Punya tumpukan baju yang sudah
tidak pernah dipakai? Sebagian orang mungkin langsung memasukkannya ke kantong
sampah, sementara yang lain memilih menyumbangkan, menjual, atau mengubahnya
menjadi barang baru. Masalahnya, tidak semua pakaian cocok untuk didonasikan
atau didaur ulang.
Di Indonesia, persoalannya juga
tidak sesederhana “tinggal bawa ke tempat recycling”.
Fasilitas pengumpulan dan pengolahan tekstil belum mudah ditemukan di semua
daerah. Bahkan di sejumlah wilayah pedesaan, pengelolaan sampah rumah tangga
masih banyak dilakukan secara mandiri karena layanan pengangkutan dan fasilitas
pengolahan belum tersedia.
Lantas, bagaimana cara paling
bertanggung jawab menyingkirkan pakaian bekas?
Jangan
Langsung Menganggap Baju Bekas sebagai Sampah
Langkah pertama adalah melihat
apakah pakaian tersebut sebenarnya masih bisa digunakan.
Pakaian yang masih bersih, utuh,
dan layak pakai sebaiknya dipertahankan selama mungkin. Bisa dipakai sendiri,
diberikan kepada keluarga atau tetangga yang memang membutuhkan, dijual sebagai
pakaian preloved, atau disalurkan
melalui program donasi yang benar-benar menerima pakaian.
Sumber: www.marthastewart.com
Prinsip ini sejalan dengan
pendekatan pengelolaan sampah yang menempatkan pengurangan dan penggunaan
kembali sebagai bagian penting sebelum sampah masuk ke tahap pembuangan. UU No. 18 Tahun 2008 sendiri mengatur
pengelolaan sampah secara komprehensif dari hulu hingga hilir, termasuk
pengurangan melalui pembatasan, penggunaan kembali, dan daur ulang. (Database Peraturan | JDIH BPK)
Namun, donasi bukan berarti semua pakaian bekas harus diberikan kepada orang
lain.
Baju yang sudah sangat lusuh,
bernoda permanen, berjamur, sobek parah, atau tidak nyaman dipakai sebaiknya
tidak dipaksakan menjadi pakaian donasi. Kalau tidak ada penerima yang
membutuhkan, donasi justru berisiko hanya memindahkan persoalan sampah kepada
pihak lain.
Kalau Sudah
Tidak Layak Pakai, Masih Bisa Dimanfaatkan
Pakaian yang sudah tidak pantas
dikenakan belum tentu kehilangan seluruh kegunaannya.
Kaus lama, misalnya, bisa dipotong
menjadi kain lap. Celana atau kemeja yang sudah rusak dapat dimanfaatkan untuk
pekerjaan rumah tangga tertentu. Tidak perlu memiliki keterampilan menjahit
atau membuat kerajinan rumit untuk melakukan hal ini.
Sumber: www.hallmarkchannel.com
Jadi, upcycling tidak harus selalu
berarti mengubah pakaian menjadi tote bag
atau produk kerajinan yang cantik. Sesederhana menggunakan materialnya
sampai benar-benar habis masa gunanya pun sudah membantu memperpanjang
pemanfaatan tekstil.
Dalam pedoman inventarisasi limbah
pemerintah, pakaian bekas, selimut, kain perca, majun, lap, dan produk tekstil
lainnya memang termasuk dalam kategori sampah kain dan produk tekstil. Artinya,
pakaian yang sudah tidak digunakan tetap merupakan bagian dari persoalan
pengelolaan sampah yang perlu ditangani. (Sign Smart)
Bagaimana
Kalau Tidak Ada Tempat Recycling?
Ini bagian yang sering luput dari
pembahasan soal sustainable fashion.
Tidak semua daerah mempunyai drop box tekstil, fasilitas recycling, bank sampah yang menerima pakaian,
atau komunitas upcycling. Bahkan
keberadaan bank sampah tidak otomatis berarti semua jenis tekstil dapat
diterima dan diolah di sana.
Pemerintah memang memiliki sistem
bank sampah dan pencatatan fasilitas pengelolaan sampah, termasuk fasilitas
yang menangani material untuk daur ulang dan upcycling. Namun ketersediaan fasilitas tersebut tetap berbeda-beda
antarwilayah. (Database
Peraturan | JDIH BPK)
Karena itu, kalau belum menemukan
fasilitas recycling di sekitar tempat
tinggal, pakaian yang masih mungkin digunakan sebaiknya disimpan terlebih dahulu dalam kondisi bersih dan kering, sambil
mencari saluran pengumpulan yang tersedia. Jangan merasa harus segera
membuangnya hanya karena belum menemukan tempat recycling.
Bagaimana
dengan Warga di Desa?
Sumber: www.jpnn.com
Di sebagian wilayah pedesaan, kondisinya
bisa jauh berbeda. Masyarakat mungkin belum memiliki layanan pengangkutan
sampah rutin, bank sampah, bahkan fasilitas pembuangan akhir yang mudah
dijangkau. Sampah rumah tangga akhirnya dikelola masing-masing keluarga. Dalam
situasi seperti ini, menyuruh semua orang “kirim pakaian ke fasilitas recycling” tentu bukan solusi yang
realistis.
