Sepatu boots berbahan kulit domba
dengan lapisan bulu yang lembut ini mungkin terlihat sederhana. Namun, siapa
sangka UGG pernah menjadi salah satu
simbol fashion paling ikonik pada era 2000-an dan kembali menarik perhatian
generasi muda lewat berbagai model baru?
Popularitas UGG bukan sekadar soal
kenyamanan. Di balik desainnya yang khas, ada sejarah budaya berselancar,
kontroversi merek dagang, pengaruh selebritas, hingga strategi yang membuat
produk klasik kembali relevan di tengah perubahan tren fashion.
Berawal
dari Budaya Berselancar Australia
Jauh sebelum menjadi ikon street style, boots berbahan kulit domba
sudah dikenal di Australia sebagai alas kaki yang menghangatkan. Sepatu ini
populer di kalangan peselancar yang ingin menjaga kaki tetap hangat setelah
beraktivitas di laut, terutama pada pagi hari yang dingin. Istilah ugg boots digunakan untuk menyebut jenis
boots berbahan kulit domba tersebut. Namun, asal-usul pasti istilah dan penemu
pertamanya masih diperdebatkan.
Sumber: note.com
Kisah UGG sebagai merek global
mulai berkembang pada akhir 1970-an. Brian Smith, seorang peselancar asal
Australia, membawa ide tersebut ke California pada 1978. Ia melihat peluang
untuk memperkenalkan boots kulit domba kepada komunitas peselancar di Amerika
Serikat.
Awalnya, produk ini tidak langsung
diterima oleh toko-toko. Smith kemudian menjualnya secara langsung di kawasan
pantai California. Perlahan, popularitasnya meningkat hingga menarik perhatian
konsumen di luar komunitas peselancar. Hingga akhirnya pada 1995, bisnis dan
hak merek terkait kemudian berpindah ke Deckers Brands. (UGG)
Bagaimana
UGG Menjadi Ikon Fashion?
Perjalanan UGG dari alas kaki
fungsional menjadi produk fashion global berlangsung melalui kombinasi budaya
pop, pemasaran, dan perubahan gaya berpakaian.
Sumber: moonagedaydream.film
Pada awal 2000-an, boots UGG semakin
populer di Amerika Serikat. Sejumlah selebritas Hollywood terlihat
mengenakannya dalam aktivitas sehari-hari maupun foto paparazi. Kehadiran
mereka membantu memperkenalkan boots tersebut kepada khalayak yang lebih luas. UGG
juga mendapat perhatian setelah Oprah Winfrey memasukkan produknya ke dalam
daftar Oprah's Favorite Things pada 2000. Eksposur semacam ini membantu
meningkatkan popularitas merek di kalangan konsumen Amerika.
Menariknya, UGG tidak harus
dipadukan dengan pakaian musim dingin yang tebal. Boots ini justru sering
dikenakan bersama celana jeans, rok mini, legging, hingga pakaian kasual.
Kontras antara bentuk boots yang besar dan pakaian yang lebih ringan menjadi
bagian dari estetika fashion era tersebut. Dari situ, UGG pun berkembang
menjadi simbol gaya santai yang mengutamakan kenyamanan tanpa sepenuhnya
meninggalkan tren.
Kontroversi
Nama UGG: Merek atau Istilah Umum?
Di balik kesuksesannya, UGG
memiliki sejarah merek dagang yang cukup rumit.
Di Australia, istilah ugg atau ugg boots telah lama digunakan secara umum untuk menyebut boots
berbahan kulit domba. Namun, di banyak negara lain, UGG dikenal sebagai merek
dagang milik Deckers Brands, perusahaan Amerika Serikat yang mengembangkan
bisnis tersebut secara internasional.
Retailer Alexander Garfield displays his ugg boots
Perbedaan status hukum istilah
tersebut memicu perselisihan dengan sejumlah produsen boots Australia. Bagi
sebagian produsen Australia, ugg
merupakan nama generik untuk kategori alas kaki, bukan nama yang semestinya
dimiliki secara eksklusif oleh satu perusahaan.
Sementara itu, Deckers
mempertahankan hak merek UGG di berbagai pasar internasional. Akibatnya,
produsen Australia menghadapi pembatasan dalam menggunakan nama tersebut ketika
menjual produk ke negara-negara tertentu.
