Supermodel:
Bukan Sekadar Model Cantik
Istilah supermodel bukan sekadar label untuk model yang “paling terkenal”.
Di dalam dunia fashion, supermodel adalah simbol budaya. Mereka bukan hanya
memperagakan pakaian, tapi menjual
mimpi, gaya hidup, dan identitas sebuah brand.
Supermodel adalah model yang
pengaruhnya melampaui runway. Nama mereka menjadi nilai jual. Kehadiran mereka
bisa menaikkan pamor brand, menentukan arah tren, bahkan membentuk standar
kecantikan dunia. Berbeda dengan model biasa yang bekerja untuk brand,
supermodel justru membuat brand bergantung
pada namanya. Mereka adalah ikon, bukan sekadar pekerja industri.
Kalau model biasa berjalan di runway, supermodel menghidupkan runway itu sendiri. Satu wajah bisa mengangkat nama
desainer, menaikkan nilai brand, bahkan menentukan arah tren global.
Supermodel adalah perpaduan antara
model, selebriti, ikon gaya, dan figur publik.
Apa Bedanya
Model Biasa vs. Supermodel?
Tidak semua model bisa jadi supermodel. Ada beberapa elemen
kunci yang membedakannya:
·
Recognition
(Pengakuan): Supermodel punya wajah yang ikonik. Mereka sering menghiasi
cover majalah Vogue berkali-kali di
berbagai negara.
·
Versatility: Mereka
bisa terlihat anggun di couture, tapi
juga bisa terlihat keren di gaya streetwear.
·
The
"X-Factor": Bukan cuma soal cantik, tapi soal kepribadian (personality). Mereka punya aura yang
membuat baju yang mereka pakai terlihat hidup.
·
Kekuatan
Finansial: Kontrak mereka bernilai jutaan dolar. Mereka biasanya punya
kontrak jangka panjang dengan brand raksasa (misalnya Chanel, Dior, atau Estée
Lauder).
Lahirnya
Supermodel: Saat Model Menjadi Selebriti Dunia
Fenomena supermodel mulai
benar-benar terasa pada era 1980–1990an, periode yang sering disebut sebagai Golden Age of Supermodels.
Nama-nama seperti Naomi Campbell,
Cindy Crawford, Linda Evangelista, Christy Turlington, dan Claudia Schiffer
bukan hanya memenuhi halaman majalah, tetapi juga layar televisi, billboard, hingga film. Mereka tampil di
talk show, menjadi bintang iklan
global, dan dibayar sangat tinggi untuk kontrak eksklusif.
Mereka tidak lahir sebagai ikon.
Mereka dibentuk oleh proses panjang: casting ketat, sesi foto kecil, runway
demi runway, sampai akhirnya menjadi wajah dunia fashion. Ketika mereka tampil,
publik merasa sedang melihat “dewi fashion”, bukan sekadar model atau pekerja
industri fashion, tetapi figur publik
dengan daya tarik selebriti Hollywood.
Supermodel
Era 2000-an: Ketika Runway Menjadi Budaya Pop
Memasuki 2000-an, supermodel
berubah menjadi simbol glamour modern.
Victoria’s Secret mengangkat model seperti Gisele Bündchen, Adriana Lima, Heidi
Klum, dan Tyra Banks menjadi bintang pop
culture.
Media sosial, budaya viral, dan
kekuatan influencer membuat fashion tak lagi hanya soal kualitas visual, tapi
juga soal reach dan engagement. Kini, jumlah pengikut di
Instagram bisa sama pentingnya dengan kualitas catwalk. Model tidak hanya dituntut bisa berjalan di runway, tapi
juga menjual gaya hidup.
Runway bukan lagi hanya pertunjukan mode, tapi tontonan global.
Supermodel kini identik dengan “fantasi”,
kemewahan, dan kehidupan glamor.
Supermodel Masa Kini: Terkenal Dulu, Model Kemudian
Masuk era 2010 hingga sekarang, definisi supermodel kembali bergeser.
Media sosial mengubah segalanya.
Popularitas tidak lagi dibangun bertahun-tahun lewat majalah dan runway, tapi bisa melonjak dalam
hitungan bulan lewat followers,
viralitas, dan koneksi keluarga.
