Dunia seni kehilangan salah satu sosok paling berpengaruh sepanjang masa. Yayoi Kusama, seniman asal Jepang yang selama puluhan tahun identik dengan motif polkadot dan instalasi Infinity Mirror Rooms, meninggal dunia pada 14 Agustus 2026 di usia 97 tahun. Namun kepergiannya baru diumumkan pada 27 Agustus, lewat situs resmi Yayoi Kusama dan Yayoi Kusama Museum. Dan berita tersebut langsung jadi sorotan media di berbagai belahan dunia.
Selama beberapa dekade, pameran
Kusama termasuk yang paling laris dan paling ramai dikunjungi di berbagai
negara. Orang rela antre lama cuma buat masuk ke Infinity Mirror Rooms
miliknya, dan instalasi labu raksasa bermotif polkadot yang jadi ciri khasnya
sudah terlalu ikonik untuk dilewatkan.
Tapi bukan cuma karyanya yang
bikin orang inget dia. Penampilannya sendiri sama nyentriknya—rambut bob merah
menyala yang nyaris tak pernah absen jadi identitas visual yang melekat kuat,
sama kuatnya dengan motif polkadot yang memenuhi hampir semua karyanya. Buat
Kusama, cara berpakaian bukan sekadar gaya, tapi perpanjangan dari dunia visual
yang ia bangun sepanjang hidupnya.

Menariknya, kecintaan Kusama pada
pola berulang ini bukan sekadar pilihan estetika biasa. Sejak kecil, ia
mengalami halusinasi yang bikin penglihatannya seolah dipenuhi bintik-bintik,
sampai batas antara dirinya dan lingkungan sekitar jadi kabur. Pengalaman
inilah yang kemudian melahirkan konsep yang ia sebut
"self-obliteration"—proses melebur diri ke dalam pola tanpa akhir.
Dari situ, polkadot bukan lagi sekadar motif, melainkan representasi langsung dari pengalaman batin yang menyertainya sejak kanak-kanak. Ditambah rambut bob merahnya yang khas, kombinasi ini bikin sosok Kusama gampang dikenali bahkan oleh orang yang belum pernah lihat karyanya secara langsung. Ia sering tampil dengan gaun berpotongan sederhana yang dipenuhi bintik-bintik besar berwarna kontras, seolah dirinya sendiri jadi bagian dari kanvas yang terus berjalan.

Titik balik besar dalam kariernya
terjadi saat ia pindah ke New York di akhir 1950-an dan bergabung dengan
komunitas seni avant-garde di sana. Dari situ, Kusama mengembangkan gaya
khasnya sendiri hingga diakui sebagai salah satu seniman perempuan paling
berpengaruh di dunia.
Karya-karyanya sudah dipamerkan di museum-museum besar dunia, termasuk MoMA New York dan Centre Pompidou Paris. Bahkan di awal tahun ini, Museum Ludwig di Cologne menggelar pameran besar dengan lebih dari 300 karya Kusama ditampilkan sekaligus—bukti betapa luas dan produktifnya perjalanan kreatif sang seniman selama ini.

Popularitas Kusama yang lintas
generasi bikin namanya dilirik industri di luar dunia seni murni, salah satunya
fashion. Kolaborasi paling menonjol datang dari Louis Vuitton, dan ini terjadi
dua kali.
Yang pertama pada 2012, saat Marc
Jacobs masih jadi direktur kreatif. Koleksi bertajuk Dots Infinity membawa
motif polkadot khas Kusama ke tas-tas ikonik Louis Vuitton seperti Keepall,
Neverfull, Papillon, dan Speedy—yang sekarang jadi buruan kolektor di pasar
barang bekas.
Satu dekade kemudian, tepatnya
awal 2023, Louis Vuitton kembali menggandeng Kusama lewat koleksi Creating
Infinity di bawah arahan kreatif Nicolas Ghesquière. Kali ini variasi motifnya
lebih beragam: Painted Dots, Metal Dots, Infinity Dots, sampai Psychedelic
Flowers, diaplikasikan ke berbagai model tas termasuk Capucines dan Speedy
Bandoulière, bahkan merambah ke lini ready-to-wear dan aksesori pria.
Peluncuran koleksi kedua ini
sempat viral karena butik-butik Louis Vuitton di berbagai negara disulap penuh
polkadot raksasa, lengkap dengan sosok animatronic Kusama yang tampak hidup di
etalase. Kampanyenya pun menghadirkan model-model dunia dengan busana bermotif
dot khas sang seniman.
Lewat dua kolaborasi ini, karya Kusama nggak lagi terbatas di kanvas atau ruang pameran—ia hadir dalam keseharian banyak orang lewat tas dan produk fashion yang dipakai setiap hari, tanpa kehilangan warna dan intensitas visual yang jadi ciri khasnya.
Kepergian Yayoi Kusama menutup babak panjang seorang perintis yang membuka jalan bagi seni imersif dan bahasa visual polkadot di kancah global. Tapi karyanya jelas nggak akan hilang begitu saja—jejaknya masih hidup lewat instalasi, lukisan, patung, sampai benda-benda fashion yang menemani keseharian banyak orang di seluruh dunia.
Dari Simbol Kekuasaan Jadi Neutral Baru: Mengapa Animal Print Tak Pernah Mati di Dunia Fashion?
Yayoi Kusama, Sang Seniman Polkadot yang Berpulang di Usia 97 Tahun
Kenapa Bed Cover Cepat Bau Apek? Ini 5 Penyebab dan Cara Mengatasinya
Dari Pasar Kaget Sampai Red Carpet: Mengapa Jam Tangan Jadi "Statement" Paling Epic di Dunia Fashion?
Oversize Bag Kembali Hiasi Tren 2026, Popularitas Mini Bag Tergeser!
Perbedaan Bathrobe Terry dan Waffle, Mana yang Lebih Cocok Untukmu?
Solusi Kaki Jenjang Tampak Mewah: Mengapa Sepatu T-Strap Kembali Menguasai Panggung Fashion?
Mengenal Boning, Rangka Tersembunyi yang Bikin Korset Tetap Kokoh
Menelusuri Jejak Sepatu Tabi, Dari Tradisi Jepang Hingga Pemilihan Material Terbaiknya
Tren 'Sepatu Tanpa Sol': Inovasi High Fashion Masa Kini atau Sekadar Rage Bait?