Setiap kali kita berdiri di depan
lemari dan bertanya, “pakai yang longgar
atau yang ketat ya?”, keputusan itu sering terasa sepele. Padahal, di balik
pilihan sederhana itu, ada sejarah panjang tentang bagaimana tubuh
manusia—terutama tubuh perempuan—terus dinilai, diatur, dan dimaknai lewat
pakaian.
Perdebatan soal longgar dan ketat
bukan produk media sosial atau tren modern. Ia sudah ada sejak ratusan tahun
lalu, berubah bentuk mengikuti zamannya, tapi selalu membawa pertanyaan yang
sama: siapa yang berhak menentukan
bagaimana tubuh seharusnya terlihat?
Ketika
Pakaian Belum Mengatur Tubuh
Pada masa awal peradaban seperti
Mesir Kuno, Yunani, dan Romawi, pakaian cenderung longgar dan mengalir. Bukan
karena alasan moral, melainkan karena fungsi. Iklim panas, teknik jahit yang
terbatas, dan mahalnya kain membuat pakaian dirancang mengikuti tubuh, bukan
membentuknya.
Di masa ini, tubuh belum dianggap
sesuatu yang harus “dikoreksi”. Draperi kain justru menjadi simbol
status—semakin banyak kain, semakin tinggi kedudukan sosial. Menampakkan lekuk
tubuh tidak otomatis dianggap tidak pantas. Yang penting adalah harmoni dan
proporsi.
Pada titik ini, pakaian belum
menjadi alat penilaian moral. Ia masih netral.
Saat Moral
dan Agama Mulai Masuk ke Siluet
Perubahan besar terjadi ketika
nilai moral dan agama mulai melekat kuat pada tubuh. Memasuki Abad Pertengahan,
tubuh dipandang sebagai sesuatu yang rawan—mudah jatuh pada dosa, mudah
menggoda, dan karenanya perlu dikendalikan.
Pakaian longgar kemudian diberi
makna baru: sopan, pantas, bermoral.
Sebaliknya, pakaian yang mengikuti
bentuk tubuh mulai dicurigai, bukan karena potongannya semata, tetapi karena
tubuh—terutama tubuh perempuan—dianggap mampu “mengganggu tatanan”.
Di sinilah pakaian berubah fungsi.
Ia bukan lagi sekadar pelindung, tapi alat
ukur karakter. Dari siluet, orang merasa berhak menilai niat, moral, bahkan
harga diri seseorang.
Ketat yang Terkendali:
Disiplin dalam Bentuk Busana
Ironisnya, sejarah tidak berhenti
pada glorifikasi pakaian longgar. Justru pada masa ketika moral dan kesopanan
diagungkan, muncul pakaian super ketat seperti korset pada abad ke-16 hingga
19.
Korset bukan simbol kebebasan atau
sensualitas. Ia adalah simbol disiplin. Tubuh dibentuk agar sesuai standar
ideal—pinggang kecil, postur tegak, siluet “rapi”. Rasa sakit, sesak napas,
bahkan dampak kesehatan dianggap harga yang wajar demi tampilan yang dianggap
bermoral dan berkelas.
Ketat, pada fase ini, bukan tentang
mengekspresikan diri. Ia adalah cara paling nyata untuk menunjukkan bahwa tubuh
bisa—dan harus—ditundukkan.
Abad ke-20:
Tubuh Mulai Mengklaim Ruang
Memasuki abad ke-20, terutama
setelah Perang Dunia, hubungan antara tubuh dan pakaian mulai bergeser.
Perempuan bekerja, bergerak, dan menuntut kebebasan yang lebih nyata. Korset
ditinggalkan, siluet melonggar, dan fungsi kembali menjadi pertimbangan utama.
Namun sejarah selalu berputar.
Ketika pakaian ketat kembali populer pada pertengahan hingga akhir abad ke-20,
maknanya tidak lagi sama. Ketat mulai dibaca sebagai ekspresi kepercayaan diri,
kebebasan seksual, dan klaim atas tubuh sendiri.
Untuk pertama kalinya, pakaian
ketat bisa berarti: aku memilih ini,
bukan dipilihkan untukku.
Longgar di
Era Modern: Pilihan atau Pertahanan
Sumber: https://morimiss.blogspot.com/
Di zaman sekarang, pakaian longgar
kembali mendominasi—dengan alasan yang terdengar sederhana: nyaman, praktis,
aman. Namun di balik itu, sering ada lapisan lain yang jarang diakui.
Bagi sebagian orang, longgar adalah
bentuk ekspresi nilai, identitas, atau keyakinan.
Bagi yang lain, ia adalah
perlindungan—dari tatapan, dari komentar, dari penilaian yang tak diminta.
Di titik ini, pertanyaannya bukan
lagi soal mana yang lebih sopan atau lebih pantas. Pertanyaannya bergeser
menjadi: apakah pilihan itu benar-benar
bebas, atau lahir dari tekanan yang sudah lama dinormalisasi?
Refleksi:
Longgar dan Ketat Tak Pernah Netral
Sumber: https://www.bustle.com/
Sejarah menunjukkan bahwa baik
pakaian longgar maupun ketat sama-sama pernah dipakai untuk mengontrol tubuh.
Keduanya juga pernah menjadi alat pembebasan. Maknanya tidak pernah tetap—ia
selalu ditentukan oleh konteks sosial, politik, dan moral zamannya.
Yang sering luput dibahas bukan
potongan bajunya, tapi siapa yang
memegang kuasa atas makna itu.
Penutup
Mungkin diskusi paling jujur
tentang fashion hari ini bukan soal tren atau siluet, melainkan soal kebebasan
memilih tanpa rasa takut. Takut dinilai. Takut disalahkan. Takut dianggap salah
hanya karena tubuh terlihat atau justru disembunyikan.
Ketika pilihan berpakaian
benar-benar datang dari kesadaran, bukan tekanan, di situlah fashion berhenti
menjadi alat kontrol.
Ia kembali menjadi sesuatu yang
seharusnya sejak awal: ruang dialog
antara tubuh dan diri sendiri.
Pakaian Longgar vs Ketat: Sejarah Moral, Agama, dan Cara Tubuh Dikontrol Lewat Busana
Dari “New Look” hingga LVMH, Inilah Sejarah Perjalanan Dior Dari Waktu ke Waktu
Baju Rumah yang Kita Anggap Sepele, Tapi Punya Sejarah Fashion Panjang
Nggak Cuma Adem, Ini 5 Alasan Kain Rayon Jadi Bahan Daster Favorit Kaum Wanita
Kenapa Orang Indonesia Punya Baju Kondangan Khusus?
Awas, Ini 6 Bahaya Menjemur Pakaian Basah di Dalam Rumah
Nike Mind, Sepatu Berbasis Neurosains yang Diklaim Tingkatkan Fokus dan Konsentrasi
Kilau yang Tak Pernah Padam: Sejarah Bling-Bling dan Evolusi Warna Metallic
Ketika Baju Paling Sederhana Justru Paling Sulit Dipilih
Hierarki Tas Hermès, Dari Entry Level hingga Impian Kolektor Sejati