Di tengah industri fashion yang makin menuntut keberlanjutan, nama Pijakbumi muncul sebagai salah satu contoh paling menarik. Brand sepatu lokal ini tidak hanya menawarkan produk, tetapi juga membawa gagasan tentang bagaimana alas kaki dapat dirancang dengan pendekatan yang lebih sadar lingkungan. Saat banyak brand masih berfokus pada tren dan estetika, Pijakbumi memilih memadukan desain, fungsi, dan tanggung jawab ekologis.
Dan siapa sangka kalau langkah
kecil ini berhasil membawa mereka terbang ke pasar internasional. Dari
keresahan terhadap pilihan sepatu yang terbatas, hingga kesadaran akan limbah
fashion, yuk simak perjalanan Pijakbumi, the
local sustainability fashion from Indonesia.
Pijakbumi adalah brand
sepatu lokal Indonesia yang terkenal karena pendekatan produk ramah lingkungan
(eco-friendly) dan populer di pasar internasional. Brand
asli Indonesia ini tidak sekadar menawarkan desain, tetapi juga membawa gagasan
tentang bagaimana sebuah produk fashion bisa lebih selaras dengan lingkungan.
Menariknya, merek ini lahir bukan
dari ambisi industri, melainkan keresahan personal sang pendiri yang kemudian
berkembang menjadi visi usaha dan keberlanjutan. Alih-alih mengikuti tren
fashion, Pijakbumi menempatkan keberlanjutan sebagai elemen inti dalam desain
dan proses produksinya.
Selain itu, berikut beberapa hal
yang membuatnya terkenal di kancah internasional:
·
Desain
orisinal yang kuat dan fungsional,
·
Penggunaan material ramah lingkungan, termasuk kulit
natural yang disamak,
·
Pendekatan
produksi yang lebih berkelanjutan, serta
·
Memperkenalkan
craftsmanship Indonesia ke panggung global.
Poin-poin itulah yang membawa Pijakbumi meraih pengakuan internasional, termasuk penghargaan Emerging
Designer di pameran industri alas kaki global, MICAM Milano.

Sumber: https://www.mldspot.com/
Di balik reputasinya sebagai
sebagai sustainable, tersimpan sejarah unik, eksperimen, hingga
keyakinan untuk berjalan di jalur berbeda. Selain desain minimalis, material
ramah lingkungan serta visi Pijakbumi terhadap keberlanjutan, berikut beberapa
fakta yang mengiringi perjalanan Pijakbumi:
Didirikan pada tahun 2016, perjalananan brand
Pijakbumi bermula dari kisah sederhana sang pendiri brand ini, Rowland Asfales
yang ketika itu masih menjadi mahasiswa di Bandung. Tepatnya saat ia kehilangan
sepatu dan merasa sulit menemukan produk yang sesuai di pasaran, terutama dari
segi harga, kualitas serta estetikanya.
Dari situ, Fales mulai merancang sekaligus membuat
sepatu sendiri. Merasa puas dengan hasilnya, ia pun memberanikan diri untuk
memulai usaha tanpa mengabaikan misi utama, menciptakan alas kaki bermutu
tinggi dan bertanggung jawab terhadap bumi.
Nama Pijakbumi terinspirasi dari
filosofi grounding (bertelanjang kaki di tanah) untuk menyeimbangkan
energi tubuh dengan bumi. Kata ‘pijak’ identik dengan aktivitas paling dasar
manusia yaitu melangkah. Dimana setiap hari, manusia “memijak” bumi sebagai
ruang hidupnya. Nama tersebut dimaknai sebagai pengingat halus bahwa setiap
langkah memiliki konsekuensi.
Dalam konteks brand, filosofi ini seolah menyampaikan
pesan bahwa apa yang kita pakai, produksi, dan konsumsi ikut meninggalkan jejak
di bumi. Sebuah gambaran nyata bagaimana upaya Pijakbumi untuk menciptakan
sepatu berkualitas dengan limbah, energi, dan emisi yang diminimalisir.
