Fashion selalu punya cara untuk
menghidupkan kembali masa lalu dengan makna yang berbeda. Kali ini, gaya
Victorian yang identik dengan gaun berlapis, korset ketat, renda, dan nuansa
gotik kembali menarik perhatian. Namun, kebangkitannya bukan sekadar nostalgia
terhadap busana klasik. Tren ini juga membawa semangat female rage, yaitu ekspresi kemarahan dan perlawanan perempuan
terhadap batasan sosial yang mengekang mereka.
Popularitasnya ikut terdorong oleh
film dan serial berlatar era Victoria, termasuk East of Eden (2026), Monster:
The Lizzie Borden Story (2026), dan film horor gotik Victorian Psycho (2026). Menariknya, estetika yang dahulu erat
dengan norma kesopanan kini justru menjadi medium untuk mengekspresikan
karakter perempuan yang berani, misterius, dan tidak mudah dikendalikan.
Mengenal
Ciri Khas Fashion Victorian
Era Victoria berlangsung pada
1837–1901, ketika Inggris berada di bawah pemerintahan Ratu Victoria. Pada
periode ini, pakaian menjadi salah satu penanda status sosial sekaligus
cerminan norma masyarakat.
Sumber: www.narryna.com.au
Busana perempuan umumnya memiliki
siluet yang terstruktur, dengan pinggang kecil, rok lebar, kerah tinggi, serta
detail dekoratif yang rumit. Korset digunakan untuk membentuk siluet tubuh,
sementara bustle dan rok berlapis
membantu menciptakan volume dramatis pada bagian belakang atau bawah gaun.
Material seperti sutra, beludru,
renda, dan linen turut membentuk karakter estetika Victorian. Perhiasan juga
memiliki peran penting, mulai dari liontin sentimental hingga mourning jewelry, yaitu perhiasan yang
dikenakan untuk mengenang orang yang telah meninggal.
Kombinasi siluet dramatis, material
bertekstur, dan detail yang kaya inilah yang membuat gaya Victorian tetap
menarik bagi dunia fashion modern.
Dari Simbol
Pengekangan Menjadi Ekspresi Perlawanan
Di balik keindahannya, busana
Victorian tidak bisa dilepaskan dari aturan sosial yang mengatur penampilan
perempuan. Korset, misalnya, sering dikaitkan dengan ideal kecantikan pada masa
itu, sementara pakaian berlapis dapat membatasi keleluasaan bergerak.
Dilara Findikoglu Fall/Winter 2024. Sumber: hypebeast.com
Kini, elemen-elemen tersebut
memperoleh interpretasi baru. Korset tidak lagi harus dipandang sebagai alat
untuk memenuhi standar tubuh tertentu, tetapi dapat menjadi bagian dari
ekspresi personal. Kerah tinggi, gaun panjang, dan sepatu bergaya gotik pun
bisa menciptakan penampilan yang kuat sekaligus dramatis.
Di sinilah konsep female rage menemukan relevansinya.
Istilah ini merujuk pada kemarahan perempuan terhadap ketidakadilan,
pembatasan, atau ekspektasi sosial yang membebani mereka. Dalam budaya populer,
emosi tersebut kerap ditampilkan melalui karakter perempuan yang kompleks,
berani, bahkan menolak peran feminin tradisional.
Meski demikian, fashion Victorian
modern tidak selalu memiliki pesan politik yang sama bagi setiap pemakainya.
Bagi sebagian orang, daya tariknya terletak pada estetika gotik, romantisme
gelap, atau kebebasan untuk tampil berbeda.
Runway
Modern Menghidupkan Kembali Estetika Victorian
Kembalinya gaya Victorian juga
terlihat dalam koleksi sejumlah label fashion, termasuk Khaite, Erdem, dan
McQueen. Para desainer mengadaptasi elemen historis melalui siluet dramatis,
detail rumit, serta permainan tekstur yang terasa relevan dengan selera masa
kini.
Erdem AW 2026. Sumber: erdem.com
Alih-alih menyalin pakaian abad
ke-19 secara utuh, interpretasi modernnya cenderung memadukan elemen klasik
dengan potongan kontemporer. Korset dapat dipadukan dengan celana modern,
sedangkan blus berkerah tinggi dan rok bervolume bisa tampil lebih kasual
ketika dikenakan bersama aksesori sederhana.
Pendekatan ini membuat gaya
Victorian tidak terbatas pada kostum film atau acara bertema sejarah.
Unsur-unsurnya dapat diterapkan dalam berbagai gaya berpakaian, dari romantis
hingga gotik yang lebih eksperimental.
Detail dan
Kualitas Material Kembali Jadi Sorotan
Salah satu daya tarik fashion
Victorian adalah perhatian terhadap detail. Renda, bordir, kancing dekoratif, lipit,
dan perhiasan dengan desain rumit memberikan karakter yang sulit dicapai
melalui pakaian yang terlalu sederhana atau diproduksi secara terburu-buru.
Erdem. Sumber: erdem.com
Ketertarikan terhadap craftsmanship ini juga terasa relevan
ketika industri fashion terus menghadapi kritik terhadap budaya konsumsi cepat
dan pakaian sekali pakai. Material berkualitas serta detail pengerjaan yang
baik menawarkan perspektif berbeda tentang nilai sebuah busana.
Namun, estetika vintage tidak otomatis menjadikan suatu
produk lebih berkelanjutan. Kualitas bahan, proses produksi, daya tahan, dan
frekuensi pemakaian tetap perlu diperhatikan.
Pada akhirnya, kebangkitan fashion
Victorian menunjukkan bahwa pakaian klasik bisa memiliki makna baru ketika
memasuki konteks sosial yang berbeda. Siluet yang dahulu erat dengan aturan dan
norma kini dapat menjadi sarana untuk mengekspresikan identitas, emosi, dan
kebebasan.
Fashion bukan hanya tentang
mengulang masa lalu, melainkan juga tentang menentukan makna apa yang ingin
kita bawa ke masa kini.
Ingin mengenal lebih jauh karakter
berbagai material dan perkembangan tren fashion? Kunjungi BahanKain.com untuk menemukan informasi
seputar tekstil, pengetahuan fashion, berita tren terkini, serta tips dan trik
yang bisa menjadi inspirasi dalam memahami dunia kain dan busana.
Baca juga: Dari Era Victoria ke Altar, Evolusi Bustle Pada Gaun Pernikahan
Mengenal Proses Coating Tekstil dan Jenis-jenisnya
Fashion Victorian Kembali Tren, Kali Ini Bawa Semangat Female Rage
5 Penyebab Utama Kain Mudah Bertiras atau Fraying
Jegging, Celana Mirip Jeans yang Nyaman Sekaligus Stylish
Bolehkah Menyimpan Kain Kafan di Rumah? Ini Fakta dan Caranya
Fashion dan Horor: Ketika Hal Menyeramkan Justru Jadi Inspirasi Desainer
Mengenal Bateeq, Brand Lokal yang Bikin Batik Makin Kekinian
Kain Mudah Luntur, Apakah Tanda Kualitasnya Buruk? Cek Faktanya, Yuk!
Fast Fashion Jual Baju Bekasnya Sendiri, Strategi Bisnis atau Tren Sustainability?
6 Tren Fashion yang Bikin Outfit Terlihat Mahal Tanpa Bikin Boncos