Lace atau kain renda merupakan jenis kerawang yang dibuat dari benang rajut dan kerap diaplikasikan pada pinggiran baju, gaun, bantal serta benda-benda lainnya. Kain ini cukup terkenal di kalangan desainer, pecinta kebaya hingga para fashionista.
Dibalik popularitas tersebut, ternyata kain lace menyimpan sejarah unik lho. Yuk, kita kupas satu-persatu!
Sejarah mencatat bahwa kain lace sudah ada sejak abad ke-19 dan dikenal sebagai bahan pakaian duka yang dipakai oleh para janda. Popularitas lace kian menanjak setelah Ratu Victoria menobatkan kain ini sebagai bahan busana favoritnya.
Memasuki abad 20, bahan lace kurang diminati karena polanya terlihat kuno dan identik dengan taplak meja dan korden rumah. Namun jenis kain renda kembali berjaya saat memasuki abad ke 21 dimana lace kerap menjadi inspirasi bahan bercorak yang tak hanya dimanfaatkan sebagai bahan pakaian. Tetapi juga untuk aksesoris, furniture hingga barang-barang dekoratif yang cantik, mewah dan feminim.
Sumber: https://www.clunylace.com/
Awalnya, motif pada lace identik dengan fashion jaman dulu yang terkesan 'norak'. Sehingga banyak orang, terutama remaja kurang suka memakai gaun atau pakaian berbahan kain renda terutama yang bermotif bunga atau pola berlubang.
Padahal, detail lace justru menambah keanggunan, serta memperlihatkan kesan feminim dan elegan secara bersamaan. Gaun lace juga cocok dikenakan pada momen-momen istimewa seperti acara pernikahan dan perayaan ulang tahun.
Lace mulai banyak dicari setelah kembalinya tren busana klasik di berbagai belahan dunia. Variasi desain dan coraknya pun kian beragam, mulai dari desain yang sederhana hingga yang paling halus seperti renda Paris.
Namun berkaitan dengan ini, pengamat mode legendaris mengungkap bahwa Muara Bagdja Chantilly adalah jenis lace yang paling halus dengan ciri khas motif bunga diatas jarung berbentuk heksagonal. Kain dari bagian utara Paris, Perancis ini sudah ada sejak abad ke 17 di Chantilly. Konon, proses pembuatannya dikerjakan secara manual menggunakan jenis jarum yang sangat halus.
Kain Chantily juga menjadi salah satu bahan favorit para perancang busana untuk membuat kebaya, dress hingga gaun pengantin kekinian. Sebab, desain yang paling simpel akan terlihat anggun berkat karakteristik kain lace.
Sekilas lace terlihat sangat mirip brokat, tetapi pola anyamannya tergolong halus dan rumit. Kain ini dibuat dengan teknik tenun atau mengikat benang. Selain itu, berikut karakteristik sekaligus perbedaan kain lace dan brokat:
1. Lebih elastis
Karakter paling khas yang membedakan antara kain lace dan brokat adalah elastisitasnya. Dalam hal ini. kain lace jauh lebih fleksibel dibandingkan brokat.
2. Motif berulang
Teknik pembuatan motif renda dibuat sama dan berulang di seluruh permukaan kain. Sedangkan corak kain brokat cenderung lebih rumit dan harganya juga tergolong mahal.
3. Membutuhkan furing
Karena karakternya tipis dan transparan, pakaian dari bahan lace harus dilapisi kain tambahan atau furing untuk menutupi tubuh. Sementara gaun brokat tak lagi memerlukan furing, sebab struktur anyamannya lebih padat dan rapat.
4. Cenderung mudah sobek
Benang penyusun kain lace sangat halus sehingga bersifat rapuh dan mudah sobek. Berbeda dengan brokat yang lebih kokoh karena dibuat dari benang berdiameter besar dan konstruksi padat.