Di sinilah muncul istilah nepo baby (nepotism baby). Yaitu sebutan untuk figur yang mendapatkan akses
dan percepatan karier karena koneksi keluarga—misalnya anak selebriti, anak
orang kaya, atau keturunan figur publik.
Di dunia modeling, fenomena ini
terasa sangat jelas. Banyak supermodel modern sudah terkenal bahkan sebelum
debut modeling. Mereka langsung
tampil di brand besar, haute couture,
dan kampanye global tanpa melewati proses panjang seperti generasi sebelumnya,
yang dulu membentuk supermodel legendaris.
Kenapa Nepo
Baby Jadi Kontroversial?
Kontroversinya bukan semata soal berbakat
atau tidak, tapi tentang proses. Supermodel dulu terasa “dibentuk”, sementara
supermodel sekarang sering terasa “dipromosikan”.
Karena dunia fashion dulunya
dikenal sebagai industri yang keras, selektif, dan “kejam”. Supermodel dibentuk
melalui proses keras: casting
berulang, editorial kecil, perjalanan panjang, hingga akhirnya menjadi ikon. Karena
itu banyak model harus bertahun-tahun berjuang sebelum mendapat satu kesempatan
besar.
Kini, banyak figur langsung masuk
ke puncak karena popularitas yang sudah dimiliki. Industri fashion kini terasa
lebih sebagai mesin marketing daripada pencipta ikon. Selain itu, ketika
sebagian wajah baru bisa langsung lompat ke puncak karena koneksi, banyak yang
merasa standar “supermodel” menjadi lebih longgar. Akibatnya, banyak yang
merasa aura “legenda” dan “mitos” supermodel mulai memudar.
Fashion
Sekarang: Bisnis Dulu, Ikon Belakangan
Brand hari ini hidup di dunia yang
serba cepat. Followers jutaan berarti promosi instan. Nama besar berarti
liputan media gratis. Di mata bisnis, ini jauh lebih aman daripada membangun
ikon dari nol.
Akibatnya, dunia fashion terasa
lebih seperti dunia hiburan: cepat viral, cepat berganti, dan lebih fokus pada
angka daripada aura.
Apakah
Supermodel Sudah “Hilang”?
Tidak benar-benar hilang. Tapi
bentuknya berubah. Supermodel modern adalah gabungan antara model, influencer,
dan figur publik. Mereka lebih dekat dengan penggemar, lebih manusiawi, tapi
juga terasa kurang “mitologis” dibanding supermodel era 90-an.
Dulu kita memandang supermodel
seperti dewi di atas runway. Sekarang kita melihat mereka di Instagram Story setiap hari. Dan di
situlah letak perubahannya.
Supermodel Tetap Ada, Tapi Tidak Lagi Sama
Supermodel tidak punah. Mereka
hanya berevolusi. Dari ikon yang dibentuk oleh industri, menjadi figur yang
dibentuk oleh algoritma, media sosial, dan budaya viral.
Apakah ini baik atau buruk? Itu
tergantung sudut pandang. Tapi satu hal pasti: dunia fashion sudah berubah, dan
supermodel menjadi cermin paling jujur dari perubahan itu.
Sejarah Levi’s, Brand Jeans Paling Legendaris di Dunia
Supermodel: Dari Ikon Abadi sampai Era Nepo Baby — Kenapa Definisinya Kini Berubah?
5 Jenis Bahan Pakaian yang Pantang Disetrika
Cara Merawat Dompet Kulit Sintetis Agar Tidak Mudah Cracking
Sepatu Mary Jane dan Pesonanya yang Tak Pernah Usang
Tips Memilih Handuk Wajah Untuk Kulit yang Sehat
Cerdik! Ini 7 Strategi Rahasia Aerostreet Dalam Membangun Brandnya
Outfit Check ala Gen Z, Gaya Fashion Stylish yang Lebih Berkelanjutan
Jam Tangan Kesayanganmu Berembun? Coba Atasi Dengan Cara Ini!
Teknik Sunprint (Cyanotype), Cara Mencetak Motif Daun di Kain dengan Sinar Matahari