Jika aksesesoris dan make up menyempurnakan penampilan,
semprotan parfum adalah kekuatan untuk membangkitkan daya tarik seseorang. Meskipun
banyak orang memakai parfum untuk menyenangkan diri sendiri dan meninggalkan
kesan baik. Tapi, komposisi dan aroma wewangian ini secara tidak langsung
berhasil telah mewakili jiwa seseorang. Seajaib itulah perfumery, seni meracik
wewangian yang unik dan menenangkan.
Jauh sebelum industri modern
bernilai miliaran dolar ini lahir, aroma telah menjadi bagian tak terpisahkan
dari peradaban manusia. Sejarah perfumery mencatat perjalanan panjang seni
meracik wewangian. Dari ritual suci hingga simbol status sosial, mari kita ulas
perkembangan perfumery di dunia.
Perfumery adalah seni sekaligus ilmu dalam menciptakan wewangian atau parfum dengan meracik
berbagai bahan aromatic (alami maupun
sintetis) untuk menghasilkan aroma yang seimbang, berkarakter, dan punya daya tahan tertentu. Di sini, aroma tidak hanya dibuat agar harum, tetapi juga
untuk menyampaikan emosi, suasana, dan identitas.
Istilah parfum berasal dari bahasa Latin,
yaitu per yang berarti
“melalui” dan fumus yang
berarti “asap.” Awalnya, kata ini merujuk pada aroma yang dihasilkan dari
pembakaran dupa dalam ritual keagamaan. Bentuk parfum paling awal adalah dupa
yang dibakar untuk menawarkan aroma kepada para dewa.
Dalam praktik modern, perfumery
melibatkan pemahaman kimia, penciuman (olfactory),
serta kreativitas artistik untuk menghasilkan aroma yang memiliki karakter dan
daya tahan tertentu.
Seni meracik wewangian, perfumery adalah bagian penting dalam sejarah peradaban manusia. Ia mencerminkan budaya, spiritualitas, status sosial, hingga kemajuan teknologi. Setiap perkembangannya menunjukkan bagaimana manusia menciptakan dan menyempurnakan aroma dari masa ke masa.

Sumber: https://carrementbelle.com/
Berikut asal mula serta
perkembangannya:
Jejak awal perfumery ditemukan di era Mesopotamia yang
berlangsung sekitar 4.000 tahun lalu. Nama Tapputi-Belatekallim muncul dalam
prasasti tulisan paku (cuneiform) sebagai
salah satu peracik parfum pertama. Prasasti yang diperkirakan
berasal dari tahun 1200 M tersebut menggambarkan penggunaan bunga, minyak, dan
bahan aromatik lain serta proses penyulingan sederhana untuk mengolah ekstrak wewangian.
Di Mesir Kuno, parfum dianggap memiliki makna
spiritual, sehingga kerap digunakan pada ritual keagamaan, proses mumifikasi,
serta perawatan tubuh bangsawan. Aroma wewangian ini dipercaya sebagai medium
penghubung manusia dengan para dewa, menjadi simbol kesucian dan status sosial.
Bangsa Yunani mengembangkan perfumery sebagai bagian
dari estetika dan gaya hidup. Bukan sekedar kebutuhan ibadah, tetapi juga untuk
kesehatan dan kecantikan. Mereka mulai mengelompokkan aroma berdasarkan bahan
dan fungsinya.
Sementara itu, di Romawi, parfum menjadi kebutuhan sehari-hari. Pemandian umum, pakaian, hingga ruangan dipenuhi wewangian. Perdagangan bahan parfum berkembang pesat, memperkuat peran perfumery dalam ekonomi dan budaya.
Baca Juga: |
Yunani kuno adalah bangsa pertama yang menciptakan
parfum cair yang kemudian dikembangkan lagi menggunakan teknologi penyulingan.
Hal tersebut menandai transformasi penting dalam sejarah perfumery dari
wewangian berbentuk asap menjadi cairan aromatik.