Kontroversi ini menunjukkan bahwa
identitas suatu produk dan kepemilikan merek dagangnya tidak selalu berjalan
beriringan. Sebuah istilah yang dianggap umum di negara asalnya bisa memiliki
status hukum berbeda di negara lain. (ABC News)
Sempat
Meredup, UGG Kembali Dilirik Generasi Muda
Setelah populer pada awal 2000-an,
boots UGG sempat kehilangan sebagian daya tariknya di tengah perubahan tren
fashion. Namun kebangkitan tren Y2K membawa kembali berbagai elemen fashion,
termasuk boots berukuran besar. Pada saat yang sama, meningkatnya perhatian
terhadap kenyamanan membuat alas kaki yang empuk dan kasual kembali diminati.
Sumber: www.laced.com
UGG juga memperluas pilihan
produknya agar tidak hanya bergantung pada boots klasik. Model seperti Tasman
dan Tazz memperkenalkan siluet yang lebih pendek dengan desain slip-on, sedangkan variasi platform
memberikan tampilan yang lebih tebal dan modern.
Media sosial turut membantu
memperkenalkan model-model tersebut kepada konsumen muda. Produk yang
sebelumnya identik dengan gaya selebritas era 2000-an kini dapat dipadukan
dengan berbagai estetika, mulai dari streetwear
hingga gaya kasual minimalis.
Kembalinya UGG menjadi contoh
bagaimana tren lama bisa memperoleh kehidupan baru ketika bertemu dengan selera
generasi yang berbeda.
Dari Boots
hingga Simbol Status
Salah satu hal menarik dari UGG
adalah kemampuannya menjadikan desain yang relatif sederhana sebagai bagian
dari identitas fashion. Berbeda dengan sepatu mewah yang menonjolkan konstruksi
formal atau ornamen rumit, daya tarik UGG terletak pada siluet khas, material
yang lembut, kenyamanan, dan pengenalan merek.
Sumber: www.vogue.com
Popularitasnya juga memperlihatkan
bahwa simbol status dalam fashion tidak selalu harus terlihat formal. Produk
kasual pun bisa memiliki nilai prestise ketika identitas mereknya dikenal luas
dan diasosiasikan dengan gaya hidup tertentu. Di sisi lain, UGG tidak lagi
terbatas pada satu bentuk boots. Perkembangan koleksinya menunjukkan bagaimana
merek dapat mempertahankan ciri khas sambil menyesuaikan produk dengan
kebutuhan dan selera pasar.
Pada akhirnya, perjalanan UGG
membuktikan bahwa produk fashion tidak harus terus-menerus berubah untuk tetap
relevan. Terkadang, desain yang kuat justru bisa bertahan dengan mengadaptasi
cara baru untuk dikenakan dan dimaknai.
Dari perlengkapan peselancar hingga
ikon fashion global, UGG menunjukkan bahwa kenyamanan, budaya pop, dan strategi
merek dapat bekerja bersama dalam membentuk sebuah fenomena fashion.
Baca juga: Sejarah Sepatu Boots: Dari Alat Perang Hingga Ikon Fashion Dunia
UGG: Dari Boots Peselancar hingga Ikon Fashion yang Bangkit Kembali
High Collar, Detail Kecil yang Bikin Jaket Punya Karakter
Anti Gagal! 5 Tips Styling Flat Shoes agar Penampilan Tetap 'ON'
7 Gaya Fashion yang Dianggap Ketinggalan Zaman untuk Usia 50 Tahun ke Atas, Masih Suka Pakai?
Modern dan Berkarakter, Bagaimana GOENA Mendefinisikan Ulang Tren Pakaian Esensial
Demi Keselamatan Model, LVMH dan Kering Perketat Aturan Industri Fashion
Mengenal InOneGO, Teknologi Pewarnaan Denim yang Lebih Efisien
7 Trik Padupadan Outfit Motif Buat Pemula
Rahasia Baju Peplum: Dari Bikin Bodi Makin "Hourglass" Sampai Trik Stylenya!
Skewing dan Bowing, Penyebab Motif Kain Miring Setelah Dijahit