Selama ini, industri fast fashion identik dengan produksi
pakaian dalam jumlah besar, harga terjangkau, dan pergantian tren yang cepat.
Namun, kini sejumlah merek besar justru mulai membuka layanan penjualan kembali
pakaian bekas mereka sendiri. Fenomena ini memunculkan pertanyaan menarik:
mengapa merek yang mengandalkan penjualan produk baru mulai melirik pasar
pakaian preloved?
Tren tersebut bukan sekadar upaya
mengikuti gaya hidup ramah lingkungan. Di baliknya, terdapat peluang bisnis
baru yang membuat merek fashion ingin tetap terlibat dalam perjalanan
produknya, bahkan setelah pakaian tersebut berpindah tangan.
Mengapa
Merek Fast Fashion Mulai Menjual Pakaian Bekas?
Menurut artikel Forbes
yang ditulis Noemi Kis pada 24 Oktober 2026, pertumbuhan pasar pakaian bekas
menjadi salah satu alasan utama merek fast
fashion mulai mengembangkan bisnis resale.
Mengutip ThredUp
Resale Report 2026, nilai pasar pakaian bekas global mencapai sekitar
US$393 miliar. Di Amerika Serikat, pertumbuhannya pada 2025 bahkan hampir empat
kali lebih cepat dibandingkan pasar pakaian secara keseluruhan.
Sejumlah merek pun mulai mengambil
bagian dalam peluang ini. Shein memiliki Shein Exchange untuk menjual kembali
produk bekasnya, sedangkan Zara menghadirkan Zara Pre-Owned yang menyediakan
layanan penjualan kembali, perbaikan, dan donasi pakaian. H&M juga telah
mengembangkan platform resale. Dan
perlu diketahui bahwa ada beberapa alasan di balik langkah tersebut.
1.
Mengambil Peluang dari Kebiasaan Konsumen
Sebelum merek menyediakan layanan resale sendiri, konsumen sebenarnya
sudah menjual pakaian bekas mereka melalui marketplace
pihak ketiga. Artinya, transaksi produk mereka tetap berlangsung, tetapi merek
tidak terlibat langsung dalam proses tersebut.
Dengan menghadirkan platform sendiri, merek dapat
mempertahankan hubungan dengan pelanggan sekaligus memperoleh peluang bisnis
tambahan. Shein Exchange, misalnya, memudahkan pengguna membuat daftar produk
berdasarkan riwayat pembelian mereka. Strategi ini memperlihatkan bagaimana
kebiasaan konsumen yang sebelumnya dianggap di luar bisnis utama justru bisa
dikembangkan menjadi layanan baru.
2.
Mengikuti Perubahan Pola Belanja Generasi Muda
Gen Z dan milenial menjadi kelompok
konsumen penting dalam pertumbuhan pasar pakaian bekas. Mereka dapat memperoleh
pakaian dengan harga lebih terjangkau sekaligus menemukan produk yang sudah
tidak tersedia dalam koleksi terbaru.
Menurut proyeksi ThredUp
yang dikutip Forbes,
Gen Z dan milenial diperkirakan menyumbang 71% pertumbuhan pasar pakaian bekas
hingga 2030. Bagi merek fashion, mengabaikan tren ini berisiko membuat mereka
kehilangan perhatian konsumen muda. Karena itu, layanan resale menjadi cara untuk menyesuaikan diri dengan perubahan
perilaku belanja, tanpa sepenuhnya meninggalkan identitas merek.
3.
Menghadapi Kritik terhadap Limbah Fashion
Industri fashion terus mendapat
sorotan karena limbah tekstil dan tingginya konsumsi pakaian. Tekanan ini juga
mulai diikuti kebijakan pemerintah. Sebagai contohnya, Forbes
menyoroti regulasi Prancis yang menargetkan ultra-fast
fashion melalui biaya lingkungan tambahan untuk produk tertentu. Uni Eropa
juga bergerak menuju sistem tanggung jawab produsen yang lebih besar terhadap
limbah tekstil.
