Kalau melihat berbagai outerwear sekarang, mungkin kita pernah
menemukan model yang terasa familiar: potongannya longgar, bagian depan
terbuka, lengannya lebar, dan panjangnya hanya sampai pinggul atau paha.
Sekilas, bentuknya seperti cardigan atau kimono versi pendek. Padahal, siluet
semacam ini sudah lama dikenal dalam pakaian tradisional Jepang lewat haori.
Haori memang sering disebut sebagai
“jaket kimono”, tetapi sebenarnya ia merupakan pakaian luar tersendiri yang
dirancang untuk dikenakan di atas kimono. Menariknya, meskipun bentuknya
sederhana, haori memiliki sejarah panjang dan pernah mengalami perubahan fungsi
serta makna dalam masyarakat Jepang.
Apa Itu
Haori?
Sumber: www.1stdibs.com
Dalam bahasa Jepang, haori ditulis 羽織, merupakan
outer tradisional yang dikenakan di
atas kimono. Bentuknya relatif pendek dengan badan longgar dan siluet
menyerupai huruf T. Bagian depan tidak saling menyilang seperti kimono dan
tidak menggunakan obi sebagai pengikat. Haori dapat dikenakan terbuka atau
dihubungkan menggunakan tali dekoratif bernama haori-himo.
Lengannya juga cenderung lebar dan
konstruksinya mengikuti prinsip pakaian tradisional Jepang yang relatif datar,
bukan membentuk tubuh seperti jaket Barat. Karena itulah, banyak outer modern yang memiliki potongan
serupa kemudian dianggap “mirip haori”.
Awalnya
Pakaian Laki-Laki
Sumber: www.1stdibs.com
Salah satu fakta menarik tentang
haori adalah bahwa pakaian ini tidak sejak awal identik dengan busana perempuan.
Pada periode Edo (1603–1868), haori merupakan bagian dari pakaian laki-laki,
termasuk untuk konteks formal. Beberapa haori bahkan dihiasi kamon, atau lambang keluarga.
Perkembangan haori juga tidak
terlepas dari evolusi pakaian tradisional Jepang. Pada periode tersebut, teknik
pewarnaan dan dekorasi tekstil berkembang pesat sehingga pakaian tidak hanya
berfungsi sebagai kebutuhan sehari-hari, tetapi juga menjadi media untuk
menunjukkan selera, identitas, dan status sosial.
Dari Busana
Laki-Laki Menjadi Fashion Perempuan
Menariknya, perjalanan haori
kemudian berubah ketika perempuan mulai mengenakannya.
Sumber: www.president.co.jp
Pada abad ke-19, perempuan
penghibur di kawasan Fukagawa, Edo (sekarang Tokyo), mulai mengenakan haori di
atas kimono. Gaya tersebut kemudian menjadi salah satu ciri khas mereka. Lalu menjelang
akhir abad ke-19, haori juga mulai dikenakan perempuan dari kelas atas,
termasuk haori sutra hitam dengan lambang keluarga untuk kesempatan publik yang
lebih formal. Penggunaannya kemudian semakin meluas hingga menjadi bagian dari
busana perempuan yang mengenakan kimono.
Perjalanan ini menunjukkan bahwa
pakaian dapat berubah makna ketika berpindah gender, kelas sosial, dan konteks
penggunaannya. Haori yang awalnya identik dengan laki-laki akhirnya menjadi
bagian penting dari fashion perempuan Jepang.
Haori vs
Kimono, Apa Bedanya?
Kesalahan yang cukup umum adalah
menganggap haori sebagai kimono yang dipotong lebih pendek. Padahal, keduanya
memiliki fungsi berbeda.
Kimono merupakan pakaian utama,
dikenakan dengan cara dililitkan mengelilingi tubuh dan umumnya dikencangkan
menggunakan obi. Sementara haori adalah lapisan luar yang dikenakan di atas
kimono. Bagian depannya tidak dirancang untuk saling menyilang dan tidak
membutuhkan obi.
Jadi, meskipun konstruksinya masih
berkaitan erat dengan pakaian kimono, haori sebenarnya merupakan kategori
pakaian tersendiri.
Justru
Bagian Dalamnya Bisa Sangat Mewah
Sumber: www.etsy.com
Ada satu detail haori yang menarik
dari sudut pandang tekstil: bagian dalamnya terkadang jauh lebih dekoratif
daripada bagian luar. Bahkan di sejumlah koleksi museum memperlihatkan haori
dengan lapisan dalam yang dihiasi motif rumit menggunakan teknik seperti yuzen, shibori, sulam, hingga berbagai motif alam.
