Sejak awal kemunculannya, fashion
tidak pernah benar-benar netral. Ia bukan hanya soal menutup tubuh atau
mengikuti tren, melainkan sebuah bahasa
sosial—cara manusia menunjukkan posisi, kekuasaan, dan identitas tanpa
perlu bicara.
Menariknya, meskipun bentuk pakaian
terus berubah, fungsi fashion sebagai
simbol status hampir tidak pernah hilang. Yang bergeser hanyalah cara
penyampaiannya: dari yang kaku dan terang-terangan, menjadi semakin halus, lalu
kembali terang-terangan dengan cara yang berbeda.
Ketika
Pakaian Menentukan Kelas Sosial Secara Langsung
Di masa lalu, simbol status dalam
fashion bersifat langsung dan nyaris
tidak bisa disalahartikan. Cara berpakaian seseorang secara otomatis
menempatkannya dalam struktur sosial tertentu.
Pada abad ke-18 hingga awal abad
ke-20, pakaian bekerja seperti sistem kode:
·
Corset membentuk
tubuh ideal sekaligus menandakan bahwa pemakainya tidak perlu melakukan kerja
fisik.
·
Top hat dan tailcoat menunjukkan status pria kelas
atas—tinggi, kaku, dan tidak praktis.
·
Gaun dengan
kain berat, renda, dan ekor panjang menegaskan akses pada ruang luas,
waktu luang, dan tenaga pelayan.
Semakin rumit, berat, dan tidak
nyaman sebuah busana, semakin tinggi pula status sosial yang disiratkannya.
Dalam konteks ini, ketidakpraktisan justru menjadi kemewahan.
Fashion pada masa ini tidak memberi
banyak ruang untuk interpretasi. Salah berpakaian berarti salah kelas.
Saat Status
Tidak Lagi Berteriak, Tapi Berbisik
Memasuki abad ke-20, dunia mulai
berubah cepat. Revolusi industri, perang dunia, dan lahirnya kelas menengah
menggeser cara manusia hidup—dan berpakaian.
Pakaian harus menjadi lebih
fungsional. Perempuan mulai bekerja, mobilitas meningkat, dan siluet ekstrem
perlahan ditinggalkan. Namun simbol status tidak benar-benar menghilang. Ia
hanya berubah cara bicara.
Status kini tidak selalu tampil
mencolok, tetapi tersembunyi dalam: kualitas
bahan, potongan yang presisi, dan atau pakaian yang “jatuhnya pas”.
Nama brand tetap penting, tetapi
tidak selalu perlu ditunjukkan. Di titik inilah, benih dari apa yang kini kita
sebut sebagai quiet luxury mulai
tumbuh—meskipun istilahnya sendiri baru populer jauh belakangan.
Era Modern:
Ketika Status Harus Terlihat
Masuk ke akhir abad ke-20 dan awal
abad ke-21, simbol status kembali mengalami pergeseran besar. Kali ini, bukan
lagi tentang kesenyapan, melainkan visibilitas.
Di era media sosial, status harus: mudah dikenali, bisa difoto, dan bisa
dibagikan.
Logo besar, item viral, kolaborasi
terbatas, dan barang “susah didapat” menjadi penanda status baru. Tas, sepatu,
dan jam tangan tidak hanya dipakai, tetapi ditampilkan—sebagai
bukti akses, selera, dan daya beli.
Namun di sinilah paradoks muncul.
Ketika simbol status terlalu mudah dikenali, ia juga menjadi cepat kehilangan
daya eksklusifnya.
Old Money
vs New Money: Dua Cara Bicara tentang Status
Perbedaan ini sering dirangkum
dalam dua istilah populer: old money
dan new money. Keduanya bukan soal
benar atau salah, melainkan bahasa
status yang berbeda.
Gaya old money cenderung:
·
Minim logo
·
Warna netral
·
Potongan klasik
·
Status disampaikan lewat ketenangan
Sementara new money lebih memilih:
·
Logo jelas
·
Item statement
·
Tren terkini
·
Status disampaikan lewat pengakuan publik
Perbedaan ini lahir dari sejarah
dan latar budaya yang berbeda pula. Yang satu terbiasa dengan kekuasaan, yang
lain masih ingin merayakannya.
Apakah Kita
Sedang Mengulang Sejarah?
Menariknya, tren fashion saat ini
terasa seperti gerakan melingkar. Setelah periode panjang logo besar dan
over-branding, banyak orang kembali mencari pakaian yang: sederhana, rapi, dan tahan waktu.
Bukan karena ingin terlihat “kuno”,
tetapi karena lelah dengan simbol status yang terlalu berisik. Seolah-olah kita
kembali ke masa lalu, namun dengan kesadaran baru: status kini adalah pilihan, bukan kewajiban.
Penutup:
Status Selalu Ada, Cara Menyampaikannya yang Berubah
Fashion akan selalu menjadi simbol
status, karena manusia selalu ingin dikenali dan dipahami. Namun cara kita
mengirimkan sinyal itu terus berevolusi.
Dulu, status ditentukan oleh aturan
sosial yang kaku. Sekarang, status dinegosiasikan lewat pilihan personal.
Dan mungkin, di situlah fashion
modern menjadi paling jujur: bukan lagi tentang siapa kamu yang harus terlihat, melainkan siapa yang ingin kamu perlihatkan.
Bag Charm: Detail Kecil yang Membuat Tas Mu Lebih Ekspresif
Ketika Busana yang Dulu Dianggap Aneh, Kini Jadi Legenda: Ironi Dunia Fashion
Perjalanan SPECS, Dari Pelopor Sepatu Futsal Jadi Merek Sportswear yang Melegenda
Simbol Status dalam Fashion: Dulu vs Sekarang, Apa yang Sebenarnya Berubah?
Androgini Style, Gaya Berbusana Yang Menembus Batasan Gender
6 Layanan Reparasi Sepatu yang Bisa Kamu Coba!
Kenapa Tren Selalu Berulang Tiap ±20 Tahun? Ini Penjelasan di Baliknya
Laundry Kiloan vs Self Service, Mana yang Lebih Baik?
Di Balik Nama Dagang Kain, Panduan Memilih Rayon Berkualitas di Bahankaincom
Perbedaan Stocking, Tights, Pantyhose, dan Leggings: Jangan Salah Pilih dalam Fashion