Polyester mungkin selama ini cuma dikenal sebagai salah satu
serat tekstil yang paling banyak digunakan dalam pakaian. Namun di TikTok, kata
ini ternyata punya arti baru. Gen Z mulai menggunakan “polyester” sebagai
sebuah hinaan untuk menyebut sesuatu yang dianggap murahan, generik, dibuat-buat, atau terlalu dipaksakan.
Fenomena ini bahkan menjadi
perhatian media setelah istilah seperti “polyester
lifestyle” bermunculan di kolom komentar berbagai video. Lantas, bagaimana
nama sebuah bahan pakaian bisa berubah menjadi slang?
Dari Bahan
Tekstil Menjadi Sebuah “Vibe”
Dalam penggunaan slang, “polyester”
tidak lagi selalu berkaitan dengan pakaian. Kata tersebut digunakan untuk
menggambarkan sesuatu yang terlihat menarik di permukaan, tetapi terasa tidak
autentik atau terlalu manufactured.
Sumber: baddieshubx.com
Misalnya, sebuah video yang
menampilkan kehidupan impian dengan apartemen mewah, rutinitas superproduktif,
olahraga pagi, hingga teknologi AI yang mengerjakan pekerjaan sehari-hari bisa
saja dikomentari “polyester lifestyle”.
Maksudnya bukan orang tersebut benar-benar mengenakan polyester, melainkan gaya
hidupnya dianggap seperti sesuatu yang dirancang mengikuti checklist tren internet.
Penggunaan ini berkembang dari
istilah internet lain yang juga digunakan untuk mengkritik sesuatu yang
dianggap palsu, terlalu dibuat-buat, atau tidak original.
Kenapa
Harus Polyester?
Pemilihan kata ini sebenarnya cukup
masuk akal jika melihat citra polyester dalam budaya fashion modern.
Sumber: www.euronews.com
Polyester merupakan serat sintetis
yang dikenal karena harganya relatif ekonomis, kuat, cepat kering, tahan kusut,
dan mudah diproduksi dalam jumlah besar. Karakter tersebut membuat polyester
sangat populer untuk pakaian sehari-hari, olahraga, outerwear, hingga berbagai produk tekstil rumah tangga.
Namun, kelebihan tersebut juga
membuat polyester sering dikaitkan dengan produksi massal dan fast fashion.
Di media sosial, terutama di
kalangan konsumen muda, muncul tren untuk mengurangi pakaian berbahan sintetis
dan mencari alternatif seperti katun, linen, atau wol. Polyester kemudian
mendapatkan citra sebagai material yang “murah”, “plasticky”, atau identik
dengan pakaian produksi massal.
Persepsi itulah yang kemudian
dipinjam menjadi metafora: sesuatu yang
terlihat bagus, tetapi dianggap tidak punya kualitas atau keaslian yang sepadan.
Baca juga: Fenomena Bahaya Pakaian Berbahan Polyester, Apa Saja Risikonya?
Ada
Hubungannya dengan “Polyester Edit”
Menariknya, perkembangan slang ini juga berkaitan dengan budaya edit video di TikTok.
Pada sekitar 2025, beredar gaya fan edit yang menampilkan karakter
seperti Spider-Man melalui potongan gambar yang sangat cepat, efek visual
berlebihan, serta audio dengan suara metalik. Gaya edit tersebut kemudian
disebut sebagai “polyester edit” dan
kembali viral pada 2026.
Dari sinilah penggunaan kata
polyester mulai keluar dari konteks video editing dan berkembang menjadi
istilah yang lebih luas. Sesuatu yang terlalu ramai, flashy, tetapi terasa murahan atau berlebihan mulai mendapatkan
label “polyester”.
Lama-kelamaan, istilah tersebut tidak
hanya digunakan untuk video, tetapi juga fashion, gaya hidup, influencer, hingga perilaku di internet.
Tapi
Benarkah Polyester Itu Murahan?
Belum tentu.
Ini bagian yang penting untuk
dipahami. Polyester memang memiliki harga dan karakteristik yang membuatnya
sangat cocok untuk produksi massal, tetapi bukan berarti semua polyester
berkualitas rendah.
Sumber: vietnamsuppliers.com
Kualitas kain ditentukan oleh
banyak faktor: jenis polimer, kualitas serat, panjang dan kehalusan filamen,
konstruksi kain, finishing, hingga
proses produksinya.