Industri perfumery mulai berjalan ke arah yang lebih
maju ketika tokoh-tokoh Islami seperti Ibnu Sina (Avicenna) menyempurnakan
teknik distilasi uap, terutama dalam ekstraksi minyak mawar. Metode ini menjadi
fondasi penting dalam pembuatan parfum modern.
Selain itu, penggunaan alkohol sebagai pelarut aroma
mulai dikenal, memungkinkan parfum memiliki wangi yang lebih tahan lama dan
stabil. Pada masa ini, perfumery juga erat kaitannya dengan dunia farmasi dan
pengobatan.
Memasuki era Renaisans, perfumery Eropa mulai
berkembang pesar. Kota Grasse di Prancis dikenal sebagai jantung industri
parfum dunia karena kondisi geografisnya yang ideal untuk menanam tumbuhan
aromatik. Sedangkan Italia dan Prancis menjadi pusat produksi parfum.
Saat itu, parfum digunakan untuk menyamarkan bau badan
yang kurang sedap karena sanitasi yang masih sangat terbatas. Tempat-tempat
umum pada masa itu juga kerap diberi wewangian. Bahkan, Istana Prancis sempat dijuluki
the perfumed court karena intensnya
penggunaan parfum.
Hingga akhir abad ke-19, parfum sepenuhnya berasal
dari bahan alami (bunga, rempah, atau kelenjar hewan). Namun selera pasar dan
perkembangan teknologi kimia menjadi dasar bagi munculnya wewangian modern.
Penemuan molekul sintetis seperti coumarin dan
vanillin memungkinkan aroma diciptakan di laboratorium. Komposisi parfum pun jadi
semakin kompleks, terdiri dari berbagai bahan alami dan sintetis yang dikenal
sebagai “notes” atau lapisan aroma. Hal ini membuat parfum lebih terjangkau dan
variasinya lebih kaya.
Puncaknya perkembangan parfum modern terjadi pada
tahun 1921, saat Coco Chanel merilis Chanel No. 5, parfum pertama yang menggunakan
aldehyde secara masif. Saat ini, perfumery berkembang ke arah yang lebih
personal dan berkelanjutan.
Niche perfume, parfum unisex,
serta penggunaan bahan ramah lingkungan semakin diminati. Teknologi
bioteknologi memungkinkan penciptaan molekul aroma yang aman, konsisten, dan eco-friendly.
Sejarah perfumery dan perkembangannya menunjukkan bahwa parfum
adalah bagian tak terpisahkan dari peradaban manusia. Dari ritual kuno hingga
industri modern, seni meracik wewangian terus berevolusi mengikuti zaman.
Kini, parfum bukan hanya pelengkap
gaya, melainkan ekspresi diri yang mencerminkan karakter dan kepribadian.
Dengan memahami sejarahnya, kita dapat lebih menghargai setiap tetes aroma yang
kita gunakan hari ini.
White Label: Jalan Pintas Punya Produk Sendiri Tanpa Harus Produksi dari Nol
Bukan Sekadar Motif: Menguak Rahasia Fair Isle Sweater yang Legendaris
Apa Itu Perfumery? Sejarah dan Perkembangannya dari Masa ke Masa
Lebih dari Sekadar Gaya: Membongkar Aturan Fashion "Ketat" Para Wanita Kerajaan Eropa
Nggak Cuma Bikin Tenang, Ini 7 Manfaat Outfit Repeater
Busana Plague Doctor: Kostum Paling Ikonik (dan Paling Menyeramkan) dalam Sejarah Medis
Mengenal Kain Sherpa, Bahan Andalan untuk Outdoor Wear dan Pakaian Musim Dingin
Sejarah Levi’s, Brand Jeans Paling Legendaris di Dunia
Supermodel: Dari Ikon Abadi sampai Era Nepo Baby — Kenapa Definisinya Kini Berubah?
5 Jenis Bahan Pakaian yang Pantang Disetrika