Selama bertahun-tahun, kita tumbuh
dengan satu aturan fashion yang terasa mutlak: sepatu harus serasi dengan
outfit. Pakai dress elegan? Heels. Pakai setelan formal? Loafers atau pumps.
Pakai outfit santai? Sneakers. Semuanya rapi, aman, dan… bisa ditebak.
Lalu muncul sebuah konsep yang
pelan tapi pasti mengganggu “aturan suci” itu: Wrong Shoe Theory. Sebuah pendekatan styling yang mendorong kita
untuk justru memilih sepatu yang secara teori terlihat “tidak cocok” dengan
pakaian yang dikenakan — dan menjadikannya pusat daya tarik tampilan.
Alih-alih mencari harmoni sempurna,
teori ini bermain di wilayah kontras.
Apa Itu Wrong Shoe Theory?
Sumber: https://www.elle.pl/
Secara sederhana, Wrong Shoe Theory adalah ide bahwa
sepatu yang tampaknya “salah” untuk sebuah outfit bisa membuat keseluruhan
tampilan terasa lebih hidup, modern, dan personal.
Contohnya?
·
Gaun feminin + sneakers sporty
·
Rok satin elegan + chunky boots
·
Tailored suit + sandal kasual
·
Dress pesta + flat shoes minimalis
Di atas kertas, kombinasi itu
terdengar tidak selaras. Tapi justru di situlah letak kekuatannya. Ketika
elemen yang tidak terduga hadir, outfit yang tadinya biasa saja bisa terasa
lebih segar dan berkarakter.
Kenapa Teori Ini Viral?
Ada beberapa alasan kenapa konsep
ini cepat menyebar dan ramai dibicarakan.
Pertama, fashion hari ini semakin
mengarah pada ekspresi personal. Orang tidak lagi ingin terlihat “sempurna
sesuai aturan”, melainkan autentik. Sepatu yang “salah” memberi ruang untuk
menunjukkan selera pribadi tanpa harus terlalu mengikuti pakem.
Kedua, faktor kenyamanan. Banyak
orang sebenarnya ingin tetap memakai sepatu nyaman — seperti sneakers atau
flats — meskipun outfit-nya terlihat formal. Wrong Shoe Theory seakan memberi pembenaran: kamu tidak harus
menyiksa kaki demi tampilan yang dianggap ideal.
Ketiga, media sosial. Kontras
visual selalu menarik perhatian. Outfit yang terlalu serasi sering terlihat
biasa di feed. Tapi kombinasi tak terduga? Itu memancing orang untuk berhenti
scrolling.
Ini Bukan Asal Tabrak
Sumber: https://www.whowhatwear.com/wrong-shoe-theory
Yang menarik, teori ini bukan
berarti kamu asal pilih sepatu tanpa pertimbangan. Kuncinya tetap ada pada
keseimbangan.
Misalnya, saat kamu memadukan dress
ringan dengan boots besar, siluet tubuh dan proporsi tetap harus diperhatikan.
Atau ketika memakai sneakers dengan setelan formal, potongan blazer dan celana
yang clean akan membantu menjaga kesan tetap chic, bukan berantakan.
Dengan kata lain, sepatu boleh
“salah”, tapi styling-nya tetap harus sadar komposisi.
Kontras yang Menghidupkan Outfit
Secara visual, manusia tertarik
pada kontras — ringan vs berat, feminin vs maskulin, formal vs kasual. Wrong Shoe Theory memanfaatkan prinsip
itu.
Chunky boots memberi grounding pada
gaun flowy. Sneakers sporty memberi energi pada outfit klasik. Sandal minimalis
bisa “menurunkan” kesan terlalu kaku dari setelan formal.
Hasilnya bukan hanya tampilan yang
berbeda, tapi juga cerita visual yang lebih kaya.
Apakah Ini Tren Sesaat?
Sumber: https://screenshot-media.com/
Bisa jadi tren ini akan berevolusi,
tapi esensinya — yaitu kebebasan mematahkan aturan — kemungkinan akan bertahan.
Fashion modern memang bergerak ke arah fleksibilitas dan individualitas.
Dan mungkin, ini juga cerminan
perubahan yang lebih besar: kita tidak lagi berpakaian untuk memenuhi
ekspektasi kaku, tapi untuk mengekspresikan diri dan merasa nyaman dengan
pilihan sendiri.
Jadi, Haruskah Dicoba?
Kalau kamu tipe yang biasanya
bermain aman, mungkin ini saatnya eksperimen kecil. Tidak perlu langsung ekstrem.
Coba pakai sneakers dengan rok yang biasanya kamu padukan dengan heels. Atau
flats minimalis untuk acara semi-formal.
Kadang, yang membuat outfit terasa
“baru” bukanlah membeli pakaian baru — tapi melihat kombinasi lama dengan
perspektif berbeda.
Karena dalam fashion hari ini,
mungkin sepatu yang “salah” justru pilihan yang paling tepat.
Bukan Rusak! Ini Fakta Tentang Patina Kulit yang Sesungguhnya
Wrong Shoe Theory: Ketika Sepatu “Salah” Justru Jadi Kunci Outfit Paling Menarik
Scarcity Marketing, Seni Membuat Orang Buru-buru Melakukan Checkout
Normcore Kembali Populer: Saat Fashion “Biasa Saja” Justru Jadi Masa Depan yang Lebih Berkelanjutan
Ketika “Berantakan” Jadi Tren: Kenapa Fashion Suka Terlihat Tidak Rapi?
Fenomena Bahaya Pakaian Berbahan Polyester, Apa Saja Risikonya?
Menguak Rahasia di Balik Kode 'D', Panduan Lengkap Memilih Density Kasur Busa
Sea Silk: Kain Legendaris 2.000 Tahun yang Berkilau Seperti Emas — Kini Bangkit Kembali Lewat Sains
Printing DTF vs DTG, Mana yang Lebih Sesuai Untuk Usahamu?