Kalau
kamu perhatiin, hampir setiap selebriti besar ujung-ujungnya punya bisnis di
bidang fashion. Mulai dari lini pakaian, sepatu, shapewear, sampai aksesoris. Jarang banget kita lihat artis
tiba-tiba bikin perusahaan teknologi canggih atau perusahaan makanan skala
besar (dan sukses lama).
Pertanyaannya:
kenapa fashion? Kenapa bukan
industri lain seperti food atau tech?
Jawabannya
ternyata bukan sekadar ikut-ikutan tren. Ada alasan strategis dan psikologis di
baliknya.
Fashion Itu
Soal Identitas, Bukan Sekadar Produk
Seperti
yang sudah kita ketahui, fashion itu bukan cuma soal kain atau desain. Fashion
adalah cara orang mengekspresikan diri. Ketika seseorang membeli produk dari Rihanna atau shapewear dari Kim
Kardashian, mereka sebenarnya sedang membeli lebih dari sekadar barang.
Mereka membeli citra, rasa percaya diri, dan sedikit “energi” dari sosok
idolanya.
Bandingkan
dengan makanan. Makanan itu fungsional — rasanya enak atau tidak. Teknologi
juga fungsional — cepat atau lambat, canggih atau tidak. Tidak seperti fashion yang
menyentuh identitas. Dan selebriti pada dasarnya adalah brand identitas.
Selebriti
Sudah Hidup di Dunia Visual
Karier
selebriti sangat bergantung pada visual. Mereka sudah pasti sering terlibat
atau dikaitkan dengan public event
atau media seperti: red carpet, outfit bandara, street
style, pemotretan editorial, atau Instagram. Mereka sudah terbiasa
“menjual” tampilan mereka setiap hari. Jadi ketika mereka meluncurkan brand
fashion, hal itu terasa natural.
Berbeda
kalau tiba-tiba seorang aktor meluncurkan perusahaan seperti Apple. Publik akan
bertanya: “memang dia punya latar belakang engineering?” Beda halnya dengan
ranah fashion yang tidak menuntut kredibilitas teknis yang tinggi. Yang
dibutuhkan adalah taste, image, dan positioning.
Fashion
Tidak Butuh Riset Teknologi yang Rumit
Untuk
membangun perusahaan teknologi, kamu butuh:
· Tim engineer
· Riset dan pengembangan (R&D)
· Hak paten
· Modal besar
· Waktu bertahun-tahun
Sedangkan
fashion jauh lebih fleksibel. Banyak brand selebriti yang membangun brand
dengan bekerja sama dengan:
· Produsen pihak ketiga
· Desainer profesional
· Tim manufaktur
· Model private label
Selebriti
cukup menjadi creative director dan
wajah brand. Yang akan membuat barrier to
entry jauh lebih rendah dibanding industri teknologi.
Kecepatan
Industri Fashion Sangat Cocok dengan Budaya Selebriti
Fashion
bergerak cepat. Ada sistem drop, seasonal
collection, limited edition. Dalam dunia selebriti yang hidup dari momentum
dan perhatian publik, kecepatan sangat penting. Fashion memungkinkan monetisasi
cepat dari hype yang sedang panas. Tidak
seperti perusahanan teknologi yang bisa butuh 3–5 tahun sebelum produk siap
rilis.
Margin
Keuntungan dan Nilai Emosional
Dengan
fashion, orang tidak hanya membeli fungsi. Mereka membeli status dan cerita. Misalnya,
sepatu dari Michael Jordan bukan
hanya sepatu basket. Ia menjadi simbol budaya, nostalgia, dan aspirasi. Selain itu,
produk fashion juga punya ruang markup yang besar karena harga tidak hanya
ditentukan oleh bahan, tapi oleh brand
equity.
Bedanya
fashion dengan teknologi dan food
industry: dalam makanan, konsumen lebih sensitif harga. Dalam teknologi,
konsumen membandingkan spesifikasi. Sedangkan fashion memberi ruang lebih luas
untuk menjual “cerita”.
Lalu Kenapa
Banyak Brand Fashion Selebriti Justru Gagal?