Seiring meningkatnya permintaan, Fales pun mulai
memperluas pasar melalui kanal online. Namun, fase ini justru menghadirkan
realitas yang lebih kompleks.
Produknya belum cukup kompetitif. Harga dianggap belum
ideal, sementara diferensiasi brand belum kuat. Di tengah pasar yang dipenuhi
pemain besar dan produk massal, sekadar “sepatu buatan lokal” belum menjadi
alasan pembelian yang solid.
Alih-alih melihatnya sebagai kegagalan, periode ini
justru menjadi titik balik Pijakbumi. Dimana Fales bertanya pada dirinya
sendiri:
“Apa sih identitas sejati brand yang benar-benar ingin
dibawa?”
Jawabannya datang dari kesadaran terhadap dampak
lingkungan industri fashion. Limbah, bahan kimia, dan produksi massal menjadi
isu yang sulit diabaikan. Dari sinilah, arah Pijakbumi bergeser, dari produsen
sepatu menjadi brand dengan misi keberlanjutan.
Merek sepatu asal Bandung ini juga konsisten memilih
material kulit alami yang diproses penyamakan berbasis bahan nabati, termasuk
ekstrak tumbuhan seperti kenaf. Hal tersebut dilakukan untuk menekan penggunaan
bahan kimia berbahaya yang lazim dipakai dalam proses penyamakan konvensional.
Pendekatan ramah lingkungan juga diterapkan pada
proses produksi. Dimana teknik konstruksi sepatu dirancang dengan meminimalkan
jahitan dan mengandalkan presisi pemotongan (cutting). Sehingga limbah produksi
bisa ditekan maksimal.
Hasilnya, sepatu yang tidak hanya nyaman dipakai,
tetapi juga membawa narasi keberlanjutan.
Konsistensi kualitas serta nilai-nilai pun brand mulai
membuahkan hasil. Pijakbumi berhasil melakukan ekspansi bisnis ke berbagai
negara di dunia.
Kualitas sepatu Pijakbumi juga sudah diakui lewat
Anugerah Emerging Designer yang diberikan di MICAM Milano tahun 2020. Sebuah
ajang pameran alas kaki paling prestisius di dunia yang jadi tempat
berkumpulnya brand-brand global, buyer, hingga pelaku industri fashion
internasional.
Penghargaan tersebut membuktikan bahwa desain,
kualitas, maupun konsep keberlanjutan produk lokal Indonesia mampu bersaing di
level global.
Itu dia perjalanan sejarah Pijakbumi, merek alas kaki lokal yang mendunia lewat prinsip keberlanjutan. Dari workshop kecil hingga pasar internasional, Pijakbumi menjadi contoh bagaimana idealisme, desain, dan kesadaran ekologis dapat berjalan beriringan. Semoga pengetahuan ini bermanfaat, ya!
Artificially Distressed Clothing: Pakaian “Sengaja Rusak” Keren atau Justru Aneh?
Kisah Pijakbumi, Menembus Pasar Dunia dengan Sepatu Ramah Lingkungan
Kenapa Kita Sering Suka Outfit Orang Lain, Tapi Nggak Berani Memakainya?
Distressed Fashion Makin Ekstrem, Ketika Kemeja Gosong Dianggap Sebagai Seni
Berhenti Menebak-nebak! Ini Cara Memilih Ukuran Bra yang Pas
90-an Bangkit Lagi: Deretan Tren Fashion yang Siap Menguasai 2026
Black Opium YSL, Rahasia Dibalik Aroma Sensual Favorit Banyak Orang
Private Label, Cara Cerdas Ciptakan Brand Eksklusifmu!
Bukan Rusak! Ini Fakta Tentang Patina Kulit yang Sesungguhnya
Wrong Shoe Theory: Ketika Sepatu “Salah” Justru Jadi Kunci Outfit Paling Menarik