Dalam situasi tersebut, resale menawarkan cara untuk
memperpanjang masa pakai pakaian. Produk yang sudah tidak digunakan pemilik
pertamanya dapat kembali dikenakan oleh orang lain, alih-alih langsung dibuang.
Meski begitu, penjualan kembali bukan satu-satunya solusi untuk mengatasi
dampak lingkungan industri fashion.
Apakah
Resale Benar-Benar Membuat Fast Fashion Lebih Berkelanjutan?
Di sinilah muncul paradoks yang menarik.
Merek fast fashion menjual pakaian
baru dalam jumlah besar, tetapi pada saat bersamaan mendorong konsumen untuk
membeli pakaian bekas sebagai bagian dari ekonomi sirkular. Di satu sisi, resale dapat memperpanjang usia pakai
produk dan mengurangi kebutuhan membeli barang baru dalam kondisi tertentu.
Konsumen juga memperoleh alternatif belanja yang lebih terjangkau.
Namun, manfaat lingkungannya tidak
otomatis muncul hanya karena sebuah merek memiliki platform pakaian bekas. Dampaknya bergantung pada apakah penjualan
kembali benar-benar memperpanjang penggunaan pakaian dan mengurangi pembelian
produk baru, atau justru sekadar menambah pilihan belanja.
Jika produksi pakaian baru terus
meningkat tanpa perubahan berarti, program resale
berisiko menjadi strategi pemasaran yang terlihat ramah lingkungan, tetapi
belum menyentuh persoalan mendasar industri tersebut.
Karena itu, keberhasilan resale sebaiknya tidak hanya diukur dari
jumlah pakaian yang terjual kembali. Daya tahan produk, kualitas material,
perbaikan pakaian, dan pengurangan limbah juga perlu menjadi bagian dari upaya
keberlanjutan.
Masa Depan
Fashion Bukan Hanya tentang Menjual Produk Baru
Munculnya platform resale milik merek fashion menunjukkan bahwa hubungan
antara produsen dan konsumen mulai berubah. Bisnis tidak lagi harus berhenti
setelah transaksi pertama, tetapi dapat berlanjut melalui penjualan kembali,
perbaikan, hingga penggunaan ulang produk.
Bagi industri fashion, tren ini
membuka peluang untuk mengembangkan model bisnis yang lebih sirkular. Namun,
tantangan terbesarnya adalah memastikan bahwa keberlanjutan bukan sekadar label
untuk menarik konsumen.
Pada akhirnya, menjual pakaian
bekas memang dapat menjadi langkah positif. Akan tetapi, perubahan yang lebih
berarti membutuhkan upaya menyeluruh, mulai dari cara pakaian dirancang dan
diproduksi hingga bagaimana produk tersebut digunakan dan dikelola setelah
tidak lagi dibutuhkan pemiliknya.
Baca juga: Terbongkar! Kenapa Klaim "Eco-Friendly" di Baju Kita Nggak Selalu Jujur? (Hati-hati Fashion Greenwashing!)
Kain Mudah Luntur, Apakah Tanda Kualitasnya Buruk? Cek Faktanya, Yuk!
Fast Fashion Jual Baju Bekasnya Sendiri, Strategi Bisnis atau Tren Sustainability?
6 Tren Fashion yang Bikin Outfit Terlihat Mahal Tanpa Bikin Boncos
Garuda Indonesia X EIGER Sulap Rompi Pelampung Bekas Jadi Tas
Kenapa Brand Fashion Besar Kebanyakan Berasal dari Eropa?
Cara Menjaga Lem Sepatu Tetap Awet agar Sol Tidak Mudah Terlepas
Kenapa Lap Kacamata Selalu Dibuat dari Kain Microfiber? Ini Faktanya!
Sama-sama Dipakai Untuk Logo, Ini Bedanya Emblem Bordir dan Emblem Woven
Perbedaan Top Note, Middle Note, dan Base Note pada Parfum
Victoria’s Secret Angel Wings: Bukan Sekadar Sayap, Ini Rahasia di Balik Ikon Fashion Show!