Nah,
ini bagian yang sering luput dibahas.
Secara
logika, fashion memang jalur paling masuk akal untuk selebriti. Tapi masuk akal
tidak selalu berarti otomatis sukses. Ada beberapa alasan kenapa banyak brand
fashion selebriti tidak bertahan lama:
1. Terlalu Mengandalkan Nama Besar
Di
awal, fans mungkin membeli karena penasaran. Tapi pembelian kedua dan ketiga
ditentukan oleh kualitas produk. Kalau desain biasa saja, bahan standar, dan
harganya tinggi hanya karena nama, konsumen akan cepat sadar.
Hype
bisa menjual first drop. Tapi kualitaslah
yang akan menjaga brand tetap hidup.
2. Tidak Punya Diferensiasi yang Jelas
Pasar
fashion sangatlah padat. Brand yang berhasil biasanya punya positioning yang
spesifik:
· Segmentasi tubuh tertentu
· Fokus inklusivitas
· Arah estetika yang konsisten
· Nilai atau cerita unik
Kalau
brand hanya terasa seperti “merchandise mahal”, tanpa konsep yang kuat, maupun
nilai-nilai tersebut, brand hanya jadi noise dan mungkin akan tenggelam.
3. Kurangnya Keterlibatan Nyata dari
Selebritinya
Publik
sekarang ini jauh lebih kritis. Kalau mereka melihat bahwa selebriti hanya jadi
wajah tanpa terlibat dalam visi kreatif, mereka akan menilai brand terasa tidak
autentik. Selain itu, konsumen masa kini juga bisa membedakan mana yang
benar-benar passion project, mana
yang sekadar lisensi nama.
4. Salah Membaca Momentum
Fashion
sangat bergantung pada timing. Karena
tren berubah begitu cepat. Hype bisa
hilang dalam hitungan bulan. Kalau brand tidak bisa adaptif, ia bisa tertinggal
sebelum sempat berkembang.
Kenapa Tidak
Banyak yang Pilih Makanan?
Industri
makanan punya tantangan berbeda seperti:
· Distribusi rumit
· Regulasi ketat
· Expired date
· Supply chain kompleks
Brand
makanan butuh konsistensi rasa dan logistik yang presisi. Tidak cukup hanya
mengandalkan nama besar. Selain itu, makanan kurang bisa dijadikan media yang “visual
aspirational” dibanding fashion di era Instagram.
Kesimpulannya:
Fashion Ada di Titik Temu Antara Image dan Bisnis
Fashion
adalah kombinasi ideal antara: identitas,
visual culture, kecepatan tren, emotional branding, dan skalabilitas
bisnis. Bagi selebriti yang sudah menjadi simbol gaya hidup, fashion adalah
perpanjangan paling masuk akal dari personal
brand mereka.
Namun,
meski logikanya kuat, keberhasilan tetap bergantung pada kualitas,
diferensiasi, dan keaslian. Tanpa itu, brand fashion selebriti hanya akan
menjadi tren sesaat.
Dan
di industri yang bergerak secepat fashion, tren sesaat jarang bertahan lama.
Perbedaan Motel dan Hotel, Jangan Salah Booking, ya!
Kenapa Hampir Semua Selebriti Punya Brand Fashion? Kenapa Bukan Makanan atau Teknologi?
Jangan Abaikan! Ini 5 Pertanda Sudah Waktunya Beli Celana Dalam Baru
Artificially Distressed Clothing: Pakaian “Sengaja Rusak” Keren atau Justru Aneh?
Kisah Pijakbumi, Menembus Pasar Dunia dengan Sepatu Ramah Lingkungan
Kenapa Kita Sering Suka Outfit Orang Lain, Tapi Nggak Berani Memakainya?
Distressed Fashion Makin Ekstrem, Ketika Kemeja Gosong Dianggap Sebagai Seni
Berhenti Menebak-nebak! Ini Cara Memilih Ukuran Bra yang Pas
90-an Bangkit Lagi: Deretan Tren Fashion yang Siap Menguasai 2026
Black Opium YSL, Rahasia Dibalik Aroma Sensual Favorit Banyak Orang