Langit mendung, gerimis turun,
dan matahari hampir tidak terlihat. Rasanya aman untuk melupakan urusan sinar
ultraviolet, kan? Padahal, yang terlihat terang atau redup hanyalah cahaya
tampak, sedangkan sinar ultraviolet (UV) tidak bisa dilihat dan tidak terasa
sebagai panas. Dari sinilah awal terciptanya payung anti-UV.
Dibuat dari jenis kain dengan
lapisan khusus yang menahan sinar UV, payung ini bisa memberi perlindungan
ekstra di saat terik, mendung, maupun hujan. Yuk, kenalan sama benda
multifungsi satu ini!
Payung anti-ultra violet (UV protection) adalah jenis payung yang dirancang untuk menyerap
atau memantulkan radiasi sinar ultraviolet (UVA dan UVB) dari matahari agar
tidak langsung mengenai kulit. Berbeda dari payung biasa yang didesain untuk
menahan air hujan, payung anti-UV dilengkapi teknologi lapisan khusus (UV
coating). Yaitu lapisan khusus yang memantulkan atau menyerap radiasi
ultra-violet.
Lapisan ini umumnya juga membuat
kain tahan air. Itu sebabnya payung anti-UV bisa dipakai saat terik maupun
hujan, dan sering dijuluki payung 2 in 1. Bahan sintetis seperti polyester pongee atau nilon taffeta lebih sering digunakan karena mudah dilapisi dan sifat dasarnya yang hidrofobik.
Saat cuaca mendung dan hujan,
awan memang menghalangi cahaya tampak, tapi tidak semua sinar UV ikut tertahan.
Awan tipis dan berlapis-lapis hanya menyaring sebagian radiasi UV, jadi masih
ada yang lolos sampai ke permukaan bumi. Kalau awan sedang pecah-pecah,
pantulan cahayanya malah bisa membuat paparan UV terasa lebih kuat.
Posisi Indonesia yang berada di
garis khatulistiwa juga menjadi alasan paparan UV tinggi sepanjang tahun. Jadi,
langit yang mendung bukan berarti kamu aman dari paparan sinar ultra violet.
Karena itu, payung anti-UV makin dilirik sebagai pelindung harian yang praktis.
Kemampuan payung anti-UV dalam menghalangi radiasi matahari tidak berasal
dari satu teknologi saja. Ada beberapa faktor yang saling mendukung untuk
menghasilkan perlindungan yang optimal.
Kerapatan
tenunan menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan kemampuan kain
menghalangi sinar UV. Pada kain dengan konstruksi rapat, celah di antara benang
lebih kecil sehingga radiasi matahari lebih sulit menembus permukaannya.
Payung anti-UV
umumnya menggunakan material yang memiliki susunan benang sangat rapat untuk
membatasi transmisi radiasi. Ketebalan kain dan jenis serat juga turut
memengaruhi efektivitasnya.
Teknologi
berikutnya adalah penggunaan UV protective coating di permukaan kain. Lapisan
ini berfungsi meningkatkan kemampuan material dalam menghambat radiasi
ultraviolet.
Beberapa
produk menggunakan lapisan polimer berupa polyurethane (PU) untuk memberi
perlindungan tambahan serta ketahanan kain terhadap air. Namun, perlu dipahami
bahwa tidak semua lapisan PU otomatis anti-UV. Karena efektivitasnya tetap
bergantung pada formula serta teknologi yang digunakan.
Pernah melihat
payung dengan bagian dalam berwarna hitam atau bagian luar berwarna perak?
Tampilan tersebut bukan sekadar variasi desain, melainkan dapat berkaitan
dengan teknologi perlindungan terhadap sinar matahari.
Beberapa payung anti-UV menggunakan lapisan reflektif berbahan dasar pigmen atau material tertentu untuk membantu memantulkan radiasi matahari. Lapisan berwarna perak, memantulkan sebagian radiasi matahari sebelum diserap oleh material payung. Sementara, lapisan hitam di bagian dalam membantu menyerap cahaya yang berhasil melewati lapisan luar.
Warna gelap cenderung menyerap lebih banyak UV daripada warna terang. Makanya banyak payung anti-UV punya warna gelap atau hitam di bagian dalam. Banyak payung anti-ultraviolet punya lapisan hitam atau abu-abu tua di sisi dalam. Fungsinya menyerap pantulan sinar dari tanah, sehingga tidak “memantul balik” ke wajahmu.
arena itu, produsen dapat mengombinasikan pemilihan serat, konstruksi kain, dan formulasi pewarna untuk menghasilkan material kanopi dengan perlindungan ultraviolet yang lebih baik.

Sumber: https://www.blibli.com/
Saat mencari payung anti-UV, kamu mungkin menemukan istilah UPF atau Ultraviolet
Protection Factor pada deskripsi produknya. Istilah ini merujuk pada nilai
yang menunjukkan kemampuan suatu material dalam menghalangi radiasi
ultraviolet. Semakin tinggi angkanya, semakin sedikit radiasi UV yang dapat
menembus material tersebut.
Sebagai gambaran, berikut interpretasi umum kategori UPF:
·
UPF 15–24: perlindungan cukup baik.
·
UPF 25–39: perlindungan sangat baik.
·
UPF 40–50+: Memberikan perlindungan yang sangat baik hingga maksimal.
Material dengan UPF 50+ hanya meneruskan kurang dari 1/50 atau sekitar 2%
radiasi UV dalam kondisi pengujian standar. Namun, nilainya tdak menunjukkan
seluruh aspek perlindungan payung. Hal itu karena angka tersebut berkitan
dengan transmisi radiasi ultraviolet bukan kemampuan material menghalangi
seluruh panas matahari.
Cara Mensiasati Tepi Kain Rajut Yang Menggulung Saat Dipotong
Menguak Teknologi Dibalik Payung Anti-Ultraviolet
AI Mengubah Industri Fashion, Tapi Siapa yang Memiliki Wajah Digital Para Model?
Pewarnaan Indigo vs Pewarna Sulfur pada Denim, Apa Bedanya?
Mengenal Proses Coating Tekstil dan Jenis-jenisnya
Fashion Victorian Kembali Tren, Kali Ini Bawa Semangat Female Rage
5 Penyebab Utama Kain Mudah Bertiras atau Fraying
Jegging, Celana Mirip Jeans yang Nyaman Sekaligus Stylish
Bolehkah Menyimpan Kain Kafan di Rumah? Ini Fakta dan Caranya
Fashion dan Horor: Ketika Hal Menyeramkan Justru Jadi Inspirasi Desainer