Dunia fashion identik dengan keindahan, kemewahan, dan kreativitas. Namun, di balik gaun dramatis dan peragaan busana yang spektakuler, ada sisi gelap yang justru menarik perhatian banyak desainer. Mulai dari monster, darah, pembusukan tubuh, hingga gambaran kekerasan, berbagai elemen horor telah menjadi sumber inspirasi untuk menciptakan karya yang tidak biasa.
Fenomena ini bukan sekadar tentang membuat pakaian terlihat menyeramkan. Bagi sebagian desainer, horor merupakan medium untuk menyampaikan kritik sosial, mengeksplorasi sisi gelap manusia, sekaligus menantang batasan kecantikan konvensional.
Lantas, bagaimana dunia horor memengaruhi perkembangan fashion?
1. Mitologi dan Makhluk Legendaris
Cerita rakyat dan mitologi menjadi sumber inspirasi yang kaya bagi desainer. Sosok monster, makhluk gaib, hingga hewan dengan karakteristik misterius dapat diterjemahkan menjadi motif, siluet, dan detail busana yang dramatis.
Dalam fashion Filipina, misalnya, desainer Bree Esplanada mengeksplorasi makhluk folklor seperti tikbalang, sosok berkepala atau bertubuh kuda yang dikenal dalam legenda setempat. Karakteristiknya dituangkan melalui ilustrasi, tekstil, manik-manik, dan bordir.
Sumber: www.gmanetwork.com
Sementara itu, desainer Bryan Diego menciptakan Aswang Transformation Gown untuk Winwyn Marquez dalam ajang Miss Universe Philippines. Busana tersebut terinspirasi film horor Filipina berjudul Aswang yang dirilis pada 1995.
Contoh-contoh ini menunjukkan bahwa cerita horor tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga bisa menjadi cara untuk mengangkat identitas budaya melalui fashion.
2. Darah dan Kekacauan sebagai Ekspresi Artistik
Robert Wun FW 2024. Sumber: philstarlife.com
Warna merah, siluet tajam, dan gambaran kekerasan dapat menciptakan kesan dramatis yang sulit diabaikan. Dalam fashion avant-garde, elemen-elemen tersebut terkadang digunakan untuk menyampaikan pesan yang lebih luas daripada sekadar estetika.
Pada 2006, John Galliano menghadirkan koleksi untuk Christian Dior dengan referensi visual dari Revolusi Prancis, termasuk nuansa merah yang mengingatkan pada kekacauan dan pemberontakan.
Eksplorasi serupa muncul dalam peragaan Gucci Fall/Winter 2018. Model berjalan di runway sambil membawa replika kepala mereka sendiri, menciptakan visual yang terinspirasi estetika horor dan surealisme.
Presentasi semacam ini memperlihatkan bagaimana runway dapat menjadi panggung teatrikal. Pakaian tidak lagi sekadar benda yang dikenakan, tetapi bagian dari cerita yang sengaja dirancang untuk memancing reaksi penonton.
3. Pembusukan Tubuh yang Menjadi Karya Fashion
Sumber: blog.metmuseum.org
Salah satu contoh paling ekstrem datang dari Alexander McQueen, desainer yang dikenal karena pendekatan provokatif dan teatrikalnya.
Koleksi Spring/Summer 1996 miliknya terinspirasi film The Hunger (1983), yang mengangkat tema vampir, keabadian, dan penuaan tubuh. Koleksi tersebut menampilkan korset transparan berbahan Perspex yang diisi cacing hidup.
Perpaduan antara material transparan dan organisme hidup menciptakan kontras antara daya tarik visual dengan sesuatu yang dianggap menjijikkan. Tubuh, yang biasanya menjadi pusat idealisasi dalam fashion, justru ditampilkan melalui sisi biologisnya yang rapuh dan tidak selalu indah. Eksperimen ini memperlihatkan bahwa fashion dapat mengeksplorasi konsep kecantikan dengan cara yang tidak nyaman sekalipun.
Baca juga: Busana Plague Doctor: Kostum Paling Ikonik (dan Paling Menyeramkan) dalam Sejarah Medis
4. Kanibalisme dan Busana yang Mengintimidasi
Horor psikologis juga memberikan inspirasi bagi desainer untuk mengeksplorasi kekuasaan, identitas, dan ambisi.
Gareth Pugh Fall 2013. Sumber: www.vogue.com
Desainer Gareth Pugh pernah menggunakan The Silence of the Lambs (1991), film thriller psikologis yang menampilkan karakter Hannibal Lecter, sebagai salah satu referensi konseptual dalam karyanya. Pendekatan tersebut diterjemahkan melalui busana berstruktur tegas, bahu kuat, kerah bergaya dominatrix, topeng pengekang, dan mantel kulit berwarna cokelat.
