Thrifting bukan lagi sekadar
tren, melainkan gaya belanja yang melekat pada banyak orang. Harga lebih ramah,
pilihan unik, dan nuansa berburu “harta karun” membuat aktivitas ini terasa
menyenangkan. Namun, karena statusnya adalah ‘bekas’, kamu harus mempertimbangkan
banyak hal, terutama faktor higienitas.
Tidak semua jenis pakaian juga aman dan layak dibeli dalam kondisi bispak
alias habis pakai. Bahkan beberapa kategori berisiko menyimpan bakteri,
jamur, serta kehilangan fungsi utamanya.
Kenapa Beberapa Pakaian sebaiknya
tidak dibeli secara bekas
Pakaian adalah benda yang
bersentuhan langsung dengan kulit. Keringat, sel kulit mati, minyak tubuh,
bahkan mikroorganisme dapat tertinggal di serat kain. Makin tinggi
intensitasnya, makin besar juga risikonya. Itulah kenapa pakaian yang bersentuhan
langsung dengan kulit pada area lembab (ketiak, punggung, dan area intim), memiliki
risiko transfer mikrobiota yang jauh lebih tinggi.
Bakteri seperti Staphylococcus aureus atau jamur kulit dapat
bertahan di serat kain dalam waktu yang lama. Walaupun dicuci, tidak semua bahan
dan konstruksi pakaian bisa kembali higienis. Bakteri dan spora jamur mungkin bisa
hilang saat kering, namun akan muncul kembali begitu kain tersebut terkena
panas tubuh atau keringat. Risiko iritasi kulit, alergi, hingga infeksi jamur pun
bisa meningkat jika kamu kurang selektif.
Jual beli pakaian bekas sering kali dianggap hanya masalah "cuci lalu bersih." Padahal ahli kesehatan kulit (dermatologi) dan pakar tekstil menekankan bahwa keamanan pakaian preloved maupun thrifting tidak bisa disamaratakan. Bahkan beberapa dari mereka dianggap ‘berbahaya’ dan tidak disarankan untuk dibeli secara bekas.

Berikut 8 barang yang pantang
kamu beli dalam kondisi bekas (preloved
atau thrifting):
Ini adalah "pantangan" pertama, karena
pakaian dalam bersentuhan langsung dengan area paling lembab dan sensitif di
tubuh. Meski terlihat bersih, mikroorganisme bisa tetap bertahan di serat kain.
Selain itu, elastisitas pakaian dalam bekas biasanya sudah menurun, membuatnya
kurang nyaman dan tidak lagi menopang dengan baik.
Jadi, jangan pernah membeli celana dalam, bra, korset,
atau shapewear dari koleksi baju bekas, ya.
Sama halnya dengan pakaian dalam, baju renang memiliki
tingkat kontak yang sangat intim dengan tubuh.
Bahan elastane atau spandek pada baju renang
sangat rentan rusak akibat paparan kaporit dan sinar matahari. Membeli baju
renang bekas sering kali berakhir mengecewakan karena elastisitasnya yang sudah
"mati" atau kendur.
Pakaian olahraga dirancang khusus dengan teknologi moisture-wicking untuk menyerap keringat dalam jumlah besar. Bahan tersebut juga cenderung memerangkap bakteri penyebab bau badan yang bersifat reaktif saat kain tersebut terpapar panas tubuh dan keringat.
Tanpa pencucian higienis, baju olahraga bisa
menyimpan residu deterjen atau keringat.
Kulit bayi jauh lebih tipis dan sensitif dibandingkan
orang dewasa, sehingga sangat rentan terhadap sisa jamur atau residu detergen
keras dari pemilik sebelumnya. Selain itu, banyak baju tidur anak yang memiliki
lapisan pelindung tahan api (flame retardant).
Lapisan tersebut bisa luntur seiring frekuensi
pencucian, sehingga standar keamanan pada baju bekas tersebut kemungkinan besar
sudah hilang.
Selain ketiak, punggung dan area intim, telapak kaki juga termasuk salah satu tempat favorit jamur kulit (tinea pedis atau kutu air). Dan kaos kaki adalah sarang bagi spora jamur yang sangat tangguh dan sulit mati hanya dengan pencucian biasa, seperti tinea pedis (kutu air).
Mengingat harga barunya yang terjangkau, risiko infeksi kulit yang
ditimbulkan tidak sebanding dengan penghematan yang kamu dapatkan dari membeli stocking atau kaos kaki bekas.
Banyak orang tergiur dengan sepatu branded bekas. Tapi tak seperti
sneakers kasual, sepatu lari memiliki struktur internal yang didesain untuk
meredam benturan. Dan insole sepatu lari bekas seringkali "tercetak"
mengikuti anatomi kaki pemilik sebelumnya.
Bantalan (cushioning)
pada sepatu olahraga juga punya batas masa pakai. Memakai sepatu yang sudah aus
dapat mengubah postur tubuh, memicu nyeri sendi, hingga cedera serius.
Material mewah seperti kulit, sutra, dan kain halus lainnya sangat sulit dibersihkan
secara menyeluruh tanpa merusak seratnya.
Penelitian menunjukkan beberapa pakaian bekas bisa membawa
tungau kudis (scabies) atau parasit yang hanya mati dengan pencucian suhu
tinggi. Karena bahan sensitif ini akan hancur jika "direbus" atau
dicuci ekstrem, risiko kuman yang tertinggal menjadi sangat tinggi.
Itu dia 7 item fashion yang
sebaiknya tidak kamu beli dari pasar barang bekas alias thrifting. Intinya, makin
dekat pakaian tersebut dengan kulit dan fungsi keselamatan, makin ga baik juga
kalau kamu membelinya dalam kondisi second.
Tetap selektif dan jadilah pembeli cerdas saat berburu harta karun fashion ini,
ya.
Jangan Asal Murah! Ini 7 Pakaian Sebaiknya Tidak Dibeli Bekas
Mantel Leopard: Statement yang Ternyata Bisa Dipakai ke Mana Saja
Listrik Statis Bikin Pakaian Nggak Nyaman? Ini 8 Cara Ampuh untuk Mengatasinya
Maternity Clothes vs Baju Biasa: Apa Bedanya dan Perlukah Membelinya?
Perbedaan Motel dan Hotel, Jangan Salah Booking, ya!
Kenapa Hampir Semua Selebriti Punya Brand Fashion? Kenapa Bukan Makanan atau Teknologi?
Jangan Abaikan! Ini 5 Pertanda Sudah Waktunya Beli Celana Dalam Baru
Artificially Distressed Clothing: Pakaian “Sengaja Rusak” Keren atau Justru Aneh?
Kisah Pijakbumi, Menembus Pasar Dunia dengan Sepatu Ramah Lingkungan
Kenapa Kita Sering Suka Outfit Orang Lain, Tapi Nggak Berani Memakainya?