Industri fashion dunia kembali
kehilangan salah satu label yang dikenal berani mendobrak batas kreativitas.
Rumah mode asal Prancis, Coperni, resmi menghentikan operasional bisnisnya
setelah para pendirinya gagal mencapai kesepakatan dengan Tomorrow Ltd., distributor
sekaligus pemegang mayoritas sahamnya.
Keputusan tersebut diumumkan
langsung oleh pendiri Coperni, Sébastien Meyer dan Arnaud Vaillant, melalui
pernyataan pada 4 November 2026. Keduanya menyampaikan bahwa berbagai upaya
untuk mempertahankan keberlangsungan brand telah dilakukan selama beberapa
bulan terakhir. Namun, konflik bisnis yang tidak kunjung menemukan titik temu
membuat mereka harus mengambil keputusan sulit tersebut.
Penutupan ini sekaligus
mengakhiri perjalanan Coperni yang selama bertahun-tahun dikenal melalui
pendekatan desain futuristik, eksperimen material, serta peragaan busana yang
menggabungkan fashion dan teknologi.
Penutupan Coperni bukan terjadi secara tiba-tiba. Keputusan tersebut merupakan dampak dari konflik bisnis berkepanjangan antara kedua pendirinya dan Tomorrow Ltd.
Sumber: https://www.vogue.com/
Berikut serangkaian masalah yang
melatar belakangi keputusan ekstrem ini:
Sejak 2019, Coperni menjalin kemitraan dengan Tomorrow
Ltd. Perusahaan asal Inggris tersebut kemudian menjadi pemegang saham mayoritas
sekaligus distributor eksklusif Coperni sejak 2019. Kerja sama tersebut awalnya
mendukung ekspansi bisnis dan memperluas jangkauan pasar Coperni di industri
fashion internasional.
Hubungan keduanya mulai memburuk akibat persoalan pembayaran.
Coperni menyebut Tomorrow Ltd. tidak memenuhi sejumlah kewajiban finansial,
termasuk pembayaran bagian pendapatan dan penggantian biaya operasional yang
menjadi hak brand tersebut.
Tertundanya pembayaran berdampak pada arus kas
Coperni. Pasalnya, pembayaran dari Tomorrow menjadi salah satu sumber pendanaan
untuk mendukung aktivitas operasional, pengembangan koleksi, hingga berbagai
kebutuhan produksi dan pemasaran.
Konflik semakin rumit setelah Tomorrow Ltd. mengakhiri
perjanjian lisensi dengan Coperni. Kedua pihak pun gagal mencapai kesepakatan
menghadapi ketidakpastian mengenai kelanjutan kerja sama, distribusi, dan
pengelolaan brand.
Pada Juni 2026, Coperni bahkan mengajukan perlindungan
hukum kepada pengadilan niaga di Paris. Langkah ini ditempuh untuk memberikan
kesempatan kepada perusahaan agar tetap beroperasi selama proses penyelesaian
masalah keuangan dan pencarian solusi bisnis berlangsung.
Situasi kembali berubah setelah Tomorrow Ltd.
diakuisisi oleh Progetto 11, perusahaan induk yang berafiliasi dengan The Level
Group, pada Maret 2026. Para pendiri Coperni berupaya mendapatkan kembali
kendali atas brand yang mereka bangun. Namun, upaya negosiasi tersebut
lagi-lagi tidak menghasilkan kesepakatan yang memungkinkan bisnis kembali
berjalan.
Berbagai persoalan yang tidak kunjung terselesaikan
akhirnya membuat Sébastien Meyer dan Arnaud Vaillant memutuskan untuk
menghentikan operasional Coperni SAS. Pengumuman tersebut disampaikan pada 4
November 2026, lewat unggahan di Instagram resmi Coperni.
Sebelum menghadapi persoalan bisnis, Coperni dikenal sebagai salah satu rumah mode Prancis yang cukup berpengaruh dalam menghadirkan pendekatan baru terhadap desain busana.
Sumber: https://www.harpersbazaar.com/
Coperni didirikan pada 2013 oleh
Sébastien Meyer dan Arnaud Vaillant, yang sama-sama tertarik pada teknologi,
seni, dan fashion. Dalam perkembangannya. rand ini menjalin kemitraan dengan
Tomorrow Ltd., perusahaan asal Inggris yang bergerak di bidang distribusi dan
pengembangan brand fashion.
Nama Coperni makin dikenal luas
berkat koleksi yang mengusung siluet modern, desain minimalis, serta eksplorasi
material dan teknologi inovatif.
Salah satu momen paling ikonis merek
ini terjadi pada Paris Fashion Week Spring/Summer 2023. Tepatnya saat, model fashion
dunia, Bella Hadid tampil mengenakan gaun putih yang dibuat secara langsung di
atas tubuhnya dengan cara disemprot (spray-on dress).
Teknologi tersebut memanfaatkan
material cair yang disemprotkan ke tubuh model hingga membentuk lapisan kain.
Demonstrasi ini menjadi salah satu pertunjukan paling banyak diperbincangkan
dalam dunia fashion karena memperlihatkan kemungkinan baru dalam proses
pembentukan busana.
Eksperimen Coperni tidak berhenti
pada teknik pembuatan pakaian. Pada koleksi Fall/Winter 2023, rumah mode ini
juga menghadirkan robot anjing di atas runway sebagai bagian dari pertunjukan
yang menggabungkan teknologi dan fashion.
Selain peragaan busana yang
inovatif, Coperni juga menarik perhatian melalui pengembangan aksesori dengan
material tak biasa. Seperti halnya, tas berbahan dasar silica aerogel,
material padat berstruktur sangat berpori yang dikenal memiliki bobot amat
ringan. Sekitar 99 persen volumenya berupa udara, sedangkan sisanya merupakan
material silika berbentuk padatan.
Penggunaan aerogel dalam produk
fashion menjadi contoh bagaimana material yang sebelumnya lebih dikenal dalam
bidang sains dan teknologi dapat dieksplorasi untuk menghasilkan desain
aksesori yang tidak biasa.
Eksperimen tersebut
memperlihatkan karakter Coperni sebagai brand yang tidak hanya mengikuti tren,
tetapi juga berupaya memperluas kemungkinan dalam desain dan pengembangan
produk fashion.
Tiba-tiba Umumkan 'Tutup,' Ternyata Ini yang Terjadi di Rumah Mode Coperni!
Jangan Asal! Ini Cara Menghilangkan Noda Jelaga di Pakaian dengan Benar
Met Gala 2027 Umumkan Tema Baru, Angkat Keistimewaan Fashion Sehari-hari
5 Trik Padupadan Sweater ala Parisian Style, Simpel tetapi Tetap Elegan!
Mengapa Tren Fashion Era 60-an dan 70-an Selalu Kembali?
Bukan Sekadar Kode Produksi, Ini Pentingnya Lot dalam Industri Tekstil
Fake Pockets: Kenapa Banyak Baju Punya Kantong, tapi Nggak Bisa Dipakai?
Fashion Plus Size dan Body Positivity: Saat Semua Bentuk Tubuh Punya Gaya
Bra Jadi Pengganti T-Shirt? Tren Underwear as Outerwear Kembali Merajai Runway
Dari NY, LA hingga B: Kisah Logo Baseball yang Mendunia Lewat Brand MLB