, lalu mengikatnya
menjadi simpul bulat besar tepat di depan perut. Gaya ini memberikan ruang
gerak maskulin yang dinamis.
·
Para wanita memakai Htamein (Longyi wanita). Caranya, seluruh lebar kain ditarik ke
satu sisi, dilipat mendatar mengikuti bentuk pinggul, lalu diselipkan di sisi
pinggang yang berlawanan. Potongan ini menciptakan siluet yang anggun dan
elegan.
Pengaruh
Spiritual dan Nilai Kesopanan
Sumber: worldculturalthreads.com
Di nusantara, transformasi sarung
sangat dipengaruhi oleh masuknya nilai-nilai Islam sejak berabad-abad lalu.
Sarung di Indonesia berevolusi menjadi lambang kesopanan untuk beribadah.
Gulungan di pinggang dibuat
sedemikian rupa agar menutup aurat dengan sempurna dan tidak mudah melorot saat
gerakan salat seperti ruku dan sujud. Pola geometris kotak-kotak atau motif
batik tradisional yang rapi juga mencerminkan kerapian yang dituntut dalam
ritual keagamaan, sehingga tampilannya cenderung formal dan lurus ke bawah.
Dari
Busana Santai hingga Seragam Militer Formal
Kalau kamu mengira sarung tidak
bisa dibawa ke ruang rapat formal, main-mainlah ke Fiji di Samudra Pasifik. Di sana,
kain sejenis sarung disebut dengan Sulu.
Hebatnya, Sulu bukan sekadar baju
santai di rumah.
Sumber: cartoondealer.com
Di Fiji, Sulu Vakataga adalah pakaian resmi pria yang setara dengan setelan
jas peniti di dunia Barat. Cara pakainya sangat rapi, lurus, tanpa kerutan
berlebih, dan dilengkapi saku. Kain ini dipakai oleh para pebisnis, anggota
parlemen, polisi, bahkan tentara dalam upacara resmi kenegaraan, lengkap dengan
kemeja berkerah, dasi, dan sepatu pantofel. Keren banget, kan?
Kesimpulan
Nah, sekarang sudah tahu kan kenapa
cara pakai sarung di tiap negara bisa beda drastis? Di balik lipatan, gulungan,
dan simpul kain yang kita lihat, ada sejarah panjang, tuntutan iklim, dan
nilai-nilai budaya yang diwariskan turun-temurun. Selembar sarung adalah bukti
nyata bagaimana manusia beradaptasi dengan lingkungan, menghormati budaya, dan
mengekspresikan identitas diri mereka tanpa perlu banyak jahitan modern.
Jadi, masih mau menganggap sarung
cuma buat santai di rumah saja? Saatnya kita bangga dengan warisan budaya
fleksibel yang mendunia ini!
Baca juga: Tren Sarung Celana, Perpaduan Nyaman antara Tradisi dan Gaya Modern
6 Panduan Memilih Kaos Berkualitas, Jangan Asal Beli!
Satu Kain Sejuta Gaya: Rahasia Kenapa Cara Pakai Sarung di Tiap Negara Bisa Beda Drastis!
Lace Is Back! Mengintip Tren Renda yang Kembali Menghiasi Dunia Fashion 2026
Bukan Pajangan! Ini Fungsi Rahasia "Segitiga Misterius" di Kerah Sweatshirt Kamu
Perjalanan Jimmy Choo, Brand Heels Mewah Favorit Putri Diana
Lebih dari Sekadar Baju Kotak-Kotak: Bongkar Sejarah Rahasia Kemeja Flanel yang Bikin Kamu Syok!
RFID dan Paspor Digital Diproyeksikan Jadi Kunci Daya Saing Baru Industri Tekstil
Oxford Shoes vs Derby Shoes: Jangan Sampai Salah Pilih (Bisa Merusak OOTD-mu!)
Shoe Tree, Rahasia Sepatu Tetap Awet dan Terlihat Seperti Baru
Bukan Salah Mesin Cuci, Ini Alasan Kenapa Beberapa Jenis Kaos Lebih Cepat Melar