Cover source: finance.yahoo.com
Artificial intelligence (AI) semakin sulit dipisahkan dari industri fashion dan beauty. Kalau sebelumnya AI lebih sering dianggap sebagai teknologi eksperimental atau sekadar gimmick, kini penggunaannya mulai bergeser ke sesuatu yang jauh lebih serius: membantu konsumen memilih produk, menciptakan pengalaman belanja yang lebih personal, hingga membuka peluang bisnis baru.
Perkembangan tersebut menjadi salah satu pembahasan utama dalam Global Beauty & Fashion Tech Forum ke-8 yang digelar Perfect Corp. pada 28 September 2026 di Fashion Institute of Technology (FIT), New York. Forum ini mempertemukan pelaku industri beauty, fashion, retail, teknologi, entrepreneur, investor, hingga mahasiswa untuk membahas bagaimana teknologi dapat menghasilkan dampak nyata bagi bisnis.
Sumber: swa.co.id
Dari
Eksperimen Menjadi Strategi Bisnis
Salah satu pesan terbesar dari forum tersebut adalah perubahan cara industri memandang AI. Teknologi ini tidak lagi cukup hanya terlihat canggih, tetapi harus mampu menyelesaikan masalah konsumen dan memberikan manfaat yang terukur bagi perusahaan.
Pengaplikasian teknologi ini dalam fashion dan beauty, bentuknya bisa bermacam-macam. AI dapat membantu konsumen
menemukan produk yang sesuai, memberikan rekomendasi yang lebih personal,
hingga memungkinkan seseorang melihat bagaimana pakaian, makeup, aksesori, atau gaya rambut tertentu akan terlihat sebelum
membelinya.
Perfect Corp. sendiri menyediakan
berbagai teknologi berbasis AI, termasuk virtual try-on untuk makeup, fashion, perhiasan, dan aksesori, serta teknologi untuk
analisis kulit dan rambut.
Konsumen
Mulai Mengandalkan AI untuk Beauty
Sumber: www.perfectcorp.com
Penggunaan AI dalam beauty juga menunjukkan perubahan
perilaku konsumen. Menurut data yang dipaparkan dalam forum, 70% konsumen beauty sudah menggunakan atau tertarik
menggunakan AI untuk membantu rutinitas kecantikan mereka.
Artinya, AI bukan hanya berpotensi
membantu konsumen menentukan produk apa yang harus dibeli. Teknologi ini juga
dapat memberikan panduan yang lebih personal dan membantu seseorang mendapatkan
manfaat lebih besar dari produk yang sudah mereka miliki.
Bayangkan ketika seseorang bisa
mendapatkan rekomendasi skincare
berdasarkan kondisi kulitnya, mencoba warna makeup secara virtual, atau melihat
simulasi gaya rambut tanpa harus benar-benar mengubah penampilannya. Pengalaman
seperti ini membuat proses mencari produk terasa lebih interaktif sekaligus
personal.
Belanja
Fashion Bisa Jadi Lebih “Pintar”
Perubahan lainnya terjadi dalam
dunia retail. AI mulai digunakan untuk membuat pengalaman belanja tidak hanya
berdasarkan pencarian kata kunci, tetapi berdasarkan konteks dan kebutuhan
konsumen.
Misalnya, daripada hanya mengetik
“dress hitam”, konsumen dapat menjelaskan kebutuhan dengan bahasa sehari-hari:
ingin dress hitam untuk pesta malam, model yang elegan, tidak terlalu ketat,
dan cocok dipadukan dengan sepatu tertentu.
AI kemudian dapat membantu memahami
maksud tersebut dan menyaring pilihan yang lebih relevan.
Konsep inilah yang mulai dikenal
sebagai intelligent commerce, yaitu pengalaman belanja yang memanfaatkan
teknologi untuk membuat proses pencarian, rekomendasi, dan evaluasi produk
menjadi lebih cerdas dan personal.
