Pernah merasa semangat memakai sepatu atau sandal baru, tapi baru dipakai
beberapa jam kaki sudah terasa perih? Tumit memerah, sisi jari terasa panas,
bahkan muncul gelembung berisi cairan. Lecet pada kaki memang terlihat sepele,
tetapi rasa tidak nyamannya bisa mengganggu aktivitas seharian.
Di balik rasa perih dan munculnya gelembung kecil di tumit atau sela
jari, ada proses gesekan, tekanan, hingga kondisi kulit yang saling berkaitan.
Secara medis, lecet terjadi karena gesekan berulang antara kulit dan
permukaan alas kaki. Saat berjalan, kaki terus bergerak. Jika bagian dalam
sepatu terlalu kasar, keras, atau tidak pas, gesekan akan semakin intens.
Tubuh merespons gesekan tersebut dengan membentuk blister atau gelembung
berisi cairan. Cairan ini sebenarnya mekanisme perlindungan alami untuk
melindungi jaringan kulit di bawahnya dari kerusakan lebih parah. Namun, jika
blister pecah dan tidak dirawat dengan benar, risiko infeksi bisa meningkat.
Itulah mengapa kaki lecet tidak boleh dianggap sepele.
Kaki lecet akibat sepatu atau sandal tertentu sudah menjadi masalah klasik.
Namun di balik rasa perih itu, ada penjelasan ilmiah yang sederhana dan masuk
akal. Kabar baiknya, kondisi ini juga bisa dicegah jika kita memahami
penyebabnya dengan benar.
Berikut 5 penyebab utama kaki lecet saat memakai sandal atau sepatu
Saat kaki
bergerak dalam sepatu yang sempit atau permukaannya kasar, kulit akan digosok
secara berulang terhadap bagian dalam sepatu. Gesekan berulang ini memicu
lapisan kulit terkelupas atau bahkan membentuk gelembung berisi cairan
(blister) sebagai mekanisme perlindungan alami tubuh.
Sepatu baru
umumnya masih kaku karena materialnya belum menyesuaikan dengan bentuk kaki.
Kulit asli, sintetis, maupun bahan tekstil tertentu membutuhkan waktu untuk
menjadi lebih lentur.
Selama masa
adaptasi ini, gesekan cenderung lebih tinggi, terutama di bagian tumit dan sisi
dalam sepatu.
Ukuran terlalu
sempit menciptakan tekanan berlebih. Sementara ukuran terlalu longgar membuat
kaki bergerak naik turun di dalam sepatu. Keduanya sama-sama memicu gesekan.
Banyak orang
hanya fokus pada panjang sepatu, padahal lebar kaki, bentuk jari, dan tinggi
punggung kaki juga memengaruhi kenyamanan.
Lecet di kaki juga
bukan semata-mata disebabkan oleh material sepatu, melainkan lining atau
lapisan dalamnya. Jahitan yang menonjol, tepi sol yang tajam, atau bahan
sintetis kasar bisa menjadi titik gesekan konstan. Tali yang terlalu
tipis, posisi strap yang kurang ergonomis, atau bahan karet keras bisa
menimbulkan iritasi di sela jari dan punggung kaki.
Dalam industri
fashion dan manufaktur alas kaki, detail kecil ini sangat menentukan kenyamanan
akhir produk.
Kondisi lembap
membuat kulit lebih lunak dan rentan iritasi. Sepatu dengan ventilasi buruk
memerangkap keringat, meningkatkan risiko lecet. Pertimbangan ini sangat
penting untuk pekerja aktif, staf hotel, atau siapa pun yang harus berdiri lama
sembari mengenakan alas kaki ini.
Kaki lecet memang terlihat sepele, tetapi rasa perihnya bisa sangat
mengganggu aktivitas. Agar hal ini tidak terus berulang, ada beberapa langkah
sederhana yang bisa kamu lakukan.
Ukuran bukan
hanya soal panjang, tetapi juga lebar dan bentuk kaki.