Konsep tersebut berkaitan dengan
budaya berpakaian Jepang pada masa ketika kemewahan yang terlalu mencolok di
bagian luar dapat dibatasi oleh aturan sosial. Karena itu, kreativitas justru
bisa “disembunyikan” di bagian dalam pakaian yang hanya terlihat pada momen
tertentu. Dengan kata lain, haori bukan sekadar outer untuk menambah lapisan pakaian, tetapi juga dapat menjadi kanvas
untuk menunjukkan keterampilan dan keindahan tekstil.
Kenapa Banyak Outer Modern Terlihat Seperti Haori?
Siluet haori ternyata sangat mudah diterapkan dalam fashion modern. Potongannya longgar, nyaman, tidak terlalu membatasi gerakan, dan dapat digunakan sebagai lapisan tambahan. Karakter tersebut membuat bentuk haori mudah diterjemahkan menjadi cardigan, robe, jaket ringan, hingga outer oversized. Namun, outer yang terlihat seperti haori belum tentu benar-benar haori.
Sebuah outer modern mungkin mengambil inspirasi dari bentuk haori—misalnya
melalui badan lurus, lengan lebar, bagian depan terbuka, atau panjang yang
relatif pendek. Dalam konteks seperti ini, istilah haori-inspired lebih tepat digunakan apabila konstruksi dan cara
pemakaiannya sudah berbeda jauh dari haori tradisional.
Begitu pula dengan istilah “kimono
jacket” yang banyak digunakan dalam fashion internasional. Istilah tersebut
biasanya merujuk pada estetika atau siluet yang terinspirasi pakaian Jepang,
bukan berarti pakaian tersebut merupakan kimono atau haori tradisional.
Haori Tidak
Selalu Memiliki Satu Bentuk
Sumber: www.meer.com
Haori sendiri juga bukan pakaian dengan satu model yang tidak pernah berubah. Panjang, bahan, motif, dan tingkat formalitasnya dapat berbeda mengikuti zaman dan fungsi pemakaian.
Koleksi museum menunjukkan haori
berbahan sutra, brokat, tsumugi, shibori, hingga material yang lebih
ringan untuk cuaca hangat. Ada pula haori dengan kamon yang digunakan dalam
konteks lebih formal. Karena itu, menyebut haori sekadar sebagai “jaket pendek
Jepang” sebenarnya terlalu menyederhanakan sejarahnya.
Dari
Pakaian Tradisional ke Fashion Modern
Kini, haori dapat dikenakan bersama
kimono maupun dipadukan dengan pakaian modern. Sementara itu, elemen desainnya
juga terus muncul dalam berbagai outer
kontemporer.
Sumber: www.etsy.com
Di sinilah kita bisa melihat alasan
mengapa haori terasa begitu familiar. Siluetnya memang memiliki banyak karakter
yang kini populer dalam fashion modern: oversized,
relaxed, layering, dan gender-neutral.
Jadi, lain kali melihat outer dengan badan lurus, lengan lebar,
dan bagian depan terbuka, jangan langsung menyebutnya kimono. Bisa jadi desain
tersebut mengambil inspirasi dari haori, pakaian luar Jepang yang telah
melewati perjalanan panjang dari busana laki-laki pada zaman Edo hingga menjadi
salah satu referensi menarik dalam fashion kontemporer.
Baca juga: 7 Pakaian Tradisional Jepang Dan Masing-Masing Ciri Khasnya
Kain Ponte: Pengertian, Karakteristik, Kelebihan, dan Kegunaannya
Haori: Outer Tradisional Jepang yang Mirip Banyak Jaket Modern
Godet, Potongan Kecil yang Bikin Busana Mengembang Dramatis
AI Bukan Lagi Gimmick, Begini Cara Teknologi Mengubah Fashion dan Beauty
Dari Fur ke Wool: Ketika Aktivisme Mengubah Fashion
Batik Berlayar Meriahkan Perayaan Hari Batik Nasional 2026 di Surabaya
Undone Fashion: Saat Gaya “Berantakan” Justru Jadi Tren para Selebritas di MTV VMAs 2026
Apa Itu Girdle? Kenali Fungsi dan Perbedaannya dengan Korset
9 Cara Merawat Pashmina Viscose yang Benar
Maximalist vs Avant-Garde: Kenapa Fashion yang “Gila” Sering Bikin Bingung?