Virtual Try-On Makin Dekat dengan Fashion
Salah satu teknologi yang paling
mudah dilihat penerapannya adalah virtual
try-on. Teknologi ini memungkinkan konsumen memvisualisasikan produk pada
dirinya secara digital sebelum mengambil keputusan.
Sumber: www.trendhunter.com
Menariknya, forum tahun ini juga
memperlihatkan bagaimana generative AI
dapat digunakan untuk fashion discovery.
Desain dari lulusan dan alumni FIT ditampilkan secara langsung, kemudian
divisualisasikan secara digital menggunakan teknologi Generative AI Fashion Virtual Try-On dari Perfect Corp.
Dengan begitu, AI tidak hanya
berperan sebagai alat untuk menjual produk yang sudah ada. Teknologi ini juga
dapat menjadi media untuk memperkenalkan desain dan membantu konsumen
membayangkan kemungkinan gaya yang sebelumnya sulit divisualisasikan.
Teknologi
Semakin Mudah Diakses
Perkembangan AI juga tidak hanya
menguntungkan perusahaan besar. Salah satu pembahasan dalam forum adalah
bagaimana API (Application Programming
Interface) dan AI agents membuat teknologi canggih semakin mudah
diintegrasikan ke berbagai platform.
Dengan API, perusahaan tidak harus
membangun seluruh sistem AI dari nol. Teknologi seperti analisis kulit, virtual makeup try-on, virtual fashion try-on, hingga
pengolahan gambar dapat diintegrasikan ke website,
aplikasi, maupun platform e-commerce.
Hal ini bisa membuka peluang bagi brand yang lebih kecil untuk menciptakan
pengalaman digital yang sebelumnya mungkin membutuhkan sumber daya teknologi
sangat besar.
Jadi,
Seperti Apa Masa Depan Fashion dan Beauty?
Melihat perkembangan tersebut, masa
depan fashion dan beauty kemungkinan bukan sekadar tentang
AI yang semakin canggih, melainkan bagaimana teknologi tersebut digunakan
secara tepat.
Konsumen menginginkan pengalaman
yang cepat, personal, dan relevan. Sementara itu, brand membutuhkan cara baru untuk memahami pelanggan,
memperkenalkan produk, serta meningkatkan pengalaman belanja. Di sini lah peran
AI akan sangat berpotensi mempertemukan keduanya.
Terlepas dari semua itu tadi, satu
hal menjadi semakin jelas: AI di industri fashion
dan beauty sudah bergerak melewati
tahap “sekadar coba-coba”. Teknologi ini perlahan menjadi bagian dari cara
produk ditemukan, dicoba, dipilih, dan bahkan dikembangkan.
Dengan perkembangan virtual try-on, personalized recommendation, intelligent
commerce, generative AI, hingga AI-powered beauty analysis, batas antara
teknologi, fashion, beauty, dan pengalaman konsumen pun
semakin tipis.
Baca juga: Dampak Penerapan Artificial Intellegence (AI) Dalam Berbagai Bidang Kehidupan
Godet, Potongan Kecil yang Bikin Busana Mengembang Dramatis
AI Bukan Lagi Gimmick, Begini Cara Teknologi Mengubah Fashion dan Beauty
Dari Fur ke Wool: Ketika Aktivisme Mengubah Fashion
Batik Berlayar Meriahkan Perayaan Hari Batik Nasional 2026 di Surabaya
Undone Fashion: Saat Gaya “Berantakan” Justru Jadi Tren para Selebritas di MTV VMAs 2026
Apa Itu Girdle? Kenali Fungsi dan Perbedaannya dengan Korset
9 Cara Merawat Pashmina Viscose yang Benar
Maximalist vs Avant-Garde: Kenapa Fashion yang “Gila” Sering Bikin Bingung?
Kenapa Motif Loreng Disebut Camo? Ini Asal-usulnya!
Atelier vs Butik, Apa Sih Bedanya?