Alih-alih menampilkan feminitas yang lembut, rancangan tersebut menghadirkan sosok perempuan yang kuat, protektif, dan mengintimidasi. Unsur horor pun menjadi sarana untuk mempertanyakan bagaimana kekuasaan dan ambisi perempuan direpresentasikan melalui pakaian.
5. Frankenstein dan Keindahan yang Tidak Sempurna
Jean-Pierre Muller. Sumber: www.harpersbazaar.com
Monster Frankenstein menjadi simbol menarik dalam fashion karena identik dengan tubuh yang tersusun dari bagian-bagian berbeda. Karakter ciptaan Mary Shelley dalam novel Frankenstein (1818) telah menginspirasi berbagai interpretasi visual, termasuk busana yang menggabungkan bentuk, tekstur, dan struktur yang tidak lazim.
Desainer seperti Prada dan Thom Browne pernah mengeksplorasi gagasan pakaian hibrida yang menyerupai gabungan bagian-bagian tubuh atau elemen yang tidak sepenuhnya serasi. Sementara itu, pendekatan draping John Galliano terkadang menghadirkan struktur yang mengingatkan pada balutan perban bedah.
Estetika ini menantang gagasan bahwa pakaian harus selalu simetris, rapi, dan sempurna. Justru melalui ketidaksempurnaan, sesuatu yang terlihat aneh dapat berubah menjadi menarik secara artistik.
6. Serangan Burung yang Menginspirasi Runway
Film thriller The Birds (1963) karya Alfred Hitchcock juga meninggalkan jejak dalam dunia fashion. Ketegangan dalam film tersebut, yang menggambarkan burung-burung menyerang manusia secara tiba-tiba, menjadi referensi visual bagi Alexander McQueen.
McQueen for Every Mood. Sumber: smulook.com
Dalam koleksi Spring/Summer 1995, McQueen menerjemahkan atmosfer brutal film tersebut melalui potongan busana yang tajam dan penampilan model yang menyerupai korban kekerasan.
Referensi sinematik seperti ini menunjukkan bahwa inspirasi fashion tidak selalu berasal dari pakaian yang dikenakan karakter film. Suasana, pencahayaan, gerakan, bahkan perasaan tidak nyaman yang dibangun sebuah adegan pun dapat diterjemahkan menjadi bahasa desain.
Mengapa Fashion Terobsesi dengan Horor?
Ketertarikan fashion terhadap horor berkaitan dengan kemampuannya menggugah emosi dan menantang persepsi. Sesuatu yang menyeramkan dapat menarik perhatian justru karena berbeda dari gambaran keindahan yang biasa kita lihat.
Horor juga menyediakan ruang untuk membicarakan kecemasan sosial, ketidakstabilan politik, identitas, dan ketakutan terhadap tubuh manusia. Melalui pakaian, desainer dapat mengubah persoalan tersebut menjadi ekspresi visual yang kuat.
Pada akhirnya, fashion tidak selalu bertujuan membuat seseorang terlihat cantik atau menarik dalam pengertian konvensional. Terkadang, tujuannya adalah membuat orang berhenti sejenak, merasa terganggu, lalu mempertanyakan apa yang selama ini mereka anggap indah.
Di situlah daya tarik fashion horor: ketika sesuatu yang mengerikan justru membuka perspektif baru tentang seni, tubuh, dan kecantikan.
Baca juga: Kenapa Kita Pakai Kostum Saat Halloween? Dari Ritual Kuno sampai Panggung Kreativitas Global
Bolehkah Menyimpan Kain Kafan di Rumah? Ini Fakta dan Caranya
Fashion dan Horor: Ketika Hal Menyeramkan Justru Jadi Inspirasi Desainer
Mengenal Bateeq, Brand Lokal yang Bikin Batik Makin Kekinian
Kain Mudah Luntur, Apakah Tanda Kualitasnya Buruk? Cek Faktanya, Yuk!
Fast Fashion Jual Baju Bekasnya Sendiri, Strategi Bisnis atau Tren Sustainability?
6 Tren Fashion yang Bikin Outfit Terlihat Mahal Tanpa Bikin Boncos
Garuda Indonesia X EIGER Sulap Rompi Pelampung Bekas Jadi Tas
Kenapa Brand Fashion Besar Kebanyakan Berasal dari Eropa?
Cara Menjaga Lem Sepatu Tetap Awet agar Sol Tidak Mudah Terlepas
Kenapa Lap Kacamata Selalu Dibuat dari Kain Microfiber? Ini Faktanya!