Polyester berkualitas tinggi bahkan
banyak digunakan untuk sportswear, technical clothing, outdoor apparel, dan berbagai tekstil yang membutuhkan daya tahan
serta performa tertentu.
Jadi, menyamakan “polyester” dengan
“kain murahan” sebenarnya lebih merupakan stereotip
budaya daripada fakta teknis.
Dari
“Miracle Fiber” Menjadi Bahan yang Dibenci?
Ironisnya, reputasi polyester
memang mengalami perubahan besar.
Sumber: mamabeanparenting.com
Ketika pertama kali populer pada pertengahan abad ke-20, polyester justru dipandang sebagai serat modern dengan berbagai keunggulan: mudah dirawat, tidak mudah kusut, kuat, dan dapat diproduksi secara massal. Popularitasnya semakin besar pada era 1970-an ketika polyester menjadi bagian dari gaya fashion yang identik dengan era disco.
Kini, situasinya berbalik.
Polyester sering berada di tengah kritik terhadap fast fashion, limbah tekstil, penggunaan bahan bakar fosil, dan
pelepasan mikroplastik. Karena itu, citranya di kalangan sebagian konsumen muda
menjadi jauh lebih kompleks.
“Polyester”
Sebenarnya Bukan Cuma Tentang Kain
Pada akhirnya, fenomena slang ini
lebih menarik jika dilihat sebagai kritik
terhadap sesuatu yang terasa terlalu dibuat-buat.
Sumber: www.lifestyleasia.com
Gen Z tumbuh dalam lingkungan yang
dipenuhi influencer, personal branding, konten yang dikurasi,
algoritma, dan sekarang AI. Tidak mengherankan jika muncul bahasa baru untuk
menggambarkan sesuatu yang terlihat sempurna tetapi dianggap kurang autentik.
Sejumlah pengamat bahkan melihat tren ini sebagai bagian dari keinginan
generasi muda untuk mencari sesuatu yang terasa lebih genuine di tengah semakin banyaknya konten digital yang dibuat dan
dipoles.
Jadi, ketika seseorang mengatakan “that’s so polyester”, kemungkinan besar
mereka tidak sedang membicarakan komposisi kain. Tetapi bis ajadi mereka sedang
mengatakan:
“Kelihatannya bagus, tapi kok terasa fake
dan terlalu dibuat-buat?”
Lucunya, semakin populer istilah
tersebut, semakin besar pula kemungkinan kata “polyester” sendiri berubah
menjadi slang yang… generic. Dan itu,
ironisnya, sangat polyester.
Kenali
Polyester Lebih Jauh Bersama BahanKain.com
Buat kamu yang ingin memahami
karakter berbagai jenis kain sebelum memilih material untuk pakaian atau
kebutuhan tekstil, BahanKain.com menyediakan
informasi seputar dunia kain, serat, fashion, dan tekstil. Kenali karakter
setiap bahan agar pemilihan kain tidak hanya berdasarkan tren, tetapi juga
sesuai fungsi dan kebutuhan.
Baca juga: Mengenal Serat Polyester Daur Ulang, Bahan Pakaian Yang Berkelanjutan
Apa Itu Horsehair Canvas?
“Polyester” Jadi Hinaan Gen Z: Kok Kain Bisa Berubah Jadi Slang?
5 Rekomendasi Kain Furing untuk Tas Rajut, Jangan Asal Pilih!
Baju Biasa vs Cosplay: Cuma Beda Gaya atau Ada Magic-nya? Simak Bedanya dengan Dunia Fashion!
Stop Kebiasaan Meletakkan Kapur Barus Langsung di Atas Pakaian, Ini Bahayanya!
Bukan Heels Biasa, Ini Alasan Kenapa Kitten Heels Kembali Tren
Mengenal Amekaji Style, Gaya Fashion Jepang dan Ciri Khasnya
Geger Dunia Fashion! Mengapa Pameran John Galliano di Met Gala 2027 Mendadak Dibatalkan?
Kisah di Balik PUMA, Rivalitas Dua Bersaudara yang Mengubah Dunia Sportswear
Aksesori 6 Ribuan Ini Diam-diam Menguasai Runways Fashion Mewah! Siap Kembalikan Era Y2K?