·
Sisakan
ruang sekitar 0,5–1 cm di ujung jari agar kaki tidak tertekan saat berjalan.
·
Perhatikan
lebar sepatu, pastikan bagian depan kaki tidak terlalu sempit. Karena gesekan
akan lebih mudah terjadi saat jari saling berhimpitan.
·
Ukur sepatu
saat sore atau malam hari ketika ukuran kaki sedikit membesar untuk mendapatkan
hasil yang lebih realistis
Banyak orang
mengabaikan peran kaus kaki, padahal aus kaki membantu mengurangi gesekan
langsung dan menjaga kelembapan tetap terkendali.
Perhatikan
kriteria berikut saat memilih kaus kaki:
·
Bahan menyerap
keringat dengan baik (katun, bambu, atau campuran moisture-wicking)
·
Tidak
terlalu tipis untuk aktivitas berat
·
Tidak
memiliki jahitan kasar di ujung jari
Sepatu baru,
terutama berbahan kulit atau sintetis kaku, memerlukan masa adaptasi. Ini membantu
material sepatu menjadi lebih lentur dan menyesuaikan dengan bentuk kaki.
Jadi,
lakukanlah break ini dengan cara:
·
Gunakan
sepatu selama 1–2 jam sebelum benar-benar keluar.
·
Tambahdurasi
pemakaian secara bertahap.
·
Pakai
kaus kaki lebih tebal di pemakaian awal.
Jika kamu
sudah mengetahui area kaki yang sering lecet, misalnya tumit atau sisi jari, lindungi
area tersebut menggunakan:
·
Plester
khusus anti-blister
·
Heel pad
(bantalan tumit)
·
Silicone
protector
·
Insole
tambahan
Kulit kaki
yang terlalu kering bisa pecah-pecah dan mudah iritasi. Sebaliknya, kaki yang
terlalu lembap juga rentan lecet. Tips sederhana:
·
Aplikasikan
pelembap kaki saat malam hari.
·
Pastikan
kaki benar-benar kering sebelum memakai sepatu.
·
Potong
kuku secara rutin agar tidak menekan bagian dalam sepatu.
Sebelum membeli, periksalah bagian dalam sepatu seperti detail jahitan, lining dan
keberadaan ada tonjolan di bagian tumit. Material dengan finishing halus dan
lapisan dalam yang nyaman akan mengurangi potensi gesekan.
Untuk aktivitas
yang memicu banyak keringat, penggunaan bedak khusus kaki, foot spray anti-perspirant dan anti-chafing
balm bisa membantu menjaga kelembaban ideal dan mencegah gesekan berlebih.
Pada akhirnya, kaki lecet bukan sekadar soal “belum terbiasa” memakai
sepatu baru. Ada faktor gesekan, tekanan, material, hingga kondisi kulit yang
saling memengaruhi. Jadi, jangan hanya terpaku pada tren dan desain yang
menarik, tapi perhatikan juga kesesuaiannya denagn kakimu ya. Semoga
bermanfaat!
Kaki Lecet Saat Memakai Sandal atau Sepatu? Cek Penyebab dan Cara Mengatasinya!
Fakta Tentang Logo Adidas Yang Nggak Cuma Satu
Office Siren & Kembalinya Power Dressing: Ketika Ambisi Jadi Estetika
Jangan Asal Murah! Ini 7 Pakaian Sebaiknya Tidak Dibeli Bekas
Mantel Leopard: Statement yang Ternyata Bisa Dipakai ke Mana Saja
Listrik Statis Bikin Pakaian Nggak Nyaman? Ini 8 Cara Ampuh untuk Mengatasinya
Maternity Clothes vs Baju Biasa: Apa Bedanya dan Perlukah Membelinya?
Perbedaan Motel dan Hotel, Jangan Salah Booking, ya!
Kenapa Hampir Semua Selebriti Punya Brand Fashion? Kenapa Bukan Makanan atau Teknologi?
Jangan Abaikan! Ini 5 Pertanda Sudah Waktunya Beli Celana Dalam Baru