Dunia fashion kembali disorot setelah rumah mode Swiss-Prancis, Vetements meluncurkan sebuah kemeja putih bermotif bekas setrika gosong. Lebih mengherankan lagi karena kemeja ini dijual sebagai item mewah dengan harga fantastis. Orang-orang pun makin memperdebatkan tentang nilai seni dan pemasaran merek mewah.
Kemeja putih yang diberi nama White
Ironing Burn Graphic Shirt ini sekilas tampak seperti pakaian cacat yang terbakar setrika secara tidak sengaja.
Dimana terdapat noda coklat membentuk motif plat setrika pada bagian saku dada.
Detailnya memang terlihat nyata, seperti bekas gosong. Padahal faktanya, noda tersebut
adalah bagian dari desain yang
dimaksudkan sebagai pernyataan kreatif.
Menurut keterangan produk, kemeja
yang terlihat seperti “salah setrika” ini terbuat dari 100% katun premium dan diproduksi di Portugal. Meski tampak
sederhana, Vetements menjualnya dengan harga sekitar US$ 1.139 atau hampir Rp19,2
juta.
Di beberapa butik dan platform e-commerce high-end seperti
Farfetch, kemeja dengan cap setrika gosong ini bahkan sempat terjual
habis karena respon awal konsumen yang penasaran. Berbagai komentar pun
bermunculan setelah foto kemeja bermotif setrika gosong tersebut tersebar di
media sosial. Banyak yang bingung atau bahkan tertawa karena desainnya
menyerupai pakaian yang rusak atau
tidak sengaja terbakar.
Beberapa komentar bahkan menjadi
sorotan, seperti:
“Saya bisa membuat yang seperti
ini sendiri di rumah!”
“Kenapa harus bayar jutaan untuk
pakaian yang terlihat seperti salah setrika?”
“Ini bukan baju, ini seni
provokatif!”
Sementara yang lain menilai
fenomena ini sebagai contoh paling
ekstrem tren fashion saat ini, di mana unsur sehari-hari diangkat
sebagai statement couture.
Fenomena detail-detail yang
nyeleneh bukan pertama kalinya terjadi di dunia mode. Desain yang sengaja
menampilkan unsur “rusak”, “pudar”, atau “tak sempurna” sudah muncul dalam
berbagai koleksi desainer global sebagai bagian dari estetika yang dikenal
sebagai distressed fashion.
Banyak orang menilai bahwa harganya
tidak masuk akal dan seolah kurang menghargai konsep kreatif yang sesungguhnya.
Hal itu karena setiap tren aneh terasa lebih seperti strategi pemasaran
ketimbang inovasi desain.
Namun faktanya, beberapa pegiat
fashion justru menilai bahwa tren seperti ini merupakan percobaan artistic. Menjadikan
hal yang biasa atau bahkan kesalahan sehari-hari sebagai simbol kreatifitas,
identitas, atau komentar atas standar kemewahan.
Pakar fashion yang memantau tren
global menganggap fenomena ini menunjukkan dua hal sekaligus, yaitu:
1.
Eksperimen kreatif yang makin berani,
desainer kini berani mengambil inspirasi dari hal sederhana sehari-hari dan
mengubahnya menjadi simbol lain.
2.
Perubahan cara pandang terhadap seni &
fashion, bukan hanya soal fungsi pakaian, tetapi juga cerita, konteks, dan
status sosial yang melekat pada item tersebut.
Pada akhirnya, kemunculan kemeja
dengan motif bekas setrika gosong ini menegaskan satu hal penting: fashion
tidak lagi sekadar bicara soal estetika konvensional atau fungsi pakaian. Dunia
mode modern semakin sering bermain di wilayah persepsi, mengaburkan batas
antara “cacat”, “keunikan”, dan “nilai seni”. Apa yang bagi sebagian orang
terlihat seperti kesalahan, bagi yang lain justru menjadi simbol keberanian
kreatif.
Panduan Memilih Cover Mobil: Jenis, Fungsi, dan Rekomendasi Bahan Terbaik
Dulu Warna Laki-Laki, Sekarang Identik dengan Perempuan: Sejarah Pink yang Berbalik Arah
Jangan Salah Pilih! Ini Tips Undershirt Pria Untuk Tampil Rapi dan Modis
Nggak Ada Logo, Tapi Kelihatan “Mahal Banget”? Ini Rahasia Invisible Hierarchy di Dunia Fashion
Panduan Memilih Bahan Flexi Untuk Beragam Kebutuhan Digital Printing
Dari Nostalgia ke Futuristik: Ketika Y2K Mulai Redup dan Y3K Muncul sebagai Arah Baru Fashion
Jenis Kain Terbaik untuk Bahan Seragam Bela Diri
Kenapa Perempuan Kerajaan Selalu Bawa Tas? Ternyata Bukan Sekadar Gaya
Second Skin: Tren Fashion “Nyaris Telanjang” yang Diam-Diam Jadi Standar Baru
Geser Citra Logomania, Ini Rahasia Brand Loewe Meraih Popularitasnya