Menjalankan sebuah bisnis tidak
melulu soal persaingan meraup keuntungan saja. Tak sedikit businessman yang mencoba
mengganti haluan dengan tetap mempertimbangkan konsep hidup keberlanjutan.
Lebih-lebih bisnis fashion yang menjadi
penyumbang limbah terbesar dari seluruh dunia. Alasan tersebut memotivasi para
usahawan untuk mengedepankan konsep zero waste dalam bisnisnya.
Salah satu UMKM yang mengusung konsep
sustainable life n’ sustainable fashion adalah Toko Didiyo. Bisnis yang dirintis
oleh Indi lima tahun lalu ini awalnya berfokus menggunakan bahan baku lokal. Indi
juga menilai kain produksi Indonesia jauh lebih berkualitas dibandingkan negara
lain meskipun harganya tak bisa dibilang murah.
Seiring berjalannya waktu, Toko Didiyo menggunakan deadstock material dan kain perca lalu dihias dengan bordir manual. Deadstok material adalah kain sisa pabrik tekstil yang sudah tidak terpakai seperti sisa benang atau kain.
Tak heran jika setiap produk yang
berhasil terjual habis dipastikan menjadi edisi terbatas dan tidak mungkin bisa
distok ulang. Jadi, jangan harap kamu bisa menemukan produk serupa di edisi
berikutnya.
Selain itu, kain sisa produksi di
Toko Didiyo juga akan kembali diproses menjadi produk baru. Dengan alur proses
yang sedemikian kompleks, Indi menyakini bisnisnya benar-benar zero waste.
Hampir semua koleksi produk di Toko
Didiyo menggunakan eleman dari kain brokat. Karena memiliki semangat yang sama
dengan nenek moyang bangsa Indonesia yang sehari-hari menggunakan kebaya. Bahkan
aksen bordir di setiap produknya juga dibuat secara manual oleh perajin di Bali
dan Cirebon.
Lebih lanjut, Indi sang pemilik Toko
Didiyo juga menjelaskan bahwa pasokan deadstock fabric diperoleh melalui
pabrik, toko, atau stok lama dari perajin Jakarta dan Bali yang sudah tidak
dipakai lagi.
Saat ini, produk Toko Didiyo didominasi kemeja dengan model standar yang notabene bersifat unisex. Harapannya, semua gender dapat menggunakan koleksi kemeja dari Toko Didiyo. Produk limited edition dari toko ini bisa kamu miliki dengan harga mulai Rp 300.000 hingga Rp 1 juta lebih.
Dengan rentang harga tersebut Toko
Didiyo dapat menjual 200 sampai 300 lembar produk secara online dalam kurun
waktu satu bulan. Sepanjang karier bisnisnya, Indi bisa menyimpulkan bahwa anak
muda yang membeli koleksi Toko Didiyo menginginkan produk fashion yang sesuai
gayanya.
Tapi semua itu tetap kembali ke
personalisasi mereka. Namun jika dilihat dari sisi model, kemeja dengan detail bordir
dan kain perca menjadi item paling digemari di Toko Didiyo. Selama ini Toko
Didiyo hanya melayani pembelian melalui platform ecommerce seperti Tokopedia.