Sudah promosi di berbagai
channel, harga juga sudah disesuaikan dengan pasar, tapi penjualan masih belum
sesuai target? Mungkin kamu butuh racikan baru untuk memasarkan produkmu. Salah
satunya yaitu strategi marketing mix 4P dan 7P, sebuah pendekatan yang membantu
bisnis menentukan produk, harga, distribusi, hingga promosi secara lebih terarah.
Konsep ini dikenal melalui
kerangka 4P, lalu dikembangkan menjadi 7P agar sesuai dengan kebutuhan bisnis
modern. Lantas, apa itu strategi pemasaran campuran 4P dan 7P? Dan bagaimana
implementasinya? Simak ulasan berikut ini, yuk!
Marketing mix adalah kombinasi
elemen-elemen yang perlu diracik sedemikian rupa agar pemasaran bisa berjalan
efektif. Istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh Neil H. Borden pada
1950-an, yang menggambarkan pemasaran sebagai proses "meracik” unsur-unsur
pemasaran jadi satu strategi. Konsep tersebut kemudian disederhanakan menjadi
4P oleh E. Jerome McCarthy, dan diperkenalkan secara luas oleh Philip Kotler.
Seiring berkembangnya sektor jasa,
kerangka 4P dinilai belum mampu menjawab karakteristik bisnis yang menawarkan
pengalaman dan layanan. Lalu, Bernard Booms dan Mary Bitner mengembangkan
konsep tersebut dengan menambahkan tiga elemen baru. Dan kerangka inilah yang dikenal
sebagai strategi pemasaran 7P.

Konsep bauran pemasaran awalnya
dirancang untuk bisnis yang berfokus pada penjualan barang fisik. Pada tahun
1960-an, seorang profesor pemasaran bernama E. Jerome McCarthy merangkum
variabel-variabel tersebut menjadi empat pilar utama yang saling berkaitan,
yaitu:
Ini merupakan
titik awal dari keseluruhan strategi pemasaran, yaitu apa yang sebenarnya
ditawarkan ke konsumen. Dalam konteks bisnis fashion, produk tidak hanya
ditentukan oleh desain, tetapi juga oleh bahan baku yang digunakan.
Seperti halnya
kaos cotton combed 30s dan cotton combed 20s, meski sama-sama berupa kaos,
namun karakteristik serta pengalaman pemakaiannya jauh berbeda. Sehingga
menyasar kebutuhan konsumen berbeda pula.
Strategi
penetapan harga menentukan posisi suatu usaha, baik pada segmen premium,
kompetitif, maupun volume tinggi. Khusus untuk lini konveksi, harga bahan baku
kain merupakan komponen biaya produksi terbesar. Sehingga strategi harga jual
produk akhir sangat bergantung pada efisiensi proses pengadaannya.
Poin ini berkaitan
erat dengan bagaimana produk dapat menjangkau konsumen. Baik melalui toko
fisik, platform digital (marketplace),
maupun distribusi langsung pada reseller.
Elemen distribusi juga mencakup kemudahan akses konsumen bisnis terhadap
ketersediaan stok serta proses pemesanan ulang tanpa hambatan logistik yang
berarti.
Strategi
promosi mencakup cara suatu usaha berkomunikasi dengan calon konsumen. Mulai
dari iklan digital, konten media sosial, hingga program rujukan (referral) berupa SEO (search engine optimization). Namun implementasinya
harus diimbangi dengan kualitas produk yang konsisten, agar hasilnya lebih
optimal. Pada titik inilah kerangka 4P mulai menunjukkan limit, terutama di bidang usaha yang mengandalkan hubungan jangka
panjang.

Kerangka 4P pada dasarnya dirancang untuk usaha yang menjual produk
berwujud, bukan jasa. Padahal, jenis usaha ada bermacam-macam, termasuk supplier
atau pemasok bahan kain yang menjual produk fisik serta layanan pendukung
seperti konsultasi bahan, kecepatan respon, dan ketepatan pengiriman.
Lalu lahirlah, tiga elemen tambahan untuk menjawab karakteristik produk jasa
yang tidak berwujud, variatif di setiap penyampaian dan diproduksi bersamaan
dengan saat dikonsumsi.
Mencakup
seluruh pihak yang terlibat dalam proses penyampaian produk pada konsumen.
Seperti halnya layanan pelanggan (customer
service) yang menjawab berbagai pertanyaan, hingga tim produksi yang
memastikan kesesuaian pesanan dengan spesifikasi yang diminta. Di dunia usaha
distribusi, khususnya business-to-business
(B2B), kepercayaan konsumen seringkali dibangun melalui kualitas komunikasi,
bukan semata-mata dari penawaran katalog produk.
Elemen ini berkaitan
dengan alur pelayanan, mekanisme pemesanan, kejelasan prosedur pemesanan ulang,
hingga penanganan keluhan apabila terdapat produk yang tidak sesuai standar. Tiap
produsen yang bekerja dengan tenggat produksi ketat sangat membutuhkan
kelancaran rantai pasok serta kinerja mesin produksi. Dalam hal ini, pemasok dengan alur pemesanan
yang jelas dan responsif memiliki keunggulan tersendiri.
Meliputi komponen
yang memperkuat kepercayaan terhadap kualitas layanan, seperti sampel bahan,
sertifikasi produk, maupun testimoni konsumen. Physical Evidence kerap jadi faktor penentu dealing, terutama untuk produk yang keputusan pembeliannya sangat
bergantung pada kualitas serta karakteristik fisik, seperti kain, pakaian serta
produk tekstil lainnya.
Itu dia penjelasan tentang strategi markting mix 4P dan 7P. Penerapan
ketujuh elemen ini secara terarah akan memberikan hasil optimal. Jika produk
berkualitas tidak diimbangi dengan harga yang sesuai target pasar, maka ia akan
sulit bersaing. Sebaliknya, aktivitas promosi yang intensif tanpa dukungan produk
dan layanan yang tertata, berpotensi menurunkan kepuasan pelanggan di tahap
eksekusi.
Sementara itu, tiga elemen tambahan (people,
process, dan physical evidence)
menjadi faktor penentu dalam membangun loyalitas konsumen serta kerja sama
jangka panjang. Sudahkah kamu mempraktikannya? Yuk, koreksi lagi!
Strategi Marketing Mix 4P dan 7P, Racikan Baru Untuk Kelangsungan Bisnismu!
Bukan Cuma Buat Perang! Ini Alasan Rahasia Kenapa Pakaian Militer Nggak Pernah Mati Gaya
Kasur Hybrid: Apa yang Membuatnya Berbeda dari Spring Bed Biasa?
Croquis Fashion, Sketsa Dasar yang Wajib Dikuasai Desainer Fashion
Met Gala 2027 Kelewat Nekat? Menguak Alasan di Balik Pilihan Tema John Galliano yang Bikin Gempar!
Ide Outfit 17 Agustus dengan Kaos Polos: Simpel, Nyaman, dan Tetap Meriah!
Lucu Tapi Kasihan? Menguak Sisi Gelap Fenomena "Accessory Pet" di Kalangan Selebriti & Influencer
Ulos Simetria, IFW 2026 Angkat Warisan Tenun Sumatra Utara
Digantung atau Ditumpuk? Ini Cara Menyimpan Baju Kotor yang Benar
Perbedaan Teknik Pewarnaan Yarn Dye dan Piece Dye di Dunia Tekstil