‘Cuma pakai jas kok ribet banget,
emang harusnya gimana?’ Satu hal yang mungkin terbesit di pikiran banyak pria. Karena
urusan memakai jas memang tak sesederhana menyematkan kancingnnya, lalu
selesai. Ada beberapa aturan sederhana yang perlu diperhatikan agar jas
benar-benar terlihat rapi dan pas di tubuh.
Salah menganjingkan, lengan
terlalu panjang, celana menumpuk di atas sepatu, atau jas yang kebesaran bisa
merusak seluruh look profesionalnya. Lantas,
bagaimana aturan memakai jas pria yang benar? Cek ulasan berikut ini, yuk!
Mungkin kamu bisa sesuka hati memakai
baju lain, tapi tidak dengan jas. Baju luaran bernama ‘jas’ ini adalah simbol
keanggunan dan profesionalisme pria. Jadi, sedikit kesalahan saja bisa mengubah
tampilan yang seharusnya sharp jadi berantakan.
Ada hal-hal mendasar yang penting untuk diperhatikan saat akan memakai jas pria, beberapa diantaranya yaitu:

Sumber: https://www.suitsexpert.com/
Ini yang paling sering bikin bingung, sekaligus salah.
Ada semacam "rumus tak tertulis" soal kancing jas yang sebenarnya
gampang diingat kalau kamu tahu triknya: sometimes,
always, never.
Kalau jas kamu punya tiga kancing, urutannya begini:
·
Kancing atas sometimes dikancing (opsional),
·
Kancing tengah always, selalu kancingkan saat berdiri
·
Kancing bawah never alias jangan pernah dikancing.
Khusus jas dua
kancing lebih simpel lagi, cukup kancingkan yang atas saja saat berdiri.
Lalu, kenapa
kancing paling bawah nggak boleh disematkan? Bukan sekadar gaya-gayaan. Karena
bagian bawah jas memang dibuat sedikit longgar biar kamu bisa duduk, jalan, dan
bergerak dengan nyaman.
Dan satu aturan
lagi yang tak kalah penting tapi sering terlupa: bukalah kancing jas begitu
kamu duduk. Ini menjaga agar jas tidak tertarik ketika tubuh menekuk sekaligus
membantu mempertahankan bentuknya. Setelah berdiri, kamu bisa mengkancingkannya
lagi.

Sumber: https://dunniotailor.com/
Banyak yang mengira lengan jas idealnya menutup
pergelangan tangan sampai rapat. Padahal, justru sebaliknya. Standar yang
dipakai tailor profesional adalah menyisakan sekitar 1-1,5 cm agar manset kemeja
terlihat dari balik lengan jas.
Ini bukan cuma soal estetika, tapi juga menunjukkan detail
berlapis pada outfit kamu, seolah ada usaha ekstra di balik penampilan yang
rapi. Kalau lengan jas menutup total sampai ke pangkal tangan, kesannya jas
kekecilan justru bikin siluet terlihat berat dan nggak proporsional.
Bagian inilah yang paling menentukan apakah jas kamu
terlihat "pas" atau malah seperti pinjaman kakak. Soal panjang, cara
paling gampang mengeceknya adalah lihat ujung bawah jas: idealnya sejajar
dengan pangkal ibu jari saat tangan lurus ke bawah, atau kira-kira menutupi
setengah bagian pantat.
Warning-nya
ada di potongan bahu. Disini kamu harus memberi perhatian khusus, karena
struktur dan potongannya paling sulit diubah kalau ternyata nggak pas. Wajib
dicek serius saat mencoba jas.
Jahitan bahu harus jatuh tepat di ujung tulang bahu
kamu, bukan melorot ke lengan atau malah menyempit dan bikin gerakan terasa
kaku. Kalau bagian ini sudah pas, biasanya seluruh siluet jas otomatis
mengikuti dengan rapi.

Sumber: https://www.houseofcuff.com/
Aturan main paling aman soal warna: makin gelap dan
netral, makin fleksibel dipakai di berbagai acara. Navy, charcoal, dan hitam
jadi tiga warna wajib punya karena gampang dipadukan dengan kemeja dan dasi apa
pun.
Kalau mau coba yang bermotif prinsipnya sederhana, jangan
mencampur dua motif besar sekaligus. Padukan jas motif garis (pinstripe) dengan kemeja polos. Sedangkan
untuk kemeja bercorak, biarkan jas tampil polos biar nggak "over" dan saling tabrak secara
visual.

Sumber: https://medium.com/
Dua elemen kecil ini sebenarnya punya peran besar
dalam menyempurnakan tampilan. Untuk dasi, panjang idealnya menyentuh bagian
atas gesper (belt), tidak lebih pendek apalagi menjuntai berlebihan.
Beralih ke saku dada. Kalau kamu berniat menyematkan pocket square, jangan melipatnya terlalu
simetris dan kaku karena terkesan berlebihan. Tak perlu lipatan segitiga formal
yang rapi, cukup lipat natural yang sedikit "berantakan" agar
kesannya tetap luwes, effortless dan
lebih modern.
Jas dan celana
adalah satu kesatuan dalam setelan formal. Karena itu, jangan sampai perhatian
hanya tertuju pada bagian atas tubuh dan mengabaikan detail bawahnya.
Panjang celana
sebenarnya dapat disesuaikan dengan potongan dan gaya yang ingin ditampilkan.
Gaya klasik biasanya memberikan sedikit ruang di bagian bawah celana, sedangkan
gaya modern cenderung menggunakan potongan yang lebih bersih. Apa pun
pilihannya, pastikan ujung celana bertemu dengan sepatu secara proporsional.
Pada akhirnya, jas yang terlihat
mahal bukan cuma soal merek atau harga, tapi soal seberapa pas ia mengikuti
bentuk tubuh dan seberapa detail perhatian pada elemen-elemen kecil di atas.
Jadi, jangan hanya memperhatikan
bagaimana tampilannya saat pertama kali berdiri di depan cermin. Tapi perhatikan
juga bagaimana jas tersebut bergerak ketika berjalan, duduk, berjabat tangan,
hingga beraktivitas. Di situlah sebenarnya letak penampilan yang rapi dan
nyaman.
Fenomena “2026 is The New 2016,” Kenapa Gaya Satu Dekade Lalu Tiba-tiba Muncul Lagi?
Aturan Memakai Jas yang Benar, Pria Wajib Tahu, Nih!
Kembalinya Celana Capri: Dulu Dihujat Ketinggalan Zaman, Kenapa Sekarang Dipakai Semua Selebriti?
History Kemeja Profesional Legendaris, Hugo BOSS
Fashion Alternatif: Dari Pinggiran Jalan ke Etalase Brand Besar
Seam Allowance, Panduan Menentukan Lebar Kampuh pada Pakaian
Siapa Akui Benda Ini? Sejarah Hanger Baju yang Ternyata Melibatkan Presiden AS dan Insiden Kekesalan Pekerja!
Strategi Marketing Mix 4P dan 7P, Racikan Baru Untuk Kelangsungan Bisnismu!
Bukan Cuma Buat Perang! Ini Alasan Rahasia Kenapa Pakaian Militer Nggak Pernah Mati Gaya
Kasur Hybrid: Apa yang Membuatnya Berbeda dari Spring Bed Biasa?