Yang bisa dilakukan adalah
mempertahankan hierarki sederhana: gunakan
kembali selama memungkinkan, manfaatkan materialnya, cari saluran pengumpulan
ketika tersedia, dan jadikan pembuangan akhir sebagai pilihan terakhir.
Yang penting, keterbatasan
fasilitas jangan membuat pakaian dibuang ke sungai, lahan terbuka, atau
lingkungan sekitar.
Bolehkah
Baju Bekas Dibakar?
Sebisa mungkin, hindari pembakaran pakaian secara terbuka.
Sumber: www.jpnn.com
Pakaian modern tidak selalu terbuat
dari serat alami. Banyak produk mengandung polyester,
nylon, acrylic, elastane, atau
campuran berbagai serat dan bahan tambahan. Pembakaran terbuka tidak memberikan
kondisi pengendalian emisi seperti fasilitas pengolahan berteknologi khusus.
Selain berpotensi menghasilkan asap
dan polutan, pembakaran terbuka juga sulit dikendalikan dan dapat mengganggu
kualitas udara di sekitar rumah. Pemerintah sendiri menempatkan pengelolaan
sampah sebagai proses yang harus dilakukan secara aman bagi lingkungan dan
kesehatan masyarakat. (Database Peraturan | JDIH BPK)
Karena itu, “sudah tidak terpakai,
bakar saja” bukan solusi universal untuk pakaian bekas.
Kalau
Dikubur, Apakah Lebih Aman?
Mengubur pakaian juga bukan pilihan
ideal.
Sumber: gippslandunwrapped.com
Sebagian serat alami memang dapat
terurai secara biologis, tetapi pakaian biasanya terdiri dari berbagai
material. Polyester dan serat
sintetis lainnya tidak akan begitu saja menghilang ketika dikubur. Benang,
kancing, resleting, elastane,
pewarna, serta komponen lainnya juga membuat pakaian tidak sama dengan sampah
organik seperti daun.
Jadi, kalau tidak ada fasilitas
pengolahan, jangan otomatis mengganti
pembakaran dengan menguburnya.
Pada
Akhirnya, Tidak Semua Baju Bisa “Diselamatkan”
Inilah bagian yang penting untuk
dipahami.
Konsep sustainable fashion bukan berarti setiap helai pakaian harus selalu
berhasil didaur ulang. Dalam kondisi tertentu, seseorang memang tidak memiliki
akses terhadap fasilitas recycling
atau pengelolaan tekstil. Yang bisa dilakukan adalah memaksimalkan umur pakaian
dan mengurangi pembuangan selama masih memungkinkan.
Urutannya sederhana:
Pakai selama mungkin → gunakan kembali → berikan/jual/donasikan jika
benar-benar dibutuhkan → manfaatkan sebagai kain → cari fasilitas recycling
jika tersedia → buang sebagai pilihan terakhir.
Dan ketika pilihan terakhir itu
benar-benar terjadi, yang paling penting adalah memastikan pakaian tidak
dibuang sembarangan atau dibakar secara terbuka.
Pada akhirnya, persoalan pakaian
bekas bukan hanya soal perilaku individu. Infrastruktur pengelolaan sampah juga
berperan besar. UU No. 18 Tahun 2008 bahkan menempatkan pemerintah, pemerintah
daerah, masyarakat, dan dunia usaha dalam sistem pengelolaan sampah. (Database Peraturan | JDIH BPK)
Jadi, daripada menyalahkan orang
karena tidak bisa melakukan recycling
atau upcycling, pendekatan yang lebih
realistis adalah menggunakan pakaian
selama mungkin sekaligus mendorong tersedianya sistem pengelolaan tekstil yang
lebih mudah dijangkau masyarakat.
Baca juga: Daur Ulang Pakaian Bekas, Dorong Sustainability dan Peningkatkan Ekonomi
Sejarah Revenge Dress, Gaun Ikonik Putri Diana yang Akan Kembali Dilelang
Baju Bekas Mau Dibuang? Jangan Asal Masuk Tempat Sampah!
Denim Crosshatch, Tekstur Silang yang Bikin Jeans Makin Berkarakter
Seberapa Canggih Racing Suit MotoGP? Ini Bahan dan Teknologi di Balik Baju Rider
Jangan Asal Pilih, Ini Kriteria Kain yang Cocok untuk Shibori!
Dari Celana Buruh Jadi Barang Mewah: Saat Calvin Klein Membawa Jeans ke Runway
Mengenal Jenis Table Linen dan Fungsinya
Kompor Minyak vs Kompor Listrik, Mana yang Lebih Praktis Untuk Membatik?
Yakin Rumah Udah Bersih? 8 Kain Ini Ternyata Menyimpan Jutaan Alergen Kalau Nggak Sering Dicuci!
Yves Saint Laurent: Sejarah, Identitas dan Perkembangannya Saat Ini