Sumber: https://mummyfique.com/
Sempat dicap sebagai kain kuno tak membuat lace kehilangan popularitasnya. Buktinya, kain lace masih eksis hingga sekarang. Ia didapuk sebagai bahan serbaguna yang bisa dimodifikasi menjadi aneka keperluan seperti:
· Fashion (gaun pengantin, blus, rok, pakaian dalam)
· Dekorasi rumah bergaya vintage (tirai, taplak meja, dan doilies)
· Aksen dekoratif pada bantal, kap lampu, dan perlengkapan rumah lain
· Asesoris (tas tangan, topi, dan syal)
· Kostum teater
· Veil atau kerudung pengantin
· Pakaian dalam (bra, celana dalam, lingerie, dll)
· Bahan lining atau pelapis
Selain itu, berikut jenis-jenis kain lace:
1. Lace Jala
Kain lace jala diproses menggunakan metode tenun terbuka dan latar yang berlubang menyerupai jaring. Unsur hiasnya berupa detail sulaman atau pola lain.
Kain lace tipe ini kerap diaplikasikan untuk membuat veil (kerudung pengantin), taplak meja, dan gorden. Materialnya pun cukup beragam, seperti katun, sutra, dan poliester.
2. Lace manik-manik
Sesuai namanya, kain lace manik-manik dihiasi butiran mutiara, kristal atau payet dengan sulaman yang rumit. Banyak desainer mengandalkan bahan ini dalam pembuatan gaun pengantin dan pakaian malam. Bahan bakunya bisa berupa benang sutra ataupun katun.
3. Lace Bunga
Lace bunga menampilkan pola bunga dan dedaunan. Dengan bahan utama serat katun, sutra, dan poliester, kain ini cukup populer sebagai bahan baju pengantin dan pakaian malam. .
4. Lace Bordir
Kain ini menampilkan pola bordir rumit yang kerap dimanfaatkan untuk gaun pengantin, busana malam, dan taplak meja.
5. Renda Mewah
Renda mewah adalah jenis renda yang dibuat menggunakan bahan kelas atas, seperti sutra atau benang emas. Jenis renda ini biasanya digunakan untuk gaun pengantin kelas atas dan pakaian malam.
6. Lace Chantilly
Chantilly terkenal karena desain rumit bunganya. Jalinan benang sutra atau nilon menghasilkan kain yang halus dan sempurna untuk bahan pakaian dalam.
7. Lace Alencon
Pola bunga hias dan sulaman padat dengan berbahan dasar benang sutra atau rayon yang dijalin bersama menghasilkan kain lace. Struktur kainnya kokoh dan tahan lama.
Karakter bahan yang mudah sobek mengharuskan kita lebih berhati-hati saat mencuci dan merawatnya. Tujuannya tak lain supaya bahan tersebut lebih tahan lama.
Berikut beberapa hal yang perlu kamu perhatikan:
1. Cucilah secara manual
2. Sebisa mungkin hindari mesin cuci
3. Jangan pula menggunakan mesin pengering.
4. Rendam dengan deterjen secukupnya
5. Jika terdapat noda, cobalah mengoleskan air perasan jeruk nipis tepat di area noda.
6. Cukup dikucek dan jangan pernah menyikatnya
7. Baju yang sudah dicuci cukup ditepuk-tepuk, tidak perlu diperas.
8. Jemur dengan cara diangin-anginkan di tempat teduh.
9. Sebelum menyimpan baju lace, pastikan kondisinya benar-benar kering
10. Simpanlah lace kombinasi bahan shantung, satin, atau organza, dengan menggantungnya pada hanger yang dilengkapi padding di bagian lengan.
11. Sedangkan untuk busana lace berhiaskan payet atau mote, kamu bisa melipatnya, dan letakkan di tempat yang halus, kering, dan bersirkulasi baik.
Itulah sejarah, karakteristik, penggunaan serta cara merawat busana dari kain lace. Cocok nih buat kamu yang lagi bingung cari bakal kain untuk gaun pernikahan atau sekedar kebaya lamaran.
Padukan dengan furing kain velvet, satin, Roberto cavalli, maxmara atau kain sutra super 54 agar terlihat makin elegan. Nah, kamu bisa membelinya di Bahankaincom lho. Sebagai supplier bahan kain yang berpusat di Yogyakarta, Bahankaincom menyediakan kain-kain berkualitas dengan harga bersaing. Mau trial beberapa meter dulu juga boleh lho.
Buruan cek Koleksi Produk kami dan temukan apa yang kamu butuhkan.
Jangan lupa, konfirmasikan pesananmu pada Customer Service kami ya. Lebih mudah belanja via whatsapp, Shopee atau Tokopedia.