Kain Thai Silk, kain yang berasal dari Negara Thailand ini merupakan jenis kain sutra premium yang sarat akan keindahannya. Kain dengan harga yang cukup menguras kantong ini mampu memberikan kemewahan serta kepuasan tersendiri bagi pemakainya. Dalam artikel kali ini, bahankaincom akan membahas tentang kain Thai Silk atau Sutra Thailand. Kain sutra Thailand ini akan mencipatakan sensasi lembut yang unik ketika menyentuh kulit penggunanya.
Legenda Kain Thai Silk
Menurut sejarah 4000 tahun yang lalu, seorang ratu bernama Rafu Gnuanhui (Srilinsri) mengunjungi sebuah taman kerjaan yang dipenuhi berbagai macam pepohonan dan diantaranya pohon murbei. Ditempat itu sambil meminum secangkir teh dibawah pohon murbei, kepompong jatuh dari atas dan masuk kedalam cangkir. Ketika ia mencoba untuk mengambil kepompong tersebut, benang yang sangat halus ulai mengurai dari dalam cangkirnya. Namun saat itu, hal tersebut masih dirahasiakan karena menjadi symbol status dan takut akan terungkap oleh orang ramai.
Perkembangan Kain Thai Silk
Sutra Thai adalah suatu hasil industru yang dikenal di dunia. Kain ini ditenun dari benang sutra yang bersal dari kepompong ulat sutra. Dalam sejarah yang ada, orang Chinalah yang pertama memintal kepompong ulat sutra untuk menjadi kain dan kemudian dibuat dalam bentuk pakaian dan keperluan lainnya.
Sebelumnya insudtri sutra di Thailand tidak mendapat dukungan dari pihak kerajaan. Baru pada tahin 1902, Raja Chulalongkorn memerintahkan Kementrian Pertanian untuk mempromosikan produksi kain sutra dan melakukan uji coba disetiap wilayah. Hingga Kementrian Pertanian membangun sebuah tempat percobaan untuk penanaman pohon mulberi di Saladaeng Bangkok dan meminta Ratu Saowabha untuk belajar menenun seperti yang dilakukan di Jepang dibawah bimbingan guru dari Jepang selama 2 tahun.
Pada tahun 1904, dibangunlah kantor di Khorat, dan inilah sebagai awal Divisi Industri Sutra dimulai.
Thai Silk dikembangkan di Dataran Tinggi Korat, daerah Isaan, tepatnya di sisi Timur Laut Thailand. Pada awalnya insudtri ini sangat kecil karna hanya digunakan untuk konsumsi pribadi masyarakat Isaan. Masyarakat Thailand menganggap kain Thai Silk yang tebal tidaklah nyaman digunakan di suhu tropis dan juga dipengaruhi harganya yang mahal, sehingga penggunaannya hanya dapat digunakan pada acara resmi atau pesta.
Hingga pada tahun 1948 bisnis Thai Silk dibuka, dan Jim Thompson menemukan kesulitan dalam pengembangan pasarnya. Bahkan hal ini nerlangsung hingga tahun 1950, dimana ketika Thompson membuka toko untuk pertama kalinya dengan pelanggan yang hampir seluruhnya turis asing. Padahal pada saat itu, kai Thai Silk telah merebut perhatian pasar Amerika Serikat melalui koneksi luas Jim Thompson.
Thai Silk akhirnya mencapai puncak kejayaan di Thailand dan global ketika kain tersebut digunakan pada film musikal “The king and I” pada tahun 1956 yang berseting kerjaan Siam dibawah Raja Mongkut.
Dan hal ini tetap dilakukan oleh raja dan ratu kerajaan Thailand disetiap kunjungan ke Eropa dan Amerika dengan membawa kain sutra sebagai hadiah. Dan saat ini, kain sutra Thailand dikenal maupun disukai di seluruh dunia.
Bukan Heels Biasa, Ini Alasan Kenapa Kitten Heels Kembali Tren
Mengenal Amekaji Style, Gaya Fashion Jepang dan Ciri Khasnya
Geger Dunia Fashion! Mengapa Pameran John Galliano di Met Gala 2027 Mendadak Dibatalkan?
Kisah di Balik PUMA, Rivalitas Dua Bersaudara yang Mengubah Dunia Sportswear
Aksesori 6 Ribuan Ini Diam-diam Menguasai Runways Fashion Mewah! Siap Kembalikan Era Y2K?
Dari Simbol Kekuasaan Jadi Neutral Baru: Mengapa Animal Print Tak Pernah Mati di Dunia Fashion?
Yayoi Kusama, Sang Seniman Polkadot yang Berpulang di Usia 97 Tahun
Kenapa Bed Cover Cepat Bau Apek? Ini 5 Penyebab dan Cara Mengatasinya
Dari Pasar Kaget Sampai Red Carpet: Mengapa Jam Tangan Jadi "Statement" Paling Epic di Dunia Fashion?
Oversize Bag Kembali Hiasi Tren 2026, Popularitas Mini Bag Tergeser!