Tidak semua orang membeli tas branded
karena ingin terlihat mewah. Ada yang memandang tas tersebut sebagai teman
harian, simbol pencapaian, atau bagian dari perjalanan hidup mereka. Sedangkan
di lingkaran fashion luxury, Hermès berada di persimpangan ketiganya, antara
fungsi, emosi, dan nilai.
Membicarakan Hermès tidak pernah
sesederhana soal harga. Brand asal Prancis ini memiliki hierarki tas yang jelas, mulai dari model yang relatif mudah
diakses hingga koleksi ultra langka yang nyaris mustahil dimiliki. Hierarki
tersebut turut mencerminkan gaya hidup
dan cara seseorang memaknai fashion.
Hermès merupakan rumah mode asal
Prancis yang dikenal luas lewat komitmennya pada kualitas, ketelitian, dan
tradisi craftsmanship tingkat tinggi. Berdiri sejak abad ke-19, merek ini
membangun reputasinya dari produk berbahan kulit yang dikerjakan secara manual
oleh pengrajin berpengalaman. Seiring waktu, Hermès menjelma menjadi simbol
kemewahan yang tak lekang oleh tren.
Selama bertahun-tahun pula, nama
Hermès identik dengan tas berkualitas tinggi yang dirancang untuk bertahan
lama, baik dari sisi fungsi maupun nilai. Tak mengherankan jika tas Hermès
terus menjadi incaran para pecinta fashion di seluruh dunia.
Menariknya, di balik popularitas tersebut, Hermès memiliki hierarki tas yang jelas, dimana setiap level menghadirkan model berbeda dengan tingkat eksklusivitas dan karakter yang mencerminkan perjalanan seseorang dalam konteks luxury fashion.
Berikut beberapa tingkatan tas Hermès
Bagi banyak pecinta fashion, perkenalan dengan Hermès
justru dimulai dari tas-tas yang tidak terlalu “mengintimidasi”. Model seperti Evelyne,
Garden Party, Picotin, Herbag, atau Lindy sering disebut sebagai entry level
Hermès. Bukan karena kualitasnya rendah, melainkan karena desainnya lebih
kasual dan realistis untuk penggunaan sehari-hari.
Tas-tas ini sering terlihat dipakai untuk bekerja,
berbelanja, hingga bepergian santai. Di titik ini, Hermès terasa lebih membumi.
Kualitas kulitnya tetap khas, jahitannya tetap presisi, tetapi fungsinya
benar-benar menyatu dengan aktivitas harian.
Bagi banyak orang, tas entry level Hermès adalah
bentuk self-reward yang tidak berlebihan—sebuah cara menikmati
craftsmanship tanpa harus masuk ke dunia koleksi yang terlalu eksklusif.
Naik satu tingkat, kita masuk ke dunia tas klasik
Hermès. Nama-nama seperti Kelly Étoupe 28, Birkin Black 30, dan Constance
bukan lagi sekadar produk, tetapi simbol yang sudah hidup puluhan tahun dalam
budaya fashion global.
Di level ini, tas mulai berperan sebagai pernyataan
gaya. Banyak pemilik Birkin atau Kelly tidak membelinya untuk mengikuti tren,
melainkan karena desainnya yang tak lekang waktu. Tas klasik Hermès sering
disebut sebagai forever bag—tas yang relevan hari ini, lima tahun lagi,
bahkan satu dekade ke depan.
Di sinilah Hermès mulai menjadi bagian dari identitas
pemiliknya. Tas bukan hanya dipakai, tetapi juga dirawat, disimpan, dan sering
kali memiliki cerita personal di baliknya.
Tidak semua orang yang menyukai Hermès ingin berhenti
di tas klasik. Bagi penggemar serius, ketertarikan mulai bergeser dari “model
populer” ke “model yang terasa lebih personal”.
Tas kategori rare biasanya hadir dalam ukuran mini,
warna tertentu, atau material yang tidak selalu tersedia setiap musim. Kelly
Pochette, Kelly ukuran kecil, atau Constance dengan kulit eksotis sering
menjadi pilihan mereka yang sudah memahami selera sendiri.
Di level ini, Hermès tidak lagi soal status. Ia
menjadi soal preferensi. Tas dipilih karena cocok dengan karakter, bukan karena
pengakuan sosial.
Tas ultra rare
seperti Kelly 28 Ostrich Gold
dan Birkin 25 Alezan Retourne Matte
Alligator, membawa Hermès ke wilayah yang berbeda. Material alligator
atau ostrich, proses pengerjaan yang jauh lebih kompleks, serta produksi
yang sangat terbatas menjadikan tas di level ini lebih dekat dengan karya seni
daripada pelengkap gaya berbusana.
Tidak semua tas di kategori ini dibeli untuk dipakai.
Banyak yang disimpan sebagai koleksi, bahkan diwariskan. Di sini, Hermès
menjadi simbol apresiasi terhadap craftsmanship tingkat tinggi, hasil kerja
tangan yang membutuhkan waktu, keahlian, dan kesabaran.
Di puncak hierarki Hermès, ada tas yang hampir semua
orang kenal, tetapi sangat sedikit yang benar-benar memilikinya: Hermès
Himalayan Birkin. Tas ini sering disebut sebagai holy grail karena
kelangkaannya, material buaya Niloticus yang dipilih secara ekstrem selektif,
serta teknik pewarnaan gradasi yang rumit.
Namun menariknya, tidak semua pencinta Hermès bercita-cita
sampai ke titik ini. Bagi banyak orang, memahami dan mengagumi Himalayan Birkin
sudah cukup. Tidak semua mimpi harus dimiliki, sebagian cukup dinikmati sebagai
simbol puncak penghargaan dan craftsmanship.
Hierarki produk Hermès
menunjukkan bahwa kemewahan sejati tidak selalu tetang harga, tapi juga
berkaitan dengan kecocokan, proses, serta kisah personal seseorang. Dan mungkin
di situlah kekuatan Hermès sebagai brand lifestyle: ia tidak memaksa semua
orang berada di puncak, tetapi memberi ruang bagi setiap orang untuk menikmati
perjalanan dengan caranya sendiri.
Hierarki Tas Hermès, Dari Entry Level hingga Koleksi Impian Kolektor Sejati
Kain Nomex, Rahasia di Balik Seragam Pemadam Kebakaran yang Super Tangguh
Outfit Rumah vs Outfit Keluar Rumah: Kenapa Bisa Beda Banget?
Batasan yang Mencair, Menguak Fakta Dibalik Tren Fashion yang Semakin Terbuka
Awas Overdrying! Jangan Tunggu Pakaianmu Kering Kerontang dan Kaku
Sejarah Pakaian Berkabung: Kenapa Dulu Harus Hitam?
Bag Charm: Detail Kecil yang Membuat Tas Mu Lebih Ekspresif
Ketika Busana yang Dulu Dianggap Aneh, Kini Jadi Legenda: Ironi Dunia Fashion
Perjalanan SPECS, Dari Pelopor Sepatu Futsal Jadi Merek Sportswear yang Melegenda
Simbol Status dalam Fashion: Dulu vs Sekarang, Apa yang Sebenarnya Berubah?