Pernahkah kamu membayangkan
bagaimana "mencetak" siluet daun atau bunga langsung di atas kain
tanpa mesin dan cetakan digital? Itulah pesona teknik sunprint alias cyanotype
yang digunakan orang-orang jaman dulu untuk mencetak pola-pola unik bagian
tumbuhan pada kain atau kertas.
Tak butuh peralatan canggih atau
proses rumit. Hanya dengan sinar ultraviolet
(UV) dari matahari, siluet dedaunan
dan bunga-bunga yang indah bisa tercetak langsung di atas kain, kertas, hingga produk
dekorasi rumah. Seperti apa mekanismenya? Simak ulasan berikut ini, yuk!
Sun print adalah teknik mencetak motif pada permukaan kain atau kertas dengan memanfaatkan sinar matahari sebagai media pengembang warna. Teknik ini menawarkan proses pencetakan motif yang lebih ramah lingkungan.

Sumber: https://lyndaheines.com/
Tidak perlu tinta plastik, mesin
canggih, atau listrik bertegangan tinggi. Cukup dengan sinar ultraviolet (UV)
dari matahari, kamu bisa mengubah kaos polos, tote bag katun, atau kain linen tua jadi item fashion yang
punya cerita unik.
Prosesnya diawali dengan melapisi
permukaan kain menggunakan bahan peka cahaya. Lalu, objek seperti daun, bunga,
atau bagian tumbuhan lain di tempelkan sedemikian rupa di atasnya. Setelah itu,
barulah keduanya dijemur di bawah matahari.
Area yang terkena cahaya akan
bereaksi dan berubah warna, sedangkan bagian yang tertutup membentuk siluet
alami atau bayangan objek tersebut.
Metode sun print berkaitan erat dengan teknik Cyanotyoe yang ditemukan pada abad ke-19 oleh ilmuwan Inggris, Sir
John Herschel. Awalnya digunakan untuk keperluan dokumentasi ilmiah, cyanotype
kemudian berkembang menjadi teknik seni dan diaplikasikan ke berbagai media,
termasuk tekstil.
Lebih dari sekadar kerajinan
tangan, ia merupakan perpaduan antara sains kimia dan estetika alam karya seni
berwarna biru prussian.
Seiring perkembangannya, sun
print tidak lagi terbatas pada warna biru khas cyanotype. Banyak perajin dan
pelaku tekstil kini mengombinasikannya dengan pewarna alami. Sehingga
menghasilkan palet warna yang lebih beragam dan selaras dengan konsep ramah
lingkungan
Proses sun print sebenarnya tidak rumit, tapi membutuhkan sedolot ketelatenan dan kepekaan terhadap kondisi sekitar. Meski begitu, sinar matahari hanya berfungsi sebagai pemicu reaksi, bukan sebagai pewarna utama. Artinya, sunprint tidak bisa dilakukan tanpa bahan khusus atau zat fotosintesis.

Sumber: https://shop.getty.edu/
Setidaknya ada tiga bahan yang perlu kamu persiapkan untuk hasil karya sun print yang istimewa,:
·
Kain Alami,
Kunci utama
keberhasilan adalah tekstil serat alami, seperti katun, linen, atau sutra.
Karena daya serap serat sintetis seperti poliester tidak akan sebaik kain-kain
ini.
·
Zat fotosintesis,
Cairan Cyanotype
(The Magic Mix) juga menjadi campuran antara
Ferric Ammonium Citrate dan Potassium Ferricyanide. Kini,
kamu bisa menemukan "Cyanotype Kit" siap pakai di berbagai marketplace.
·
Objek Desain,
Disinilah kreativitasmu
diuji. Carilah objek-objek yang menurutmu indah dan menarik. Kamu bisa
menggunakan tanaman, renda tua, hingga klise foto transparan.
·
Kaca Bening
Disinilah kreativitasmu
diuji. Kamu bisa menggunakan tanaman, renda tua, hingga klise foto transparan.
Sunprint bukan sekadar menjemur
kain di bawah matahari. Ada tahapan persiapan, aplikasi bahan, hingga fiksasi
warna yang perlu diperhatikan agar motif tercetak jelas dan tahan lama.
Berikut langkah demi langkahnya:
Cuci kain
terlebih dahulu untuk menghilangkan sisa zat kimia pabrik. Setelah itu,
keringkan dan bentangkan di permukaan datar.
Proses dimulai di dalam ruangan yang redup. Campurkan
larutan A dan B dengan perbandingan 1:1. Notes:
hasil camputan tersebut berupa zat fotosinteis yang sangat sensitif terhadap
cahaya.
Dalam praktik sunprint berbasis alam, zat fotosensitif
bisa dibuat dari kombinasi pewarna alami, seperti:
• Daun indigo
• Secang
• Jati
• Ketapang
• Kunyit
Dan zat pengikat warna (Mordant):
• Tawas
(aluminium sulfat)
• Tunjung
(ferrous sulfate)
• Kapur
Oleskan larutan ke kain menggunakan kuas atau spons
secara merata. Lalu biarkan kering di tempat yang benar-benar gelap (di dalam
lemari atau kotak kardus).
Setelah kering, letakkan daun, bunga atau objek
pilihanmu di atasnya. Tindih dengan lembaran kaca bening agar objek menempel
sempurna pada kain. Langkah ini penting untuk menghasilkan tepi motif yang
tajam (crisp). Jika objek tidak menempel rapat, hasilnya akan terlihat
blur atau berbayang.
Selanjutnya, jemur kain di bawah terik matahari
langsung. Pilih waktu dimana indeks UV sedang tinggi dan mencapai puncaknya
yaitu antara pukul 10.00 hingga 14.00.
Biarkan selama 10-20 menit dan lihat perubahan warnanya.
Biasanya kain akan berubah dari kuning kehijauan menjadi biru tua keabu-abuan.
Inilah tanda bahwa reaksi kimia sedang berlangsung.
Terakhir, cuci dan bilas kain menggunakan air mengalir
untuk melunturkan sisa bahan kimia yang tidak terkena matahari. Proses ini akan
meninggalkan pola putih bersih di tengah latar belakang biru yang mulai pekat.
Untuk mendapatkan warna biru yang lebih dalam, tambahkan
beberapa tetes Hidrogen Peroksida (3%) ke dalam air bilasan. Warnanya
akan langsung berubah menjadi biru gelap yang dramatis.
Sebagai karya seni organic, kain sunprint membutuhkan
perawatan khusus agar warnanya tidak pudar. Cucilah secara manual dengan sabun
atau deterjen ber-pH Netral. Sebisa mungkin, hindari deterjen yang mengandung
fosfat atau pemutih karena dapat mengubah warna biru menjadi kuning. Keringkan
di tempat yang teduh.
Printing DTF vs DTG, Mana yang Lebih Sesuai Untuk Usahamu?
Kasurmu Bersih? Belum Tentu. Fakta Tentang Tungau yang Jarang Kita Sadari
Cushioning, Rahasia di Balik Sepatu Lari yang Nyaman
Kenapa Gaya Fashion Harus Diberi Nama, Padahal Bajunya Mirip-Mirip?
Icy Blue Warnai Tren Fashion Musim Dingin 2026
Kisah Sepatu Piero, Brand Asal Yogyakarta yang Sering Dikira Merek Italia
Kain Voal, Solusi Kantong Saku yang Ringan, Nyaman dan Tahan Lama
Hati-hati Ghost Stores: Penipuan Toko Fashion Online yang Semakin Sulit Dibedakan
Tren Fashion yang Sebenarnya Lahir dari Kesalahan (dan Kenapa Dunia Menerimanya)