Furoshiki merupakan jenis kain pembungkus tradisional Jepang yang digunakan untuk membungkus kado atau untuk membawa barang. Kain ini biasanya berbentuk segiempat dan memiliki berbagai macam motif yang dimiliki.
Menurut sejarah, adanya furoshiki di Jepang bermula saat periode kekuasaan Nara sekitar 710 sebelum Masehi. Pada saat itu furoshiki disebut dengan tsutsumi dan pada zaman kekuasaan Heian disebut dengan Koromo-zutsumi. Dahulu, fungsi utama dari furoshiki ini digunakan untuk membungkus barang-barang penting dan harta benda yang ditemukan di kuil-kuil Jepang
Pada zaman Edo, furoshiki banyak dimanfaatkan untuk membawa handuk dan pakaian, karena pada saat itu tempat pemandian umum sedang populer. Selain itu, furoshiki juga dipakai untuk membungkus baju upacara pendeta dan juga membungkus senjata atau peralatan istana yang berharga. Sehingga fungsi utama furoshiki tidak hanya untuk membungkus saja, namun juga untuk melindungi benda yang ada didalamnya.
Seiring perkembangan jaman, furoshiki dapat digunakan dalam berbagai macam kebutuhan dalam kehidupan sehari-hari. Furoshiki ini digunakan sebagai pengganti kantong plastik karena memiliki sifat yang ramah lingkungan dan dapat digunakan secara terus-menerus. Seni ini juga begitu popular karena sangat praktis.
Karena furoshiki merupakan kain pembungkus yang cantik, bahan kain yang digunakan pun bermacam-macam jenisnya seperti bahan katun, nylon, rayon, chiffon, dan sutra. Bahan yang digunakan ini biasanya yang bersifat lentur dan tipis, agar mudah untuk di kreasikan dan di simpul. Dalam membuat kain furoshiki, ukuran kain yang dibuat juga harus disesuaikan dengan kebutuhan.
Kain furoshiki memiliki motif dan ragam hias yang bermacam-macam seperti motif burung bangau, motif kipas, motif ombak dan motif pohon cemara. Berbagai macam motif ini dipercaya oleh orang Jepang yang dapat memberikah keberkahan dan kebahagiaan bagi penggunanya. Desain motif tersebut biasanya di padu-padankan dengan pewarnaan shibori atau tie dye dan ditambahkan sulaman sashiko yang terkenal di Negara Jepang.
Untuk membuat furoshiki ini yang perlu diperhatikan adalah pemilihan kain yang dapat disimpulkan dengan mudah, jika untuk membungkus benda yang memiliki massa yang cukup berat, sebaiknya menggunakan kain yang memiliki karakteristik yang kuat dan tebal. Untuk memberikan sentuhan yang estetik gunakan kain yang memiliki motif dan corak yang unik.
Dalam membungkus dengan furoshiki ini juga memiliki beberapa variasi yang bisa diterapkan, antara lain seperti:
Entou Tsutsumi
Model ini biasa diterapkan untuk membungkus benda yang berbentuk panjang, seperti payung, botol minum, dan benda panjang lainnya.
Bin Tsutsumi
Teknik ini sama dengan entou tsutsumi, yaitu diterapkan untuk membungkus benda-benda yang berbentuk lonjong dan panjang.
Suika Tsutsumi
Model suika tsutsumi ini digunakan untuk membawa benda berbentuk bulat seperti untuk membungkus buah melon, semangka, atau sejenisnya.
Yotsu Musubi
Forushiki model yotsu musubi ini yang paling pas digunakan untuk membungkus benda berbentuk persegi, seperti untuk membungkus hantaran atau bingkisan menjadi lebih rapi dan ringkas.
Sneakers untuk Lari, Aman atau Berisiko? Ini Faktanya
Mengenal Aigner, Simbol Kemewahan Abadi Lintas Generasi
Dari Sandal Jepit sampai Luxury Sandals: Kenapa Sandal Jadi Fashion Item Paling Diremehkan?
Kain dalam Seni Kontemporer: Lebih dari Sekadar Bahan Pakaian
Sold Out di Mana-Mana, Koleksi Jung Kook x Calvin Klein Kini Hadir di Jakarta
Panduan Memilih Kain Upholstery Untuk Sofa dan Furniture Outdoor
Dulu Cuma Dipakai Bangsawan, Sekarang Jadi Fashion Mahal: Sejarah Mengejutkan Baju Tidur dan Loungewear
Benarkah Outfit Bisa Mempengaruhi Mood? Ini Jawabannya Menurut Psikologi
Cotton Combed vs Cotton Bamboo, Apa Sih Bedanya?
Bukan Sekadar Olahraga: Kenapa Outfit Gym Sekarang Jadi Simbol Status Sosial?